Selasa, 25 Januari 2011

PESAN MORAL DALAM FABEL KERA PADA KUMPULAN DONGENG RAJA KERA YANG BUDIMAN

oleh Ahmad Marzuqi

PENDAHULUAN
Degradasi moral merupakan salah satu masalah sosial yang kerap terjadi di masyarakat. Tingginya tingkat kriminalitas dan semakin maraknya kasus korupsi mengindikasikan hal itu. Hal ini disebabkan, antara lain oleh proses sosialisasi yang kurang sempurna, pengaruh budaya barat, kurangnya pengawasan dan perhatian orang tua, serta tingkat pemahaman mengenai nilai moral yang rendah.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, hal utama yang perlu dilakukan adalah menggalakkan pendidikan tentang moral. Idealnya, pendidikan tentang moral diberikan sedini mungkin mengingat usia-usia kanak-kanak adalah masa yang paling tepat dan efektif dalam menginternalisasi nilai karena pada masa itulah otak mengalami tumbuh kembang yang paling cepat dan kritis. Selain itu, dibutuhkan peran serta orang tua dan keluarga. Tentunya, pendidikan tentang moral harus dibalut dengan suasana dan didukung dengan media yang menarik agar yang hendak dididik tertarik dan menimbulkan kesan yang dalam.

PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL SEJAK DINI
            Pada saat lahir, anak tidak memiliki hati nurani atau skala sikap. Akibatnya,  tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau nonmoral (Hurlock, 1978:75). Dalam perkembangannya, anak tidak dapat mempelajari sendiri nilai moral yang berlaku dalam masyarakat. Karena itu, diperlukan pengajaran mengenai moral kepada anak.
            Mengingat kembali teori tentang tabula rasa, seorang anak yang terlahir ibarat selembar kertas putih dan kemudian tugas lingkungan untuk menggoreskan tinta di atasnya, maka menjadi tugas lingkungan, dalam hal ini lingkungan keluarga dan khususnya orang tua untuk membentuk moral pada anak. Pembelajaran moral pada masa kanak-kanak penting dilakukan karena pada masa itu mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa sebagai yang maha kuasa dan akan mematuhi peraturan dan perkataan yang diberikan pada mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya.

PESAN MORAL DALAM KARYA SASTRA
Sebelum berbicara lebih jauh, terlebih dahulu kita mendeskripsikan apa itu moral. Kata Moral berasal dari kata latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat.  Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan moral sebagai (ajaran tentang) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb.
Sebuah karya fiksi biasanya membawa pesan moral, baik tersirat maupun tersurat yang dapat disimpulkan oleh pembacanya. Sebuah karya fiksi senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia (Nurgiyantoro, 2007:321).
 Moral dalam sebuah karya , menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2007:321) biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Dalam sebuah karya sastra terdapat sebuah petunjuk yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan. Sastra juga bersifat praktis karena pesan yang disampaikannya itu dapat ditemukan dalam kehidupan yang sesungguhnya.
Sebuah cerita mengandung nilai moral yang dapat dilihat dari sikap dan perilaku tokoh-tokohnya. Melalui kisah dan sikap serta perilaku tokoh itu pembaca diharapkan dapat menarik pesan yang ingin disampaikan.
Dalam sebuah karya fiksi, pesan moral dapat disampaikan melalui dua bentuk, yakni secara langsung dan tidak langsung. Bentuk penyampaian pesan moral secara langsung terjadi jika pesan moral yang ingin disampaikan disebutkan dan diajarkan secara eksplisit.  Jika dilihat dari keefektifan penyampaian pesan, teknik ini sangat efektif dan komunikatif,  pembaca dengan sangat mudah memahami apa yang dimaksudkan. Tapi di sisi lain, bentuk ini terkesan menggurui pembaca. Ini menyebabkan pembaca kurang menyukai karya fiksi yang menggunakan metode ini. Pembaca yang kritis akan menolak penyampaian model ini, karena bagi mereka karya sastra dipandang bukanlah buku pelajaran tentang budi pekerti dan moral.
Bentuk kedua, yaitu penyampaian secara tidak langsung terjadi jika pesan yang ingin disampaikan tersirat dalam cerita, berpadu secara koheren dengan unsur-unsur cerita lain (Nurgiyantoro, 2007:329). Pengarang tidak menyampaikannya begitu saja dalam bentuk kalimat. Pesan disampaikan biasanya melalui peristiwa, konflik, sikap tokoh dalam menghadapi peristiwa, maupun pemikiran tokoh-tokoh di dalamnya. Pembaca perlu menafsirkannya sendiri.

MENGENAI FABEL
Salah satu media yang dapat digunakan dalam menyampaikan ajaran moral adalah fabel. Priyono (2006:10) mendeskripsikan fabel sebagai dongeng tentang kehidupan binatang yang digambarkan dan bisa bicara seperti manusia, biasanya bersifat sindiran, atau kiasan. Sedangkan Agus D.S (2008:12) menjelaskan fabel sebagai dongeng yang ditokohi oleh binatang peliharaan atau binatang liar.
Djamaris (dalam Yundafi,2003:2) menyatakan bahwa animal folktale dibedakan dalam tiga tipe, yaitu etiological tale, fable, dan beast epic. Yang dimaksud dengan etiological tale adalah cerita tentang asal usul binatang. Fable adalah cerita binatang yang mengandumg pesan moral. Sedangkan beast epic adalah siklus cerita binatang dengan seekor fabel adalah salah satu bagian dari cerita binatang.
Secara sederhana, fabel didefinisikan sebagai cerita dengan hewan sebagai tokohnya. Dalam fabel, tokoh hewan itu digambarkan dapat bicara dan berpikir layaknya manusia. Biasanya ada seekor binatang yang memegang peranan pentingyang pada umumnya binatang yang kecil dan lemah, tetapi dengan kecerdasannya ia mampu memperdaya binatang-binatang lain yang lebih besar dan lebih kuat darinya.
Cerita binatang adalah salah satu cerita yang sangat populer. Tiap-tiap bangsa di dunia mempunyai cerita binatang (Fang,1991:6). Kepopulerannya ini menggambarkan bahwa fabel merupakan salah satu bentuk cerita yang digemari oleh masyarakat.

MANFAAT FABEL
Hollowell (dalam Agus DS,2008:91) menyatakan enam segi positif dari sebuah dongeng (fabel), yaitu: (1 ) Mengembangkan imajinasi dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam. (2) Memuaskan kebutuhan ekspresi diri. (3) Menanamkan pendidikan moral tanpa harus menggurui. (4) Menumbuhkan rasa humor yang sehat. (5) Mempersiapkan apresiasi sastra. (6) Memperluas cakrawala khayal anak.
Priyono (2006:15) juga menyebutkan beberapa tujuan mendongeng, yaitu : (1) merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi anak secara wajar. (2) mengembangkan daya penalaran sikap kritis serta kreatif. (3) mempunyai sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa. (4) dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru dengan yang buruk dan tidak perlu dicontoh. (5) menumbuhkan rasa hormat dan mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak.
Salah satu manfaat dari fabel adalah sebagai media pendidikan moral. Fabel diceritakan bukan dengan tujuan hiburan semata. Di dalamnya terselip nilai luhur, yakni pengenalan tentang budi pekerti. Dalam hal ini, fabel memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik ini terlihat dari fungsinya sebagai hiburan yang juga bermanfaat bagi pembaca dan pendengar, khususnya anak.


PESAN MORAL DALAM FABEL KERA PADA KUMPULAN DONGENG  RAJA KERA YANG BUDIMAN
            Raja Kera Yang Budiman adalah buku kumpulan dongeng yang pernah dimuat dalam Lembar Anak Kompas pada kurun waktu 1974-1977. Terdapat tiga puluh judul dongeng yang dua puluh sembilan di antaranya berbentuk fabel. Dari dua puluh sembilan fabel, tiga di antaranya berkisah tentang kera.
            Fabel tentang kera pertama berjudul sama dengan judul buku, Raja Kera Yang Budiman. Berkisah tentang Raja Kera dan rakyatnya yang tinggal di lereng gunung Himalaya. Kera-kera di sana sangat patuh akan perintah rajanya. Salah satu perintah yang diberikan oleh Sang Raja adalah menjaga semua buah yang ada di sana agar tidak jatuh ke sungai dan hanyut ke hilir. Perintah itu dilaksanakan dengan baik oleh para kera itu. Akan tetapi karena dipalut sarang serangga, sebuah mangga jatuh dan hanyut tanpa sepengetahuan mereka. Buah mangga itu kemudian ditemukan oleh seorang raja manusia, yang kemudian memerintahkan pasukannya untuk mencari pohon di mana buah itu berasal. Sang Raja dan pasukannya akhirnya menemukan pohon itu. Melihat banyak sekali kera yang bergelantungan di pohon itu, Raja memerintahkan pasukannya untuk menembaki kera-kera itu. Mengetahui rakyatnya dalam bahaya, Raja Kera menyeberangi sungai dengan maksud membangun jembatan agar rakyatnya bisa menyeberang lari dari bahaya. Raja Kera kembali dengan membawa seutas akar yang hendak dijadikan jembatan, tapi sayang akar iu tidak cukup panjang. Akhirnya sang Raja menjadikan tubuhnya sebagai sambungan akar itu hingga para rakyat kera bisa menyeberang. Dan karena itu, Raja Kera meninggal dunia kaena tulang punggungnya patah.
Pesan moral yang dapat ditarik dari kisah ini adalah bahwa seorang pemimpin harus memikirkan nasib rakyatnya dalam keadaan bahaya sekalipun. Secara tersirat, hal ini dapat kita simpulkan dari tindakan Raja Kera saat menyelamatkan rakyatnya dengan mempertaruhkaan tubuhnya sendiri.
Setelah itu, Raja Kera melompat ke seberang sungai, berenang dengan bersusah payah. Dicarinya seutas akar yang menjulai ke pohon kayu. Ujung akarnya dibawa ke seberang kembali. Maksudnya hendak dibuat jembatan untuk rakyatnya. Tetapi malang, akar itu tidak sampai. Kurang sedikit lagi. Dengan tidak piker panjang diikatnya kakinya sebelah, kemudian ia bergantung pada batang kayu.
Bagai topan mederu, rakyat kera yang beribu-ribu itu lari menyebrangi sungai lewat punggung rajanya. Semuanya selamat. Hanya tinggal seekor, yaitu si Raja Kera.
(Suhanda,2007:24)

Fabel tentang kera kedua berjudul Dendam Si Kerambu yang bercerita tentang dua ekor kera yang bersahabat, Kerambu dan Mantis. Suatu hari, ketika mereka sedang bermain, tiba-tiba Mantis mendorong Kerambu hingga Kerambu jatuh terguling-guling ke bawah. Neneknya menemukan Kerambu pingsan tertindih batu besar, sedangkan Mantis entah di mana. Karena hal itu, Kerambu menyimpan dendam pada Mantis. Krambu selalu ingin membalaskan dendamnya pada Mantis, tapi karena rumah mereka  dipisahkan oleh sebuah sungai yang besar, Mantis hanya bisa memendam dendam itu. Hingga suatu hari sebuah pohon nyiur tua jatuh ke seberang sungai dan bias dijadikan jembatan. Hari itu juga Kerambu pergi ke rumah Mantis untuk balas dendam. Sesampainya di rumah Mantis, yang ada hanya neneknya. Dari cerita neneknya akhirnya Kerambu sadar bahwa Mantis justru menyelamatkannya saat itu. Kerambu makin sedih karena ternyata Mantis meninggal karena menyelamatkannya.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita Dendam Si Kerambu adalah jangan pernah menyimpan dendan dan berprasangka buruk pada siapapun.
            Fabel tentang kera ketiga berjudul Kera dan Buah Durian. Bercerita tentang dua ekor binatang yang bersahabat namun sering bertengkar, kera dan kura-kura. Suatu hari, mereka  berjalan menyusuri tepi hutan. Ketika sampai pada sebuah padang yang subur, Kura-kura mengajak beristirahat. Kera malah mengejek Kura-kura lemah, tapi akhirnya ikut juga beristirahat. Pada saat istirahat itu, Kura-kura melihat pohon durian yang berbuah lebat.  Kura-kura meminta Kera mengambilkannya. Si kera dengan cepat memanjat pohon itu dan memetiknya. Tapi ia lupa akan Kura-kura sahabatnya. Dengan rakus langsung dia makan buah itu. Tapi apa yang terjadi? Dia malah mengerang kesakitan. Buah durian yang ada di tangannya jatuh dan pecah di tanah. Dengan tenang Kura-kura ,mendekati buah yang pecah itu dan memakannya dengan lahap.
Pesan yang dapat dipelajari dari kisah ini adalah jangan serakah karena keserakahan akan menyengsarakan diri sendiri. Hal ini dapat kita pelajari dari sikap kera saat mendapatkan buah durian.
Mendengar ucapan kura-kura itu, sang kera tidak ingat lagi akan teman seperjalanannya. Ia lari sekencang angin, memanjat pohon durian. Tidak dihiraukannya kawannya yang berteriak-teriak meminta buah durian.
Sampai di atas pohon, lalu dipetiknya sebuah durian yang besar dan matang.
“Wah, harum benar baunya,” kata sang kera sambil tersenyum dan menahan air liurnya. Lalu, dengan mulut yang rakus, digigitnya durian itu dengan lahapnya.
Dan apakah yang terjadi? Seketika itu juga kera mengerang kesakitan. Durian yang sedang dipegangnya lepas dan jatuh pecah di bawah.
...
Kura-kura tersenyum seraya berjalan mendekati buah durian yang pecah. Dengan tenangnya ia menikmati isi buah durian yang lezat dan harum itu.
(Suhanda,2007:170)

SIMPULAN
Pendidikan tentang moral perlu diberikan sedini mungkin mengingat usia-usia kanak-kanak adalah masa yang paling tepat dan efektif dalam menginternalisasi nilai karena pada masa itulah otak mengalami tumbuh kembang yang paling cepat dan kritis. Selain itu, dibutuhkan peran serta orang tua dan keluarga. Tentunya, pendidikan tentang moral harus dibalut dengan suasana dan didukung dengan media yang menarik agar yang hendak dididik tertarik dan menimbulkan kesan yang dalam.
Fabel adalah media yang dapat digunakan dalam menyampaikan pesan moral kepada anak. Fabel diceritakan bukan dengan tujuan hiburan semata. Di dalamnya terselip nilai luhur, yakni pengenalan tentang budi pekerti. Dalam hal ini, fabel memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik ini terlihat dari fungsinya sebagai hiburan yang juga bermanfaat bagi pembaca dan pendengar, khususnya anak.
            Raja Kera Ynag Budiam adalah salah satu kumpulan dongeng yang memuat tiga puluh cerita fabel. Tiga di antaranya menceritakan tentang kera dengan pesan moral yang berbeda-beda. Raja Kera yang Budiman menyampaikan tentang kepemimpinan. Dendam si Kerambu mengingatkan agar jangan pernah dendam dan berburuk sangka. Sedangkan Kera dan Buah Durian mengajarkan agar jangan serakah.


DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Leila Ch.2007.Menyelami Dunia Anak.Jakarta:Kompas.

D.S., Agus. 2008.Mendongeng Bareng Kak Agus D.S. Yuk.Yogyakarta:Kanisius.

Hurlock, Elizabeth B.1978.Perkembangan Anak Jilid I.Jakarta:Erlangga.

Hurlock, Elizabeth B.1978.Perkembangan Anak Jilid II.Jakarta:Erlangga.

Markum, M. Enoch.1985.Anak, Keluarga dan Masyarakat.Jakarta:Sinar Harapan.

Nurgiyantoro,Burhan.2007.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Pratisti, Wiwien Dinar.2008.Psikologi Anak Usia Dini.Jakarta:Indeks.

Priyono,Kusumo. 2006.Terampil Mendongeng.Jakarta:PT.Gramedia.

Soekanto, Soerjono.1985.Anak dan Pola Perikelakuannya.Jakarta:Kanisius.

Suhanda,Irwan (Ed.).2007.Raja Kera yang Budiman.Jakarta:PT.Gramedia.

Yundafi, Siti Zahra, Putri Minerva Mutiara, Juhriah. 2003.Unsur Didaktis dalam Fabel Nusantara: Cerita Kera.Jakarta:Pusat Bahasa.

Tidak ada komentar: