Selasa, 25 Januari 2011

Motivasi Guru Bahasa Indonesia

oleh Bahhiyatul Fikroh

Pendahuluan
            Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan, yakni di sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam pendidikan formal bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar untuk memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan perasaan siswa. Dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), pelajaran bahasa Indonesia merupakan sebuah pelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan sikap dan perilaku positif dalam berbahasa, khususnya Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia terdiri atas empat keterampilan. Belajar bahasa Indonesia yang dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) menunjukkan betapa pentingnya pelajaran bahasa Indonesia disamping pelajaran-pelajaran lainnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa untuk mahir berbahasa dan sastra, memerlukan proses yang cukup panjang.
            Pembelajaran bahasa Indonesia mempunyai beberapa kendala, salah satu kendalanya adalah anggapan remeh siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Anggapan itu terjadi karena siswa merasa sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan berkomunikasi sehari-hari. Berbicara mengenai anggapan tersebut, apa ada yang salah dari pembelajan bahasa Indonesia di sekolah? Siapa Jika memang ada kesalahan, siapa yang harus bertanggung jawab? Apabila pertanyaan tersebut dilontarkan kepada peserta didik, tentu mereka akan menjawab bahwa yang harus bertanggung jawab adalah guru. Dalam pengajaran bahasa, guru masih cenderung konvensional, masih berkutat pada teori, dan terus terpaku pada buku paket. Hal ini tentu menjadikan proses belajar belajar menjadi “sangat membosankan”.
      Dalam tulisan ini, penulis tidak akan memaparkan mengenai metode-metode  yang patut digunakan dalam pembelajaran. Telah banyak buku beredar luas di masyarakat yang perlu menjadi pegangan guru untuk menciptakan pembelajaran lebih variatif, efektif, serta menyenangkan agar pembelajaran tidak membosankan.  Tetapi dalam tulisan ini penulis membahas tentang betapa pentingnya motivasi guru dalam mengajar. Buku-buku mengenai metode pembelajaran yang banyak beredar tersebut tidak akan “disentuh” atau bahkan dijadikan pedoman bagi guru, apabila dari dalam diri guru sendiri tidak mempunyai motivasi untuk mengajar.

Peran Guru dalam Mengelola Pembelajaran
            Undang-undang No. 14 Tahun 2005 BAb 1 Ayat 1 mengemukakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[1] Pengelolaan pembelajaran perlu mendapatkan perhatian yang serius dari guru untuk merencanakan persiapan kegiatan proses belajar mengajar di lapangan dan menyiapkan segala perlengkapan administrasi guru, mulai dari merencanakan pembelajaran hingga pelaksanaan pengajaran.[2]
            Peran guru dalam mengelola pembelajaran sangatlah penting. Pada saat penulis duduk di bangku sekolah, ada pelajaran yang penulis suka dan ada pelajaran yang tidak disuka. Salah satu pelajaran yang tidak penulis suka adalah bahasa Indonesia. Guru membacakan teks pada buku paket, kemudian memberi tugas mencatat. Selama murid mencatat, guru asik dengan telepon genggamnya atau terkadang meninggalkan ruang kelas untuk beristirahat di ruang guru. Pokok bahasan yang diajarkan selalu ditekankan pada teori di antaranya adalah ejaan, tanda baca, kosa kata, frase, kalimat, paragraf. Sedangkan keterampilan berbahasa yang lain hanya disinggung sedikit dari buku paket, tanpa praktek.
            Pada saat mengikuti pelajaran tersebut, waktu seolah berjalan sangat lama. Rasa kantuk tidak dapat dihindari. Sesekali penulis mencari alasan untuk ke kamar kecil hanya untuk sekadar menghirup udara segar di luar ruang kelas.  Ketika itu penulis menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak berbakat dalam mata pelajaran tersebut. Pada saat kenaikan kelas, penulis masih mendapatkan mata pelajaran tersebut, namun dengan guru yang berbeda. Ironisnya, rasa bosan dan menyebalkan yang melekat pada mata pelajaran itu hilang dengan seketika. Guru bahasa Indonesia yang baru itu memasuki ruang kelas dengan wajah cerah, ramah, dan menebarkan senyuman kepada seluruh siswa. Saat itu juga suasana kelas menjadi sejuk dan bergairah. Dia mengajar dengan bahasa yang sopan, hangat dan sesekali menyelipkan humor sehingga murid fokus pada pelajaran, tidak ada murid yang berkali-kali ijin ke kamar kecil apalagi tidur dalam kelas.
            Pengalaman tersebut mengajarkan penulis bahwa ternyata bukan mata pelajarannya yang membosankan, melainkan terletak kepada siapa guru yang mengajar. Sebuah mata pelajaran seperti mayat tak bergerak. Guru adalah ‘roh’ bagi mata pelajaran tersebut. Ketika seorang guru memberikan roh pada sebuah mata pelajaran, semangat itu yang menular kepada murid-muridnya.[3] Peran guru sangat penting untuk membuat suasana kelas menjadi hidup. Guru bisa menjadi sangat menyenangkan atau sangat membosankan. Ada guru tertentu yang dinantikan atau dirindukan dan ada pula yang sebaliknya.
            Guru ideal yang disukai murid-muridnya adalah guru yang ramah, inovatif, pintar, berkepribadian menarik, berpenampilan menarik, bijaksana, bisa menjaga jati diri, ikhlas, sabar, baik hati, tidak membosankan, profesional, berwawasan luas, bervariasi dalam metode pengajaran, rendah hati, humoris, motivator bagi siswa, pendengar yang baik, memiliki empati dan simpati, rajin, bersemangat dalam mengajar, mampu memberi inspirasi, dan lain-lain. Sedangkan guru yang tidak disukai adalah guru yang bermuka masam, jarang senyum, galak, monoton, tidak menguasai materi pelajaran, suka memerintah, emosional, dan lain sebagainya.       
            Terkait dengan tipe guru yang tidak disukai murid-murid yang telah dipaparkan di atas, guru harus menjadikan dirinya sebagai pribadi yang menarik agar dicintai anak didiknya. Namun, kenyataannya walaupun guru sadar tentang kekurangannya tersebut, masih terdapat beberapa atau banyak guru yang tidak peduli dengan pandangan anak didiknya, yang penting mengajar dan mendapatan gaji. Untuk itu perlu adanya motivasi bagi guru sendiri. Lantas bagaimana cara meningkatkan motivasi guru?

Reformasi Motivasi Guru
            Sarwiji (1996) dalam penelitiannya tentang kesiapan guru Bahasa Indonesia, menemukan bahwa kemampuan mereka masih kurang. Kekurangan itu, antara lain, pada pemahaman tujuan pengajaran, kemampuan mengembangkan program pengajaran, dan penyusunan serta penyelenggaraan tes hasil belajar. Kerukarangan itu tidak disadari, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya motivasi. Oleh karena itu, hal utama yang perlu dilakkan adalah mereformasi motivasi guru dalam rangka mengubah cara pandang, cara berpikir, cara bertindak, dan cara bersikap terhadap profesinya.
            Menurut Mc Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc Donald terdapat tiga ciri pokok dalam motivasi, yakni; motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Namun pada intinya motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
            Penelitian yang dilakukan pada tahun 2007 sampai awal 2009 terhadap 2.876 orang guru di daerah tingkat II atau kabupaten dan kota yang berada di Jawa Barat serta satu kabupaten yang berada di luar Jawa membuktikan bahwa 57% guru SD, SMP, SMA, dan SMK menjadi guru bukanlah cita-cita pertama dan utama. Berdasarkan data tersebut setidaknya kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang menjadi guru saat ini bukanlah orang dengan motivasi tinggi dan intelengensi yang memadai, melainkan hanya sebagai pilihan cita-cita terakhir dari cita-cita awal sebagai dokter, insinyur, dan lain sebagainya. Profesi guru merupakan sebuah profesi “kecelakaan” yang diterima karena tidak mempunyai pilihan lain. Hal ini sangat memprihatinkan sehubungan dengan sosok guru profesional harus menjadikan profesi guru sebagai panggilan jiwa dan hati nurani yang mendalam untuk mengabdikan diri demi anak didik.
            Dalam diri seorang guru perlu mempunyai motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pendidik yang dapat dijadikan penutan bagi peserta didiknya. Guru seharusnya menjadi orang yang dapat menularkan hal-hal yang positif bagi anak didiknya. Dengan motivasi dan rasa cinta yang tinggi, walaupun guru mempunyai kompetensi yang tidak begitu tinggi tetapi dengan dedikasi yang tinggi dengan kecintaannya terhadap mengajar, maka akan mendapatkan hasil belajar yang tinggi. Rasa cinta terhadap murid-muridnya akan turut memicu motivasi guru untuk melakukan yang terbaik untuk mereka.
      Motivasi sangat dibutuhkan guru untuk menunjang profesionalitasnya sebagai guru sehingga membawa dampak positif  bagi pembelajaran. Guru harus mempunayi motivasi untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Terlebih pada guru bahasa Indonesia, pelajaran bahasa Indonesia masih dianggap remeh oleh peserta didik. Akibatnya, siswa kurang berempati dan kurang memperhatikan pembelajaran bahasa Indonesia. Akibatnya, kelas menjadi ramai (dalam arti ramai yang tidak mendukung tercapainya tujuan pembelajaran), siswa tidak memperhatikan penjelasan guru maupun media yang digunakan, dan siswa tidak berupaya mengerjakan soal dengan baik  (Dr. Wahyu Sukartiningsih). Oleh karena itu, guru harus mempunyai motivasi tinggi  untuk “menyadarkan” betapa pentingnya pelajaran bahasa Indonesia bagi kehidupan. Hal ini dikarenakan motivasi para guru akan menular kepada murid yang diajarnya.
      Sebagai guru bahasa Indonesia, guru hendaknya mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara di Indonesia. Rasa cinta yang tinggi tercermin dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat pembelajaran berlangsung. Kecintaan ini menciptakan kesadaran pada guru tentang pentingnya penanaman pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia kepada siswa-siswanya. Apabila motivasi dan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia melekat dalam hati, maka guru tidak akan rela jika pelajaran bahasa Indonesia dianggap remeh oleh murid-muridnya.
      Dengan demikian, guru akan lebih termotivasi untuk menjadi sosok yang menyenangkan agar dicintai murid-muridnya. Kemudian guru akan mencari langkah-langkah pasti dengan menggunakan metode-metode khusus yang tepat dalam materi pelajaran agar tercipta suasana belajar menjadi  lebih efektif dan menyenangkan. Penguasaan berbagai metode pembelajaran dapat menempatkan guru bahasa Indonsia berfungsi sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu, teladan, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan kulminator sehingga anak didik dapat berhasil secara optimal (Mulyasa, 2005).
      Dengan demikian, guru bahasa Indonesia dengan motivasi tinggi dalam mengajar akan secara otomatis terus meningkatkan kualitasnya untuk menjadi guru yang profesional. Ide-ide baru akan muncul untuk merombak kegagalan-kegagalan yang telah terjadi sebelumnya. Segala sesuatu akan dilakukan untuk menambah pengetahuan dan prestasi diri dengan membawa citra positif kepada anak didiknya. Misalnya dengan membaca banyak buku penunjang keberhasilan guru, mengikuti seminar pendidikan, lebih terbuka dalam mendengarkan kritik dan saran dari orang lain, dan lain sebagainya. Guru bahasa Indonesia dengan sejuta pesona dan kemampuan mengendalikan kelas (siswa) dengan baik adalah guru yang ideal yang dapat menjalankan tugasnya serta mampu memberi angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Simpulan
            Belajar bahasa Indonesia terkesan membosankan bila dibawakan oleh guru konvensional yang menyajikan pelajaran secara monoton. Guru harus sadar bahwa guru bisa menjadi “kambing hitam”, bila murid-muridnya gagal atau tidak profesional dalam bidang yang diajarkan guru terkait. Berhasil tidaknya murid akan dikaitkan dengan guru. Murid, orang tua, atau bahkan masyarakat akan memandang guru tersebut tidak profesional, atau lebih parah lagi dicap sebagai guru gagal yang tidak pantas disebut sebagai guru.
            Apabila guru telah menyadari adanya “pengkambinghitaman” tersebut, maka dirinya akan termotivasi untuk merancang sebuah pembelajaran yang efektif sehingga menghasilkan generasi penerus bangsa yang membanggakan. Upaya guru yang perlu ditanamkan dalam dirinya adalah memotivasi diri agar menjadi pribadi yang menyenangkan yang mencintai dan dicintai anak didiknya dan penuh tanggung jawab melaksanakan perannya sebagai guru profesional serta dengan ikhlas mengharapkan imbalan dari Tuhan atau balasan di akhirat nanti.
            Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah membutuhkan tenaga pengajar kreatif agar suasana di kelas tidak membosankan. Sebagai guru bahasa Indonesia, guru hendaknya mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara di Indonesia. Rasa cinta yang tinggi tercermin dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat pembelajaran berlangsung. Kecintaan ini menciptakan kesadaran pada guru tentang pentingnya penanaman pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia kepada siswa-siswanya. Apabila motivasi dan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia melekat dalam hati, maka guru tidak akan rela jika pelajaran bahasa Indonesia dianggap remeh oleh murid-muridnya. Sehingga nantinya akan tergerak untuk melakukan perubahan-perubahan baru yang dapat meningkatkan atau memaksimalkan pembelajaran Bahasa Indonesia.


Daftar Pustaka

Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional. 2005. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Permadi, Dadi. Dan Arifin, Daeng. The Smiling Teacher: Perubahan Motivasi dan Sikap dalam Mengajar. 2010. Bandung: Nuansa Aulia.

Sardiman AM. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Webe, Agung. Smart Teaching: 5 Metode Efektif Lejitkan Pretasi Anak Didik. 2010. Yogyakarta: Galangpress.

Whandi. “Hubungan Kompetensi Profesional Guru dan Motivasi Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Terhadap Hasil Studi Siswa.” http://whandi.net/hubungan-kompetensi-profesional-guru-danmotivasi-siswa-dalam-mata-pelajaran-bahasaindonesiaterhadap-hasil-studi-siswa.html (diakses tanggal 28 Desember 2010).

 


Ar2ozi. “Pelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah , Metamorfosis Ulat Menjadi Kepompong.” http://id.forums.wordpress.com/topic/pelajaran-bahasa-indonesia (diakses tanggal 28 Desember 2010).

Azkahafizah. “Kasus Pelajaran Bahasa Indonesia yang Membosankan, Siapa yang Jadi “Terdakwa”…???*

http://azkahafizah.wordpress.com/2009/04/19/kasus-pelajaran-bahasa-indonesia-yang-membosankan-siapa-yang-jadi-%E2%80%9Cterdakwa%E2%80%9D%E2%80%A6/


[1] Dadi Permadi dan Daeng Arifin, The Smiling Teacher: Perubahan Motivasi dan Sikap dalam Mengajar, (Bandung: Nuansa Aulia, 2010), hlm. 63.
[2] Ibid. 68.
[3] Agung Webe, Smart Teaching: 5 Metode Efektif Lejitkan Pretasi Anak Didik, (Yogyakarta: Galangpress, 2010), hlm. 34.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kalau guru nye ibu terus di depan ane terus dengan kemampuan ibu yang terlihat menonjol belajar bahasa terasa menegang dan mengeras. Ah...ah...ah...ah...