Selasa, 18 Januari 2011

Evaluasi Program Pembelajaran

oleh Kelompok 4 :
Andini Putri Pribadini
Nurmala Sari
Shayenda Hielza

PENDAHULUAN

Kegiatan evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya apa pun yang terprogram, tak terkecuali bagi program pembelajaran sebagai bagian dari program pendidikan dalam arti mikro. Melaksanakan evaluasi program pembelajaran merupakan tugas pokok seorang evaluator dalam manajemen sekolah, namun tidak berarti hanya evaluator saja yang harus memahami model-model evaluasi program pembelajaran tetapi para pendidik dan calon pendidik serta praktisi lain yang berkecimpung dalam bidang pendidikan juga perlu memahaminya. Untuk itulah, sebagai calon pendidik perlu memahami program evaluasi pembelajaran, penyusun membuat laporan buku ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Keterampilan (PK) Menulis pada tingkat 3 semester 5 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar di Yogyakarta sebagai cetakan II pada Oktober 2010 ini adalah buku tentang Evaluasi Program Pembelajaran yang menawarkan berbagai alternatif model evaluasi program bagi kepala sekolah, pendidik, calon pendidik maupun berbagai pihak yang berkepentingan dengan manajemen sekolah dalam mengevaluasi program pembelajaran. Buku berjudul Evaluasi Program Pembelajaran yaitu jenis buku nonfiksi yang memiliki ketebalan mencapai xii+300 halaman ini disusun oleh Prof. Dr. Eko Putro Widoyoko, M.Pd. berdasarkan hasil penelitian hibah bersaingnya dengan judul Pengembangan Model Evaluasi Program Pembelajaran IPS di SMP sekaligus sebagai judul disertasi penulis di program doktor, PPs UNY yang telah dikembangkan pada beberapa bagian. Pengembangan difokuskan pada penilaian hasil belajar dan validitas-realbilitas instrumen penilaian. Hal ini dilakukan dengan asumsi dalam evaluasi program pembelajaran tidak lepas dari penilaian hasil belajar.
Format buku ini disajikan dalam IX Bab. Didahului dengan uraian konsep evaluasi program pembelajaran, kemudian diikuti dengan penilaian hasil belajar, instrumen penilaian, baik tes maupun nontes, validitas dan realbilitas instrumen, model-model evaluasi program, alternatif model EKOP, dari konsep hingga perangkatnya dan diakhiri dengan contoh implementasi model EKOP.

ISI LAPORAN BUKU

Bab I
Konsep Evaluasi Program Pembelajaran

1.1. Pengertian Evaluasi Program
            Evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan menyajikan informasi tentang suatu program untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program berikutnya. Dalam bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang bersifat mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas. Jadi sasarannya adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru untuk sekolah dan dosen untuk perguruan tinggi (Djemari Mardapi, 2000:2).

1.2. Kegunaan Evaluasi Program Pembelajaran
   1. Mengomunikasikan Program kepada Publik,
2.    Menyediakan informasi bagi pembuat keputusan
3.    Penyempurnaan program yang ada
4.    Meningkatkan Partisipasi

1.3. Objek Evaluasi Program Pembelajaran
Dari objek ini dikaji tiga hal yaitu evaluasi masukan pembelajaran yang menekankan pada penilaian karakteristik siswa, keadaan, dan sarana prasaran pembelajaran serta hal lainnya yang menyangkut tentang pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran menekan pada cara mengajar, media dalam pembelajaran, strategi pembelajaran, dan sebagainya. Penilaian hasil pemebelajaran untuk mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan tes maupun nontes. Lalu ada dua aspek yang mencakupnya yaitu, aspek marjinal tentang implementasi pembelajaran dan aspek subtansial tentang hasil belajar siswa.

1.4. Evaluasi Proses Pembelajaran
Terdapat sasaran yang berupa pelaksanaan dan pengolahan pembelajaran lalu tahap pelaksanaan evaluasi (untuk menentukan tujuan dari proses pembelajaran dan strateginya, menentukan desain evaluasi yang mencakup rencana evaluasi, penyusunan instrumen penilaian untuk memperoleh data siswa dengan menggunakan kuisioner ataupun lembar pengamatan, pengumpulan data (ini agar dapat mengetahui tentang hasil pembelajaran yang biasanya dilaksanakan setiap akhir pelaksanaan pembelajaran), analisis dan interprestasi (ini hasil dari evaluasi proses pembelajaran), interprestasi penafsiran (hasil analisis proses pembelajaran), dan tindak lanjut (ini merupakan kegiatan menindaklanjuti hasil analisis dan interprestasi agar meningkatkan mutu pembelajaran).

1.5. Evaluator Program Pembelajaran
Ada dua macam yaitu evaluator dari dalam dan evaluator dari luar, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Evaluator dari dalam mempunyai kelebihan memahami betul program yang akan dievaluasi dan tepat pada sasaran, sedangkan kekurangannya jika pelaksanaannya terburu-buru akan mendapatkan hasil yang tidak sempurna. Evaluator dari luar merupakan orang yang tidak terkait dari implementasi program yang memiliki kelebihan, dapat bertindak secara efektif selama evaluasi dan mengambil kesimpulan sedangkan kekurangannya, orang yang dari luar tersebut belum memahami tentang program pembelajaran yang akan dievaluasi sehingga terjadi pemborosan waktu dan biaya.

Bab II
Penilaian Hasil Belajar

2.1. Hasil Pembelajaran
Dalam pembelajaran ada dua aspek yaitu siswa dan guru, dari  proses pembelajaran dibedakan menjadi dua yakni output dan outcome. Output merupakan kecakapan yang dikuasai siswa setelah mengikuti pembelajaran atau hasil pembelajaran siswa. Output dibedakan lagi menjadi hard skills dan soft skills. Hard skills  merupakan kecakapan yang relatif lebih mudah untuk pengukuran. Hard skills dibedakan menjadi dua yaitu kecakapan akademik (academic skills) dan kecakapan vokasional (vocational skills). Kecakapan akademik mencakup bidang ilmu yang dipelajari misalnya menghitung, menguraikan, menganalisis, mendeskripsi, dan hal lainnya yang menyangkut ilmu bidang pengetahuan. Sedangkan kecakapan vokasionalis sering disebut juga kecakapan kejujuran, yaitu tentang bidang pekerjaan tertentu misalnya seni dan bidang tertentu lainnya. Soft skills merupakan strategi yang diperlukan untuk meraih kesuksesan hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Soft skills dibedakan menjadi dua, yaitu kecakapan personal (personal skills) dan kecakapan sosial (social skills). Kecakapan personal digunakan untuk memudahkan beradaptasi pada siswa dan hal personal lainnya sedangkan kecakapan sosial untuk kehidupan bermasyarakat terutama dalam persaingan yang ada.

2.2. Fungsi Penilaian dalam Pendidikan
Ada beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, baik tes maupun nontes. Diantara fungsi penilaian tersebut ialah: 1) Dasar mengadakan seleksi yakni untuk keputusan orang yang akan diterima atau tidak dalam suatu proses, misalnya dalam penerimaan murid baru, dan kenaikan kelas siswa, 2) Dasar penempatan untuk mengetahui di kelompok mana seorang siswa ditempatkan, digunakan penilaian misalnya seorang siswa yang mempunyai nilai yang sama akan dikelompokkan dengan kelompok yang sama dalam belajar, 3) Diagnostik untuk guru mengetahui tentang kelebihan dan kekurangan serta kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran, dengan itu akan mudah diketahui cara mengatasinya, 4) Umpan balik merupakan hasil suatu pengukuran skor tes tertentu yang dapat digunakan sebagai umpan balik, agar guru berusaha untuk memberi semangat kepada siswa, 5) Menumbuhkan motivasi belajar dan mengajar, memberikan semangat kepada siswa yang mempunyai hasil tes yang kurang baik serta memberikan motivasi pada saat pembelajaran, 6) Perbaikan kurikulum dan program pendidikan , perbaikan ini baik untuk mengetahui nilai siswa sehingga dapat memperbaiki segala kekurangan yang ada pada saat pembelajaran, 7) Pengembangan ilmu, ini tergantung dari hasil tes siswa dan pengembangan pendidikan ilmu sangat penting sekali agar hasil tes siswa lebih baik.

2.3. Pentingnya Penilaian Hasil Belajar
Menurut Suharsimi (2008: 6-8) guru maupun pendidik lainnya perlu mengadakan penilaian terhadap hasil belajar siswa karena dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan penilaian hasil belajar mempunyai makna yang penting, baik bagi siswa, guru maupun sekolah. Adapun makna penilaian bagi ketiganya sebagai berikut:
Makna bagi siswa ada dua kemungkinan yaitu memuaskan, jika memperoleh nilai yang baik, dan tidak memuaskan karena memperoleh nilai yang tidak memuaskan. Makna bagi guru berdasarkan hasil  nilai yang  diperoleh, guru mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya, sudah tersampaikan dengan baikkah materi pembelajaran, dan mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan sudah mencapai sasaran atau belum. Makna bagi sekolah, dapat mengetahui bagaimana hasil belajar siswa, sekolah sudah memenuhi standar atau belum, informasi yang diperoleh dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk menyusun program pendidikan disekolah untuk masa yang akan datang.

2.4. Ciri-ciri Penilaian dalam Pendidikan
1.    Penilaian dilakukan secara tidak langsung
2.    Menggunakan ukuran kuantatif
3.    Menggunakan unit atau satuan yang tetap
4.    Bersifat relatif
5.    Dalam penilaian dapat terjadi kesalahan.

Bab III
Instrumen Tes

3.1. Pengertian Tes
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar yang bersifat hard skills.

3.2. Bentuk-bentuk Tes
Dikategorikan menjadi dua, yaitu: tes objektif  dan tes subjektif. Tes objektif memberi pengertian bahwa siapa saja yang memeriksa lembaran soal itu akan mendapatkan nilai yang sama. Dengan kata lain dapat dikatakan tes obejektif adalah tes yang penyekorannya bersifat objektif, sedangkan tes subjektif adalah tes yang penyekorannya dipengaruhi oleh yang memberi skor, hal yang dapat memengaruhi hasil penyekoran diantaranya: ketidakkonsistenan penilai, hallo effect, pengaruh urutan pemeriksaan (order effect), dan pengaruh bentuk tulisan dan bahasa (mechanic and language effect).

3.3. Pengembangan Tes
Ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil belajar (Djemari Mardapi. 2008: 88-97). Kesembilan langkah tersebut adalah:
1.    Menyusun spesifikasi tes
2.    Menulis soal tes
3.    Menelaah soal tes
4.    Melakukan uji coba tes
5.    Menganalisis butir soal tes
6.    Memperbaiki tes
7.    Merakit tes
8.    Melaksanakan tes
9.    Menafsirkan hasil tes

3.4. Karakteristik Tes yang Baik
Suharsismi Arikunto (2008: 57-62) menyatakan bahwa suatu tes dapat dikatakan baik apabila memenuhi lima syarat yaitu:
1.    Validitas merupakan ketepatan,  tes yang sebagai alat ukur dikatakan valid jika tes itu tepat pada hasil belajar dan akan menghasilkan yang valid pula.
2.    Reliabilitas, jika memberikan hasil yang tetap dari suatu tes, tidak terpengaruh oleh apapun.
3.    Objektifitas berarti tidak ada unsur pribadi yang mempengaruhinya, tidak ada unsur subjektifitas yang mempengaruhi tes tersebut.
4.    Praktikabilitas, tes ini merupakan tes yang praktis, mudah dan tidak mengecoh. Mudah pelaksanaannya, mudah diperiksa, dan dilengkapi dengan petunjuk sehingga dapat diberikan kepada orang lain.
5.    Ekonomis, bahwa pelaksanaan tes tidak membutuh biaya yang mahal dan tidak membuang waktu.

Bab IV
Instrumen Non Tes

            Instrumen non tes yang umum digunakan dalam menilai hasil belajar antara lain,  participation charts, checking lists, rating scale, dan attitude scales.

4.1. Bagan Partisipasi (participation charts)
Partisipasi peserta didik dalam suatu proses pembelajaran harus diukur karena memiliki informasi yang sangat kaya tentang hasil belajar yang bersifat nonkognitif. Participation charts dapat menjelaskan hasil belajar yang lebih bersifat afektif, yaitu keinginan untuk ikut serta. Instrumen ini terutama berguna untuk mengamati kegiatan diskusi kelas. Participation charts belum cukup untuk menarik kesimpulan yang memadai. Untuk itu haruslah dipakai bersama-sama dengan instrumen lain.

4.2. Daftar Cek (checking lists)
Checking lists sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar, baik yang berupa produk maupun proses yang dapat diperinci ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terdefinisi secara operasional dan sangat spesifik. Checking lists terdiri dari dua komponen, yaitu komponen yang akan diamati dan tanda yang menyatakan ada atau tidaknya komponen tersebut selama observasi. Kelebihan checking lists adalah sangat fleksibel untuk mengecek kemampuan untuk semua jenis dan tingkat hasil belajar serta semua mata pelajaran.

4.3. Skala Lajuan (rating scale)
Skala lajuan adalah instrumen yang menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi yang menyatakan posisi tertentu dalam hubungannya dengan yang lain. Rating scale terdiri dari dua bagian, yaitu pernyataan tentang kualitas keberadaan sesuatu dan petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut. Ada empat tipe rating scale , yaitu numerical rating scale, descriptive graphic rating scale, rangking method rating scale, dan paired comparisons rating scale.

4.4. Skala Sikap
Ada beberapa bentuk skala sikap, antara lain:
a)    Skala Likert
b)   Skala Thurstone
c)    Skala Guttman
d)   Semantic Differential

4.5. Penilaian Berbasis Portofolio
Portofolio diartikan sebagai kumpulan karya peserta didik yang menunjukkan perkembangan prestasi belajar. Portofolio seorang peserta didik biasanya memuat:
a)    Hasil ulangan atau tes
b)   Tugas-tugas terstruktur
c)    Catatan perilaku harian para siswa
d)   Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang pembelajaran

Penilaian berbasis portofolio memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a)    Perubahan paradigma penilaian
b)   Bertanggung jawab kepada siswa, orang tua dan masyarakat
c)    Melibatkan orang tua
d)   Peserta didik bisa menilai dirinya sendiri
e)    Fleksibel

Sedangkan beberapa kekurangannya antara lain:
a)    Perlu waktu relatif lama
b)   Reliabilitas rendah
c)    Guru berorientasi pada pencapaian hasil akhir
d)   Belum ada kriteria penilaian baku
e)    Memerlukan tempat penyimpanan yang memadai

Bab V
Validitas dan Reliabilitas

Validitas berkaitan dengan ketepatan alat ukur. Validitas instrumen secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal, disebut juga validitas logis. Instrumen yang memenuhi syarat valid berdasarkan penalaran. Validitas intrernal dibedakan menjadi dua, yaitu validitas isi dan validitas konstruk. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi jika dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi / isi pelajaran. Berkaitan dengan sejauh mana tes mencakup keseluruhan materi / bahan yang ingin diukur. Sedangkan sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk bila butir-butir soal mengukur sejauh mana instrumen mengukur konsep dari suatu teori. Validitas eksternal disebut juga validitas empiris. Dibedakan menjadi dua jenis, yaitu validitas kesejajaran dan validitas prediksi.
Instrumen dikatakan reliabel jika memberi hasil yang tetap apabila dites berkali-kali. Ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas internal dan reliabilitas eksternal. Untuk menguji reliabilitas eksternal dapat digunakan metode bentuk paralel dan metode tes berulang. Berdasarkan sistem pemberian nilai, ada dua metode analisis reliabilitas internal yaitu instrumen skor diskrit dan instrumen skor nondiskrit. Analisis validitas dan reliabilitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, yaitu dengan program SPSS for Windows.

Bab VI
Model-model Evaluasi Program

Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai dalam mengevaluasi program pembelajaran, diantaranya:

6.1. Evaluasi Model Kirkpatrick
            Mencakup  empat level evaluasi, yaitu: (a) evaluasi reaksi, (b) evaluasi belajar, (c) evaluasi perilaku, dan (d) evaluasi hasil. Memiliki kelebihan antara lain:
a)    lebih komprehensif
b)   objek tidak hanya hasil belajar
c)    mudah diterapkan

memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:
a)    kurang memerhatikan input
b)   mengukur impact sulit

6.2. Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Process and Product)
Digolongkan menjadi empat dimensi:
a)    Evaluasi konteks
b)   Evaluasi masukan
c)    Evaluasi proses
d)   Evaluasi produk

6.3. Evaluasi Model Wheek dari Beebe
Terdiri dari beberapa tahap yang berkaitan, yaitu analisis tugas pelatihan, perancangan tujuan, pengorganisasian isi, penentuan metode, pemilihan staf pelatihan, penyelesaian rencana pelatihan, pelatihan, dan penilaian pelatihan.

6.4. Evaluasi Model Provus (Discrepancy Model)
Dapat dilakukan dengan membandingkan dengan apa yang seharusnya terjadi (standard) dengan apa yang sebenarnya terjadi (performance) sehingga dapat diketahui ada tidaknya kesenjangan (discrepancy) antara keduanya.

6.5. Evaluasi Model Stake (Countenance model)
Menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu description dan judgement dan membedakan adanya tiga tahap dalam proses pendidikan, yaitu antecedent (context), transaction (process), dan outcomes.

6.6. Evaluasi Model Brinkerhoff
Mengemukakan tiga golongan evaluasi yaitu:
a)    Fixed vs emergent evaluation design
b)   Formative vs sumative evaluation
c)    Experimental design vs naural / unobtrusive
Selain beberapa model di atas, Nana Sudjana dan Ibrahim mengelompokkan model-model evaluasi menjadi 4 kelompok, yaitu:
1.    Measurement model
2.    Congruence model
3.    Educational system evaluation model
4.    Illuminative model.

BAB VII
Model Evaluasi Kualitas Pembelajaran dan Output Pembelajaran
(EKOP)

7.1. Hakikat Model EKOP
            Model ini merupakan modifikasi dari Kirkpatrick Evaluation Model dan model CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam.  Model ini menggunakan pendekatan penilaian proses dan hasil. Penilaian proses pembelajaran dalam hal ini disebut dengan penilaian kualitas pembelajaran, sedangkan penilaian hasil pembelajaran dibatasi penilaian output pembelajaran, sehingga nama model ini disebut dengan model evaluasi kualitas dan output pembelajaran (EKOP). Evaluasi model EKOP disusun berdasarkan kerangka berpikir bahwa untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran tidak cukup hanya dengan menilai output belajar siswa semata, namun perlu menilai proses implementasi program dalam kelas, yang dalam penelitian ini disebut dengan kualitas pembelajaran. Hal ini diperlukan karena bagaimanapun juga dalam setiap pembelajaran, output program selalu dipengaruhi oleh proses kegiatan itu sendiri.

7.2. Karakteristik Model EKOP
1.    Model ini digunakan untuk mengevaluasi program pembelajaran, khususnya program pembelajaran IPS di SMP.
2.    Penggunaan model ini tidak tergantung pada setting maupun konteks kurikulum formal yang belaku.
3.    Penggunaan model ini tidak tergantung pada pendekatan pengajaran tertentu yang dilaksanakan oleh guru.
4.    Model ini mengevaluasi program pembelajaran secara lebih komprehensif.
5.    Model ini dapat digunakan sebagai evaluasi diagnostik.
6.    Model ini dapat dimodifikasi untuk kepentingan evaluasi semua program pembelajaran di tingkat SMP dan SMA.
7.    Model ini bersifat terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut.

7.3. Komponen-komponen Model EKOP
            Model evaluasi ini memiliki dua komponen utama, yaitu kualitas pembelajaran dan output pembelajaran. Aspek kualitas pembelajaran meliputi aspek kinerja guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap, dan motivasi belajar. Penilaian output pembelajaran meliputi penilaian terhadap kecakapan akademik, kecakapan personal, dan penilaian terhadap kecakapan sosial. Komponen-komponen tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

7.4. Kelebihan dan Keterbatasan Model EKOP
Kelebihan:
1.    Lebih komprehensif
2.    Relatif sederhana
3.    Tidak begitu kompleks
4.    Tidak terikat pada materi tertentu
5.    Efektif
6.    Sejalan dengan KTSP

Keterbatasan
1.    Hanya melibatkan penilai intern
2.    Instrumen pada aspek kecakapan personal masih terbatas
3.    Instrumen pada aspek kecakapan sosial juga masih terbatas

Bab VIII
Perangkat Evaluasi Model EKOP

            Sesuai dengan komponen EKOP, instrumen model EKOP juga dibagi menjadi dua, yaitu Instrumen Kualitas Pembelajaran dan Komponen Output Pembelajaran. Instrumen kualitas pembelajaran dibagi menjadi lima, yaitu: 1. Kinerja guru dalam kelas, 2. Fasilitas pembelajaran IPS, 3. Iklim kelas, 4. Sikap siswa, dan 5. Motivasi belajar siswa. Instrumen output pembelajaran IPS dibedakan menjadi tiga, yaitu kecakapan akademik, kecakapan personal, dan kecakapan sosial. Penilaian kecakapan akademik menggunakan hasil ujian akhir semester yang diselenggarakan bersama atas koordinasi dinas pendidikan kabupaten / kota setempat. Penilaian kecakapan personal dan kecakapan sosial terbatas pada kecakapan memecahkan masalah dan kecakapan kerja sama.  Untuk lebih jelas bagaimana tampilan dari instrumen-instrumen tersebut Anda bisa melihat pada buku ini.

Bab IX
Contoh Implementasi Model EKOP

            Pada bab ini, pembaca akan disuguhkan sebuah contoh kasus implementasi model EKOP untuk dapat menghitung rerata skor kualitas pembelajaran, menghitung rerata skor output pembelajaran, menghitung rerata skor kualitas dan output pembelajaran, dan dibagian akhir pembaca diharapkan mampu menyusun laporan evaluasi model EKOP.

KESIMPULAN

“Buku adalah jendela dunia.”
Pepatah itu bermakna bahwa sebuah buku mengandung banyak informasi yang dapat kita peroleh. Kegiatan membaca buku dapat kita lakukan untuk mengetahui apa saja yang terjadi di dunia luar. Akan tetapi, sering sebuah buku yang kita baca tak memberi makna banyak bagi kita sebagai mahasiswa. Pada keadaan seperti itulah, kedudukan laporan buku menjadi penting. Karena sebuah laporan buku sebenarnya bertujuan untuk mendorong mahasiswa membaca buku-buku yang diwajibkan atau yang dianjurkan, seta meningkatkan kemampuan memahami isi buku-buku tersebut. Untuk memahami buku tersebut maka prosedur yang perlu untuk meringkaskan sebuah karangan diterapkan pula dalam laporan buku. Laporan buku diawali dengan pendahuluan, isi berupa ringkasan dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang secara singkat memuat pendapat mahasiswa mengenai kelebihan dan kekurangan buku.
Kelebihan dan kekurangan merupakan pasangan yang tak dapat dipisahkan dalam menilai sesuatu. Begitu juga dalam menilai buku ini. Dilihat dari segi isi, buku ini mencoba melengkapi referensi mengenai teori evaluasi dalam dunia pendidikan dengan menyertakan model-model evaluasi yang dibuat para ahli yang tidak terdapat dalam buku lain, seperti buku Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran karangan Suharsimi dan Evaluasi Pengajaran karangan Ngalim Purwanto. Selain itu, penyertaan model EKOP sebagai karya ilmiah pengarang merupakan kelebihan tersendiri dari buku ini yang sangat bisa dijadikan contoh format untuk para pendidik dan calon pendidik dalam melaksanakan evaluasi. Kelebihan lainnya dapat diungkap dari segi bahasa. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dimengerti sehingga tidak mengganggu kenyamanan pembaca untuk memahaminya.
            Dilihat dari tampilan, organisasi, dan cetakan, buku ini masih memiliki kekurangan. Kombinasi warna dan ilustrasi gambar yang digunakan dalam buku ini kurang menarik. Organisasi yang disajikan sangat monoton untuk ketebalan buku yang mencapai 300 halaman, hal itu berdampak pada ketertarikan pembaca untuk membaca buku ini hingga selesai. Kemudian berkenaan dengan cetakan, buku ini sering mengulang-ulang materi yang disajikan, fatalnya terdapat cetakan ganda untuk Bab IV. Untuk mengatasi kekurangan buku ini, pihak penerbit perlu melakukan tindakan berupa kegiatan revisi terhadap buku ini. Kekurangan lainnya juga dapat dilihat dari segi ketidakadaannya kutipan penghubung antarbagian yang memudahkan pembaca untuk mengingat kembali apa yang telah ia baca.
            Dengan demikian untuk menambah wawasan mengenai evaluasi program pembelajaran buku ini layak dijadikan referensi terutama pada bagian model-model evaluasi menurut para ahli dan penyertaan model EKOP yang merupakan suatu pembaruan yang telah dilakukan penulis dalam kegiatan evaluasi, terutama evaluasi pembelajaran IPS di SMP.

2 komentar:

lingga harsadi mengatakan...

Tanks..smoga bermanfaat bagi yang membutuhkan

suciptoardi mengatakan...

ijin copas yaa...