Selasa, 25 Januari 2011

ALIH KODE SEBUAH TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK: ALAT YANG DAPAT MEMPERLANCAR PROSES KOMUNIKASI

oleh Fanny Sopia Rahayu

Pendahuluan
Bahasa merupakan suatu interpretasi dari diri seseorang. Dalam kehidupannya setiap manusia menggunakan bahasa untuk proses komunikasi. Secara harfiah bahasa merupakan suatu bentuk ungkapan komunikasi dalam setiap pertuturan. Proses komunikasi akan lancar apabila dalam proses itu menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks dari siapa yang berbicara, lawan bicara dan konteks keadaan percakapan. Proses komunikasi dilakukan setiap orang untuk menghasilkan tujuan dari topik yang dibicarakan. Suatu proses komunikasi akan berlangsung dengan lancar apabila dalam situasi itu komponen komunikasi memiliki bahasa-bahasa yang dianggap menjadi pendekat satu sama lain. Alih kode merupakan bentukan dari kebervariasian suatu bahasa. Alih kode membantu sebuah percakapan menjadi lebih hangat dan terasa dekat.Dalam kehidupan sehari-hari alih kode dapat digunakan sebagai alat untuk memperlancar komunikasi dalam percakapan. Strategi komunikasi ini dilancarkan melalui alih kode.

Kenapa Alih Kode? Kenapa melalui Strategi Komunikasi
Alih kode merupakan berubahnya pemakaian bahasa dalam pertuturan, seperti yang dikemukakan Appel (1979:79) mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Alih kode pun dapat diartikan sebagai suatu peristiwa pergantian bahasa atau berubahnya dari ragam resmi ke ragam santai. Berbeda dengan Appel yang menyatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, maka Hymes (1875:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam suatu bahasa.
Alih kode dapat terjadi karena adanya pengalihan bahasa. Untuk itu perhatikan terlebih dahulu ilustrasi dalam contoh berikut Sebagai contoh, yaitu Rani dan Agri adalah pelaku tindak tutur yang berbahasa ibu bahasa Sunda. Ketika mereka sedang bercakap-cakap di satu taman, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Sunda. Lalu, mereka melakukan alih kode ke bahasa Indonesia setelah kawan mereka, Yudi, yang berbahasa ibu Manado, datang. Pada awalnya, Rani dan Agri berada dalam situasi "kesundaan", kemudian situasi berubah menjadi "keindonesiaan" setelah Yudi datang. Rani dan Agri melakukan alih kode karena mereka tahu bahwa Yudi tidak mengerti bahasa Sunda. Mereka memilih bahasa Indonesia karena bahasa Indonesialah yang dipahami oleh mereka bertiga. Secara sosiologis, alih kode tersebut memang seharusnya dilakukan untuk menjaga kepantasan dan keetisan salam bertindak tutur. Alangkah tidak pantas dan etis jika Rani dan Agri tetap mempertahankan tindak tutur yang menggunakan bahasa Sunda sementara ada Yudi di situ. Tidak lama kemudian, datang Zidam yang sebahasa ibu dengan Yudi. Mereka berempat masih menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, setelah Rani dan Agri pergi, Yudi dan Zidam mulai menggunakan bahasa Manado. Artinya, Rani dan Agri telah melakukan alih kode dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia, sedangkan Yudi dan Zidam telah melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Manado.
Alih kode sebagai masalah sosiolinguistik yang ada dalam masyarakat yang multilingual dimana kontak bahasa terjadi. Digunakannya alih kode sebagai alat untuk berinteraksi dengan orang lain merupakan salah satu alat untuk memperlancar komunikasi bagi masyarakat Indonesia. Sesuai dengan Appel (1976:79) yang mendifinisikan alih kode sebagai ”gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi”.
Sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari cirri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bahasawan dengan cirri dan fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat (Kridalaksana 1978:94). Sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa/dialek dalam budaya tertentu, pilihan pemakaian bahasa/dialek tertentu yang dilakukan penutur, topik, dan latar pembicaraan. Pemakaian bahasa maupun dialek dalam masyarakat menjadikan pendekatan sosiolinguistik ini menjadi erat kaitannya dengan proses komunikasi, karena didalamnya sama-sama berhubungan dengan bahasa dan dialek. Strategi komunikasi untuk memperlancar komunikasi dapat dipadupadankan dengan alih kode, karena dalam komunikasi terdapat banyak kriteria penutur maupun lawan tutur yang beragam. Dalam buku dinamika komunikasi, strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen (management communication) untutk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu, bergantung kepada situasi dan kondisi.

Hubungan Alih Kode dengan Proses komunikasi
Komunikasi tidak akan pernah bisa terlepas dari kehidupan manusia, karena komunikasi merupakan alat untuk menghubungkan antara satu individu dengan individu lainnya. Alih kode menjembatani suatu proses komunikasi agar proses komunikasi dapat berlancar lancar. Ilustrasinya sebagai berikut:
Contoh percakapan yang diangkat dari Soewito(1983) berupa seorang sekretaris(S) dengan majikannya(M)
S          :apakah Bapak sudah jadi membuat lampiran surat ini?
M         : O,ya,sudah. Inilah!
S          : Terima kasih
M         : Surat ini berisi permintaan borongan untuk memperbaiki kantor sebelah. Saya sudah kenal dia. Orangnya baik, banyak relasi, dan tidak banyak mencari untung. Lha saiki yen usahane pengin maju kudu wani ngono(… sekarang jika usahanya ingin maju harus berani bertindak demikian…)
S          : panci ngaten, pak (memang begitu pak)
M         : panci ngaten priye?(memang begitu bagaimana?)
S          : tegesipun mbok modalipun kados menapa, menawi (maksudnya-nya betapapun besarnya modal kamu …)[1]
Percakapan itu dimulai dalam bahasa Indonesia karena tempatnya di kantor, dan yang dibicarakan adalah tentang surat. Jadi, situasinya formal. Namun, begitu yang dibicarakan bukan lagi tentang surat, melainkan tentang pribadi orang yang disurati, sehingga situasi menjadi tidak formal, terjadilah alih kode: bahasa Indonesia diganti dengan bahasa Jawa. Selanjutnya yang dibicarakan bukan lagi mengenai surat pribadi si penerima surat, melainkan tentang pengiriman surat, yang artinya situasi kembali menjadi formal, maka terjadi lagi alih kode ke dalam bahasa Indonesia.
Alih kode dapat digunakan untuk mempermudah proses komunikasi antar sekretaris dengan majikannya. Laih kode digunakan dalam pertuturan ini karena mereka yaitu penutur memiliki bahasa yang sama yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa menjadikan proses komunikasi antara sekretaris dan majikan menjadi lancar dalam membahas suatu topik. Oleh karena itu. alih kode digunakan sebagai sebuah ragam bahasa dalam komunikasi demi mencapainya sebuah tujuan. Masyarakat tutur menggunakan alih kode dalam pertuturannya karena dirasa lebih nyaman dan lebih lancar dalam proses komunikasi. Seperti halnya contoh diatas.

Penggunaan Alih Kode pada Pertuturan
Latar Belakang : Kebun jarak di Padang Kemiling
Para Pembicara : Pak Amat dan Pak Jalil selaku buruh jarak, serta pak widianto selaku pengawas.
Topik : Pupuk yang habis.
Sebab alih kode : Munculnya Pak Widianto
Peristiwa tutur :
Pak Amat : Cakmano kito ni ndak mupuk kalu pupuk ajo dak ado lagi
Pak Jalil : tuna bos datang, biar ambo tanyo kek bos dulu. Pak Widianto, pupuk di gudang sudah habis. Jadi bagaimana pak?[2]

Latar Belakang : Pasar Panorama di kawasan penjual daging.
Para pembicara : Buk soleha dan Buk Ani selaku pedagang, serta Buk Jaka selaku pembeli.
Topik : Daging bangkai yang beredar di pasaran.
Sebab alih kode : Munculnya Ibu Jaka.
Peristiwa tutur :
Ibu Soleha : Ambo kuatir pembeli kito ilang kiniko. Banyak orang odak cayo kek daging yang dijual.
Ibu Ani : ambo jugo, tapi ndak cakmano lagi. Idak makan kalu idak jualan dagingko.
Ibu Jaka : Dagingnya berapa bu? Masih segar kan?
Ibu Ani : Rp. 7000 satu kilo bu. Segar bu, saya jamin.[3]
Latar Belakang :Terminal Betungan
Para pembicara : Pak Mamat dan Pak Slamet.
Topik : Pajak terminal
Sebab alih kode : Pak Slamet memungut uang pajak.
Peristiwa tutur :
Pak slamet : Cakmano jualannyo laku dak?
Pak Mamat : Yo caikolah pak. Pacak ditengok dewek. Oh ya bisa ditunda dulu pajaknya pak?
Pak Slamet : Yah tidak bisa pak. Saya juga harus menyetor ke atas[4]
Dari contoh pertuturan diatas, alih kode digunakan untuk memperlancar proses komunikasi. Alih kode menjadi alat penghubung antara penutur satu dengan penutur lainnya. Digunakannya alih kode dalam setiap pertuturan tentunya memiliki tujuan tertentu. Selain merasa satu daerah ketika menggunakan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah, merekapun menggunakan alih kode sebagai alat untuk memperlancar proses komunikasi. Contoh dari pertuturan dengan tema  “Daging bangkai yang beredar di pasaran”. Ketika daging bangkai menyebar dipasaran para penjual daging hawatir akan daging yang mereka jual tidak laris dipasaran. Namun dalam pertuturan itu seorang pedagang berusaha meyakinkan kepada pembelinya bahwa daging yang ia jual itu masih segar. Pedagang daging menggunakan alih kode sebagaai alat untuk memperlancar proses komunikasinya dengan pembeli, yaitu berubahnya situasi pertuturan menggunakan bahasa daerah. Dengan demikian alih kode digunakan untuk strategi komunikasi karena merasa dengan mengunakan alih kode, ada saling kepercayaan antar petutur karena merasa satu daerah.

Kesimpulan
Dalam proses komunikasi alih kode digunakan sebagai salah satu alat untuk memperlancar proses komunikasi dalam pertuturan. Alih kode digunakan memeudahkan proses komunikasi dalam pertuturan. Alih kode digunakan dalam pertuturan sebagai alat untuk menghubungkan antara penutur satu dengan penutur lainnya tentunya dlaam situasi yang mudah untuk berkomunikasi karena dalam situasi itu komunikasi berlangsung secara lancar. Alih kode tanpa kita sadari seringkali kita gunakan dalam setiap kesempatan, dengan tujuan agar mempermudah proses komunikasi. Situasi pertuturan yang menjadikan seserang melakukan alih kode arena didasarkan bahwa dengan menggunakan bahasa pertama yaitu bahasa ibu, proses komunikasi menjadi lancar. Namun alih kode tidak hanya percampuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, percampuran menggunakan bahasa asing pun digunakan untuk memperlancar proses komunikasi.


Kepustakaan

Appel, Rene, Gerad Huber, dan Guus Maijer. 1976. Sosiolinguistiek. Utrech – Antwerpen: Het Spectrum.

Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik . Jakarta:Rineka Cipta.

Hymes,Dell (Ed) 1964. Language in Culture and Society. New York: Harper and Row.

Kridalaksana, Harimurti. 1975a”Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Standar” Pengajaran Bahasa dan Sastra. Th. I, No. 1: 11-18.



[1] Abdul Chaer, Sosiolinguistik,(Rineka Cipta,2004)hlm,110
[3] Ibid
[4] ibid

Tidak ada komentar: