Jumat, 28 Januari 2011

Fenomena Mahkluk Fantasi sebagai Tokoh Imajiner dalam Novel Terjemahan Twilight karya Stephanie Meyer dan Need karya Carrie Jones


oleh Sheila Novelia

Latar Belakang
Tahun-tahun belakangan ini, fenomena Novel bergenre supranatural thriller yang menghadirkan makhluk fantasi seperti vampir, naga, peri, drakula dan semacamnya menjadi tren yang digemari para penikmat cerita fiksi yang kebanyakan remaja. Suatu cerita dalam prosa fiksi selalu didukung oleh sejumlah tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sebagaimana pendapat Atar Semi (1988: 36) bahwa kehadiran penokohan dan perwatakan dalam sebuah karya fiksi sangat penting, dan bahkan diceritakan tidak mungkin ada cerita tanpa tokoh yang bergerak dan akhirnya membentuk alur cerita. Fiksi sering pula disebut cerita rekaan hasil pengolahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaian tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi ataupun pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalan (Semi, 1988: 31).
Pasca boomingnya Twilight’s Meyer, novel-novel serupa dengan mahluk fantasi sebagai tokoh imajiner mulai bermunculan, salah satu diantaranya adalah Need karya Carrie Jones. Meski genrenya serupa dan sama-sama menghadirkan sosok fantasi, novel Need dan Twilight disajikan berbeda dan khas dengan menggunakan tokoh andalannya masing-masing. Meyer dan Jones menghadirkan sosok fantasi sebagai bagian dalam cerita dan meletakan dunia fantasi dan dunia nyata secara berdampingan. Tema sentral dalam kedua novel ini merupakan perjalanan tokoh wanita yang berasal dari dunia nyata yang kemudian masuk ke dunia lain dikelilingi mahluk fantasi. Twilight dan Need dimasukan kedalam kategori fairy-story karena latar dunia fantasi yang dibangun dalam kedua novel.
Novel Twilight dan Need menjadi pilihan saya karena sangat menarik untuk dikaji. Kelebihan novel ini terletak pada masing-masing tokoh imajiner yang berupa makhluk fantasi sekaligus ceritanya yakni tentang pelarian seorang manusia dan sebuah dilema antara tetap pada dunia nyata atau dunia fantasi. Dalam beberapa literatur fantasi ada satu alur yang sering digunakan. Alur ini dimulai dengan perjalanan seseorang yang berasal dari dunia nyata kemudia disengaja atau tidak pergi ke sebuah dunia fantasi tempat ia mengalami berbagai petualangan. Teks yang memiliki alur seperti ini antara lain The Chronicles of Narnia oleh C.S Lewis, Alice in Wonderland oleh Lewis Carrol, Harry Potter oleh JK Rowling dan yang paling terkenal saat ini adalah Twilight Saga oleh Stephanie Meyer dan disusul Need karya Carrie Jones.
Karya Carrie Jones, yang satu ini telah terdaftar dalam perkumpulan buku-buku fiksi terbaik VOYA. Karya sebelumnya adalah Jones's Girl, Hero yang berkisar tentang siswa yang juga seorang aktris dengan kehidupan yang bermasalah, karya ini dirilis tahun 2008 dan mendapatkan penghargaan dari Lembaga Sastra Untuk Remaja, The Assembly on Literature for Adolescents.   Dale McGarrigle dari Bangor Daily News menyatakan bahwa meskipun Need memiliki daya tarik untuk remaja dan merupakan yang terbaik dalam genrenya, novel ini akan menarik pembaca dewasa juga, serta akan memenuhi kebutuhan bagi banyak orang. Jika dilihat dari karya-karya sebelumnya, Need merupakan karya pertama dengan mahluk fantasi, Jones tidak menghadirkan makhluk fantasi pada karya-karya sebelumnya. Sedangkan, Stephanie Meyer selalu menghadirkan makhluk fantasi sebagai tokoh imajiner dalam karyanya disamping Twilight, yaitu The Host.
Tokoh utama yang dipasangkan dan berdampingan dengan makhluk fantasi dalam sebuah cerita menjadi sesuatu yang selalu menarik, dan fenomena tersebut tidak terlepas dari psikologi sastra.
Bagaimanapun juga artikel ini adalah sebuah kritik seni yang ditulis oleh seorang penikmat cerita fiksi bergenre supranatural thriller. Kritik seni ini baru sampai pada tahap deskripsi dimana penulis mengumpulkan data karya seni berupa cerita fiksi kemudian menghubungkan sebuah karya dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya.

Pendekatan Psikologi Sastra
Dari uraian diatas telah terlihat bahwa fenomena tersebut terkait dengan psikologi. Hal ini tidak lepas dari pandangan dualisme yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya terdiri atas jiwa dan raga. Penelitian yang menggunakan psikologi terhadap karya sastra merupakan bentuk pemahaman atas penafsiran karya sastra dari sisi lain (Paryanto, 2003: 17). Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah roman atau drama dengan pertolongan psikologi.
Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Penelitian psikologi sastra dilakukan dengan dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis (Ratna, 2004: 344). Pada penelitian ini menggunakan cara yang kedua, yakni dengan menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian menentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis.
Siswantoro menyatakan sastra berbeda dengan psikologi sebab sebagaimana kita pahami sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, dan esay yang diklasifikasikan ke dalam seni, sedangkan psikologi merujuk pada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental.[1] Meski berbeda keduanya memiliki titik temu atau bereaksi terhadap diri dan lingkungannya, dengan demikian gejala kejiwaan dapat terungkap lewat perilaku tokoh dalam sebuah karya sastra. Sastra dan psikologi mempunyai hubungan fungsional yaitu sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya, gejala dan diri manusia dalam sastra adalah imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia riil (nyata). Keduanya dapat saling melengkapi dan mengisi untuk memperoleh pemaknaan yang mendalam terhadap kejiwaan manusia (Nawang, 2007: 23). 
Psikologi ditafsirkan sebagai lingkup gerak jiwa, konflik batin tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra secara tuntas. Dengan demikian, pengetahuan psikologi dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menelusuri sebuah karya sastra secara tuntas (Darmanto, 1985: 164). Sebagai disiplin ilmu, psikologi sastra ditopang oleh tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan ekspresif, yaitu aspek psikologi kajian penulis dalam proses kreativitas yang terproyeksi lewat karya sastra, (2) pendekatan tekstual, yaitu mengkaji aspek psikologi sang tokoh dalam sebuah karya sastra, (3) pendekatan reseptif pragmatik yang mengkaji aspek psikologi pembaca yang terbentuk setelah melakukan dialog dengan karya yang dinikmatinya serta proses kreatif yang ditempuh dalam menghayati teks (Aminuddin, 1990: 89). Dalam hal ini, fenomena makhluk fantasi sebagai tokoh imajiner dalam novel Twilight dan Need, menggunakan pendekatan tekstual yaitu mengkaji aspek psikologi tokoh utama dalam sebuah karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra merupakan gambaran kejiwaan manusia yang menciptakan karya sastra itu sendiri.

Teori Kepribadian Humanistik Abraham Maslow
Psikologi humanistik diperkenalkan oleh sebagian sekelompok ahli psikologi pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atau pemikiran intelektual dalam psikologi (Koeswara, 1986: 112). Psikologi humanistik adalah sebuah sebuah gerakan yang muncul dengan menampilkan gambaran manusia baik dari psikoanalisis maupun behaviorisme, yakni gambaran manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat serta selalu bergerak ke arah pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya apabila lingkungan memungkinkan (Koeswara, 1986: 109). Sebagaimana yang kita ketahui yang menjadi pemimpin atau bapak dari psikologi humanistik adalah Abraham Maslow.
Teori Abraham Maslow tentang motivasi dapat diterapkan pada hampir seluruh aspek kehidupan pribadi serta kehidupan sosial. Orang biasa dimotivasikan dengan serba kekurangan. Ia berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya akan rasa aman, rasa memiliki, rasa kasih sayang, penghargaan serta harga diri. Orang yang sehat terutama dimotivasikan oleh kebutuhan untuk mengembangkan serta mengaktualisasikan kemampuan-kemampuan serta kapasitaskapasitasnya secara penuh. Dengan kata lain, orang yang sehat terutama digerakkan oleh hasrat untuk mengaktualisasikan diri. Banyak tingkah laku manusia yang dapat diterangkan dalam memperhatikan tendensi individu untuk mencapai tujuan-tujuan personal yang membuat kehidupan bagi individu yang bersangkutan penuh makna dan memuaskan (Maslow dalam Koeswara, 1986: 118).
Maslow melukiskan manusia sebagai makhluk yang tidak pernah berada dalam keadaan yang sepenuhnya puas. Manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber genetis dan naluriah. Bagi manusia, kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, kebutuhan-kebutuhan lainnya akan menuntut kepuasan. Dengan demikian, kebutuhan-kebutuhan itu juga bersifat psikologis bukan semata-mata fisiologis. Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang ada pada manusia adalah pembawaan, tersusun menurut tingkatan. Oleh Maslow (dalam Koeswara, 1986: 117-118) kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu dirinci ke dalam lima tingkatan kebutuhan, yaitu
a. kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis,
b. kebutuhan akan rasa aman,
c. kebutuhan akan cinta dan memiliki,
d. kebutuhan akan harga diri,
e. kebutuhan akan aktualisasi diri.
Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan keberlangsungan hidup. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis yang dimaksud, yaitu kebutuhan akan makanan, miniman, tempat berteduh, seks, tidur, dan oksigen. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendesak dan didahulukan pemuasannya oleh individu. Jika kebutuhan fisiologis ini tidak terpenuhi atau tidak terpuaskan, individu tidak akan bergerak untuk bertindak memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi. Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan, dalam diri individu akan muncul kebutuhan yang dominan terhadap individu dan menuntut pemuasan akan kebutuhan rasa aman.
Yang dimaksud oleh Maslow dengan kebutuhan akan rasa aman ini adalah suatu kehutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungan. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan efektif ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlawanan jenis, di lingkungan keluarga ataupun lingkungan kelompok masyarakat.
Kebutuhan akan rasa harga diri dibagi menjadi dua kebutuhan, yakni harga diri dan penghargaan dari orang lain (Maslow, dalam Surpatiknya, 1991: 76). Bagian pertama kebutuhan harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetisi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan. Bagian kedua, penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, penerimaan, perhatian kedudukan, nama baik, serta penghargaan. Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan manusia yang paling penting dalam teori Maslow tentang motivasi pada manusia. Kebutuhan akan aktualisasi diri sendiri adalah hasrat untuk makin menjadi diri sepenuhnya sesuai dengan kemampuan dan potensi yang ada pada dirinya.

Keterkaitan Tokoh Imajiner dengan Tokoh Utama
Dalam novel Twilight’s Meyer, tokoh Bella pada akhirnya memilih untuk hidup dalam dunia fantasi dan meninggalkan jati dirinya sebagai manusia dari dunia nyata tempat ia berasal, sang tokoh utama kemudian hidup berdampingan tokoh imajiner dan menjadi bagian dari vampir yang merupakan makhluk fantasi. Hal serupa juga terjadi dalam Need’s Jones karena tokoh Zara juga memilih untuk berdampingan dengan dunia fantasi tempatnya mengalami berbagai petualangan. Dilihat dari fenomena mengapa sang tokoh lebih memilih berdampingan dengan sang tokoh imajiner, pada kehidupan dari dunia nyata tempat asal mereka, Bella dan Zara sama-sama mengalami keterpurukan, perasaan tidak mendapatkan tempat di dunia, tidak menemukan jati diri mereka sebagai manusia dan pelarian terhadap sesuatu. Karakter mereka hampir sama, sama-sama takut menghadapi sekolah baru, teman-teman baru dan kekhawatiran kesulitan untuk bersosialisasi. Ini berkaitan dengan teori kepribadian humanistik oleh Abraham Maslow yang telah dibahas sebelumnya. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan karakter Bella, sang tokoh utama.
“Rasanya menyenangkan bisa sendirian, tidak harus tersenyum dan tampak gembira; lega bisa memandang murung ke luar jendela, memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Aku tidak sedang mood untuk menangis habis-habisan. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti, ketika aku harus memikirkan esok pagi.
Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357-sekarang ada aku berarti 358, sementara murid SMP di tempat asalku dulu ada lebih dari tujuh ratus orang. Semua murid disini tumbuh bersama-sama-kakek nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. Aku akan menjadi anak perempuan baru dari kota besar, mengundang penasaran, orang aneh.
Barangkali takkan begitu jadinya bila aku berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix . tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada dimanapun.
Memandangi pantulan wajah pucatku di cermin, aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi tiga ratus orang, kesempatan apa yang kupunyua disini?
Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus, titik. Bahkan ibuku, orang terdekat denganku dibandingkan dengan siapapun di dunia ini, tak pernah selaras denganku, tak pernah benar-benar sepaham. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini”(Twilight. Hal.21-22).
Dari kutipan diatas tergambar karakter Bella sebagai tokoh utama, seorang yang tidak percaya diri, merasa dirinya aneh, khawatir terhadap berbagai hal, bahkan phobia sepert juga pada karakter Zara yang tercermin dalam kutipan berikut.
“Mnemophobia adalah suatu ketakutan yang nyata. Aku tidak mengarangnya. Aku bersumpah. Kau bisa merasa takut terhadap kenangan-kenanganmu. Tidak ada tombol untuk mematikan otakmu secara mudah. Pasti rasanya akan sangat, sangat menyenangkan jika ada tombol semacam itu.
Jadi aku menusukkan jari-jariku ke kedua kelopak mataku, berusaha untuk memaksa diriku agar berhenti mengingat-ingat sesuatu. Aku berfokus kepada masa kini, saat ini. Seperti itulah yang selalu diperintahkan orang-orang talk-show kepadamu: hidup untuk hari ini.
Aku membelitkan benang putih di sekeliling jariku saat ayahku meninggal. Aku terus memakainya untuk mengingatkanku, bahwa aku pernah merasa marah, pernah memiliki seorang ayah, yang hidup.
Ibuku mengirimkan aku kesini karena selama empat bulan aku tidak mampu tersenyum. Selama empat bulan aku tidak mampu menangis, merasakan atau melakukan apapun”(Need. Hal.5-7)
Fantasi memiliki fungsi positif bagi mereka yang masuk ke dalamnya. Fairy-story dianggap sebagai literatur eskapis karena mampu membuat para pembacanya melarikan diri sejenak dari masalah yang dihadapi. Tolkien dalam hal ini kemudian menyamakan pembacaan dan penciptaan literatur fantasi sebagai perjalanan ke dunia fantasi. Para penikmat fantasi dapat dianggap seolah-olah sebagai seseorang yang melakukan perjalanan dan petualangan di dalamnya. Hal ini kemudian dihubungkan dengan perjalanan Bela dan Zara ke dalam dunia fantasi yang senada dengan pendapat Tolkien tersebut. Seiring dengan itu pula maka tindakan kedua tokoh ini sekilas memperlihatkan eskapisme keduanya.
Dunia fantasi sering dianggap sebagai media eskapis yang bernada negatif karena fantasi seperti menyediakan tempat bagi mereka yang ingin melarikan diri dari dunia nyata dan menghindarkan kenyataan hidup yang dihadapi. Hal ini kemudian membuat fantasi dianggap sebagai sesuatu yang kekanak-kanakan sehingga harus dijauhi (Day, 2003:14).
Tokoh Edward yang merupakan vampir menjadi pilihan Stephanie Meyer sebagai tokoh imajiner dalam Twilight. Sosok vampir disini digambarkan sebagai manusia rupawan, kuat dan terkesan cool. Lihat saja kutipan dalam Twilight berikut ini “Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih-jelas nukan karena irisan bawang. Aku tidak menarik. Sementara Edward benar-benar menarik ...dan pintar...dan misterius...dan sempurna....dan tampan......dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan satu tangan.” (Twilight. Hlm.91)
Sosok hero merupakan sosok yang tidak asing dan selalu menjadi pilihan bagi setiap penulis cerita semacam ini. Tokoh imajiner yang merupakan makhluk fantasi ini seolah berperan sebagai hero dalam kehidupan sang tokoh utama. Namun tak semua makhluk fantasi tersebut mendukung peran tokoh utama. Ada juga beberapa dari mereka yang menjadi rival dari tokoh utama. Dalam novel Twilight, tidak semua vampir dapat hidup berdampingan dengan manusia tanpa membunuh, begitu juga dalam Need, peri dalam novel tersebut tidak berperan sebagai hero melainkan musuh dari tokoh utama sendiri.
Pilihan makhluk fantasi menjadi daya tarik tersendiri bagi Stephanie Meyer, Carrie Jones maupun penulis cerita fiksi lainnya. Makhluk fantasi menjadi sesuatu yang berbeda yang tentunya tidak dapat kita temukan dalam kehidupan nyata. Semuanya kembali kepada kita sebagai pembaca dan penikmat fiksi, bacaan seperti Twilight dan Need bisa menjadi pilihan untuk melepas penat ari rutinitas sehari-hari, membangkitkan daya imajinasi dan menghibur dalam artian positif. Setuju dengan pendapat Tolkien yang menyampaikan bahwa imajinasi tidak boleh dikungkung dan harus dibiarkan bebas karena hal inilah yang membuat seseorang hidup. Tidak selamanya fiksi menggambarkan hal-hal yang tidak nyata, ada juga objek lazim seperti matahari, rumput dan laut, kesemuanya itu adalah objek nyata yang kita temui sehari-hari, objek tersebut memiliki pesona dibaliknya, dan yang bisa melihat pesona dibaliknya hanyalah orang-orang yang tersihir yaitu mereka yang mampu melihat makna dibalik keberadaan objek tersebut. Imajinasi adalah suatu hal yang penting karena dengan imajinasi, manusia bisa menyadari dan menghargai kehidupan.
Penggambaran tokoh Edward sebagai makhluk fantasi dengan perannya sebagai hero bagi tokoh utama dalam Twilight dapat dalam kutipan berikut.
“Aku predator terbaik di dunia, bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku mengundangmu mendekat  suaraku, wajahku bahkan aromaku.” Tak disangka sangka ia sudah bangkit berdiri, pergi, langsung lenyap dari pandangan, dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya, setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik.
“seolah kau bisa kabur dariku saja”, ia tertawa getir.
Ia mengulurkan satu tangannya, dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya, hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya, lalu melemparnya begitu cepat, menghempaskannya ke pohon besar lain. lalu ia sudah berada di hadapanku lagi, setengah meter dariku, kaku bagai batu.(Twilight. Hlm.279).
Tokoh Nick yang merupakan manusia serigala juga digambarkan sebagai hero bagi tokoh utama, karena dalam cerita, keadaan psikologis Zara tidak begitu baik setelah kematianj sang ayah.
“Empat bulan setelah kematian mendadak ayah tiri kesayangannya, Zara seperti tidak menjadi dirinya sendiri. Dia tidak bisa merasakan apa-apa, benar-benar hampa, bahkan rasa takut pun tidak dia rasakan. Ibu Zara yang khawatir terhadap keadaan emosional Zara yang semakin memburuk, berpikir perubahan akan memperbaiki keadaan. Zara yang menjadi seorang pemurung akhirnya terbang ke Maine untuk tinggal bersama neneknya, Betty, asal usulan sang ibu. Zara's mother, worried that Zara's emotional state is deteriorating, thinks the change will do her gooZara disagrees. Zara tidak setuju. Maine is cold, full of strangers, and far away from the only home she's ever known in Charleston, South Carolina. Maine merupakan kota terpencil yang dingin, populasinya sedikit, penuh dengan orang asing dan jauh dari rumah yang selama ini dia tempati di Charleston, South Carolina.
Kekecewaan demi kekecewaan mulai melingkupi hati Zara di sekolah barunya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memilah siapa yang teman dan siapa yang lawan. Nick yang atletis dan kuat,  Ian yang ambisius dan menarik adalah kategori yang bisa disebut teman oleh Zara. Disisi lain, ada Megan, si cantik dan populer yang bersikap kurang bersahabat tanpa alasan yang jelas.
 Zara berupaya untuk berdamai dengan kematian ayahnya dan menciptakan beberapa langkah untuk hidup normal. Selain bergabung dengan tim lari sekolah, dia pun kembali aktif menulis surat kepada Amnesti Internasional demi mengkampanyekan bantuan  untuk sesama.
Dalam misinya menyelamatkan dunia seperti yang ayah tirinya ajarkan, kengerian mulai terjadi ketika Zara menyadari bahwa lelaki asing yang diduga menguntitnya bukan hanya sosok dalam imajinasinya saja. Ia melihat pria aneh itu dimana-mana, keganjilan pun terus bermunculan, anak lelaki yang hilang secara misterius, serbuk emas yang selalu ditinggalkan oleh si penguntit, suara suara yang memanggil namanya di hutan serta sikap aneh teman-temannya yang mempercayai legenda tentang pixie - peri. Maine memiliki berbagai makhluk luar biasa diluar habitat manusia dan mereka tampaknya membutuhkan sesuatu-sesuatu seperti Zara.”(Need-Carrie Jones).
Dari pembahasan diatas terlihat bahwa dalam kedua novel, tokoh utama selalu memiliki masa lalu yang tidak begitu menyenangkan sehingga perlu dipertemukan dengan makhluk fantasi seperti vampir maupun manusia serigala atau peri untuk membebaskan mereka dari keterpurukan, dari sesuatu yang jahat dan semacamnya, makhluk fantasi inilah yang seolah diharapkan membawa keajaiban.

Kesimpulan
Fenomena makhluk fantasi sebagai tokoh imajiner dalam beberapa novel bergenre supranatural-thriller seperti Twilight dan Need bukan kali pertama dan bukanlah sesuatu yang baru, karena sebelumnya kita mengenal Harry Potter karya JK Rowling dan banyal novel lainnya yang bergenre sama. Pemilihan vampir maupun peri dan manusia serigala sebagai tokoh imajiner juga bukan sesuatu yang baru, hanya saja masing-masing penulis mengemasnya menjadi cerita yang berbeda dan memiliki kekhasan tersendiri.
Kehidupan manusia saat ini sudah semakin maju dan modern, semua serba mengandalkan teknologi dan mesin, adanya hal-hal yang tidak biasa atau diluar akal sehat seperti kemampuan super yang dimiliki oleh makhluk fantasi sebagai tokoh imajiner dari kedua novel tersebut, mungkin bisa dianggap sebagai pelarian dalam artian positif, lepas sejenak dari kehidupan nyata yang penat. Bacaan semacam ini bukan hanya menghibur dengan imajinasi yang memukau namu terselip begitu banyak pesan moral serta berguna untuk semacam phobia-therapy.
Dengan imajinasi yang ditawarkan penulis, pembaca bisa merasakan berbagai emosi seperti kebahagian, ketegangan, rasa putus asa-pulih kembali, ketakutan dan lainnya seolah melakukan perjalanan sebagai tokoh utama, menggembirakan tetapi bisa juga dijadikan sebagai sebagai meditasi akan rasa takut yang biasa dialami remaja yang masih labil misalnya dalam Need. Mencari tahu akan jati diri dan mengenal dunia yang sebenarnya terkadang merupakan proses yang menakutkan, bahkan pada saat kita merasa cukup yakin tentang siapa diri kita dan apa yang kita percayai, sebuah ketakutan saja mampu untuk menggoyahkan semuanya. Ketakutan dapat merubah perspektif kita dan dari situlah ujian yang sesungguhnya dimulai. Hal unik diselipkan dalam setiap subjudul dalam Need, Carrie Jones menuliskan beberapa istilah phobia sebagai subjudul didalamnya. Bagaimanapun juga sebuah eskapis atau pelarian tidak melulu negatif dengan menikmati novel bertokoh imajiner makhluk fantasi dibandingkan eskapis lainnya yang banyak terjadi di sekitar kita seperti memakai narkoba dan lain-lainnya yang tentu merusak diri.


DAFTAR PUSTAKA
Siswantoro. 2004. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Sayuti, Suminto.A.. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta : Gema Media.
Semi. M. Atar. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa,1993
Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori sastra. Jakarta : Grasindo, 2008.
Siswantoro. 2004. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Teeuw. A. Membaca dan Menilai Sastra. (Gramedia,1991).
Tim Estetika FBS UNJ, Estetika Sastra, Seni dan Budaya. Jakarta : UNJ Press,2008.


[1] Siswantoro. 2004. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Sebelas Maret University Press, hlm.31.

Tidak ada komentar: