Kamis, 20 Januari 2011

ANALISIS DIKSI DAN ACUAN MAKNA PADA IKLAN DI TELEVISI (SUATU TINJAUAN PRAGMATIK)


oleh Yayah Athoriyah

1.      Pendahuluan      

            Bahasa adalah sistem lambang yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri (Harimurti: 2001). Bahasa berperan  sangat penting dalam berkomunikasi. Melalui bahasa kebudayaan dapat dibina, dibentuk, dan dikembangkan. Masyarakat tidak dapat berhubungan satu sama lain.
            Iklan adalah sebuah komunikasi persuasif yang mampu mengubah perilaku khalayak. Sebuah iklan diciptakan untuk dapat menggiring pola pikir dan atau tindakan-tindakan yang diharapkan oleh pembuat iklan. Daya pikat iklan dibangun untuk mengingatkan khalayak pada citraan tertentu.
            Di Amerika, surat kabar pertama yang memasang iklan pada terbitannya adalah Boston Newsletter 1704. Iklan dirancang sebagai headline yang memenuhi halaman depan surat kabar yang terbit secara berkala. Benyamin Franklin adalah orang pertama yang memperkaya informasi iklan dengan menambah ilustrasi sehingga efek iklan semakin kuat (Darmawan: 2006: 103-104). Di Indonesia, pada masa perkembangannya, bentuk iklan bersandar pada bahasa verbal yang tertulis dan tercetak.
            Lagu ‘One Heart’ yang dinyanyikan oleh Agnes Monica, Nidji dan sekelompok orang pada iklan motor Honda ternyata sangat terkenal dan terasa akrab ditelinga siapa saja. Brand aware iklan motor Honda itu terbangun karena lagu, sekaligus perilaku dari Agnes Monica, Nidji dan pemeran lainnya. Kini ada kecenderungan membangkitkan kesadaran eksistensi produk dengan lagu tema yang berhubungan dengan hal-hal yang sedang menjadi mode. Musik dan lagu yang digunakan pengiklan ternyata mampu mempengaruhi daya penetrasi produk terhadap kesadaran khalayak. Produk yang diiklankan mampu bertahan dalam ingatan calon konsumen, lewat bantuan ‘metode’ di atas.
            Produk shampo yang merupakan kebutuhan sehari-hari, ternyata iklannya tidak lagi menggunakan figur wanita jelita dengan rambut indah yang merupakan hasil dari seberapa kualitasnya produk tersebut, namun juga memakai karakter pria macho, dengan adegan baku tembak dan ledakan. Sebuah konsep baru bahwa rambut indah, lembut, dan sehat dapat dimiliki siapa saja dan dalam kondisi apapun juga. Keunikan iklan Clear yang keluar dari paritas iklan shampo dengan konsep ‘siapa takut’ itu ternyata memenangkan Anugerah Cakram ’99, sebagai iklan yang paling baik dalam Kampanye Iklan 1999 oleh Majalah Cakram
            Pengiklan membidik dari banyak sisi dalam menawarkan produk-produk yang diiklankannya. Mobil dan otomotif tidak sekedar alat transportasi, namun di sana ada gaya, ada kecanggihan, trend mode, gengsi, sampai kepada daya muat, efisiensi biaya pemakaian, bahkan warna. Hal terakhir yang sering dijumpai terutama pada iklan sepeda motor, produk terbaru yang ditawarkan hanya menyangkut perbedaan warna saja. Masing-masing keunikan segi-segi yang merupakan signifikasi karakter produk, ditonjolkan dan diekspose agar produk mempunyai segmen yang jelas serta target khalayak yang terarah.
            Iklan memerlukan tampilan yang dikemas dengan bahasa membumi, kontekstual, dan ‘gaul’. Kondisi ini yang menyebabkan ada keprihatinan pada banyak kalangan. Ada yang berpendapat bahwa bahasa iklan tidak mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi belum ada kriteria bagaimana sebaiknya bahasa iklan tersebut. Bila membuat iklan dengan memperhatikan kaidah bahasa menggunakan pola SPOK, mengguna-kan kalimat efektif, kata-kata yang digunakan akan sangat panjang dan kurang menarik.
            Berdasarkan paparan di atas, timbul pertanyaan, bagaimana bentuk pilihan kata dalam wacana iklan berbahasa Indonesia? Dan makna acuan apa saja yang terdapat dalam pilihan kata wacana iklan berbahasa Indonesia? Secara ringkas, tulisan ini akan memaparkan pilihan kata yang digunakan dalam bahasa iklan. Diharapkan melalui penelaahan lebih lanjut dapat ditentukan pola pilihan kata dalam wacana iklan berbahasa Indonesia seperti apa yang dapat menarik perhatian konsumen yang diungkapkan dalam bentuk yang singkat, diketahui pengaruh pemilihan kata pada iklan terhadap daya beli suatu produk yang ditawarkan. Tulisan ini adalan kajian singkat terhadap iklan berbahasa Indonesia.

2.      Isi

            Pengembangan bahasa iklan menjadi daya tarik untuk tujuan ekonomi dalam ranah advertising. Selain itu, diharapkan melalui penelaahan yang mendalam eksistensi bahasa iklan memberikan informasi yang positif yang dapat mengubah pola pikir, sikap, dan perilaku yang dapat menyadarkan masyarakat untuk dapat memilah mana yang diperlukan sehingga tidak berperilaku konsumtif. Dengan kata lain, melalui pilihan kata yang tepat diharapkan iklan dapat memberi pembelajaran yang positif pada berbagai kalangan masyarakat Indonesia untuk malu melakukan sesuatu perbuatan, pekerjaan, kebiasaan, dan tingkah laku yang kurang baik. Melalui sindiran, ejekan yang bersifat sarkasme dan sinisme mampu mengungkapkan kondisi sosial, budaya, politik, dan lain-lain.

2.1.      Pengertian Pemilihan Kata (Diksi)
   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat kalimat atau pernyataan.
   Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja diubah saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam kalimat. Lebih dari itu, bisa saja menimbulkan dampak atau reaksi yang berbeda jika digunakan dalam kalimat yang berbeda.

2.2       Ketepatan dan Kesesuaian Penggunaan Diksi
   Pemakaian kata mencakup dua masalah pokok, yakni: Pertama, masalah ketepatan memiliki kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau ide. Kedua, masalah kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tersebut. Menurut Keraf (2002 : 87) “Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembaca”. Masalah pilihan akan menyangkut makna kata dan kosakatanya akan memberi keleluasaan kepada penulis, memilih kata-kata yang dianggap paling tepat mewakili pikirannya. Ketepan makna kata bergantung pada kemampuan penulis mengetahui hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referennya.
            Seandainya kita dapat memilih kata dengan tepat, maka tulisan atau pembicaraan kita akan mudah menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dirasakan atau dipikirkan oleh penulis atau pembicara. Mengetahui tepat tidaknya kata-kata yang kita gunakan, bisa dilihat dari reaksi orang yang menerima pesan kita, baik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan. Reaksinya bermacam-macam, baik berupa reaksi verbal, maupun reaksi non verbal seperti mengeluarkan tindakan atau perilaku yang sesuai dengan yang kita ucapkan.

2.3.      Diksi dalam Kalimat
Diksi dalam kalimat adalah pilihan kata yang tepat untuk ditempatkan dalam kalimat sesuai makna, kesesuaian, kesopanan, dan bisa mewakili maksud atau gagasan. Makna kata itu secara leksikal banyak yang sama, tetapi penggunaanya tidak sama. Dari segi kesopanan, kata mati, meninggal, gugur, mangkat, wafat, dan pulang ke rahmatullah, dipilih berdasarkan jenis mahluk, tingkat sosial, dan waktu.
Contoh :
-          Kucing saya mati setelah makan ikan busuk
-          Ayahnya meninggal tadi malam
-          Pahlawanku gugur di medan laga
-          Beliau wafat 1430H.
            Dari segi makna, kata Islam dan muslim sering salah penggunaanya dalam kalimat. Kita pernah mendengar orang berkata, “Setelah menjadi Islam dia rajin bersedekah”. Seharusnya, “Setelah masuk Islam dia rajin bersedekah”. Kalau mau menggunakan kata menjadi maka selanjutnya harus menggunakan kata muslim. Contoh, “Setelah menjadi muslim dia rajin bersedekah”. Islam adalah nama agama yang berarti lembaga, sedangkan muslim adalah orang yang beragama Islam. Kata menjadi dapat dipasangkan dengan orangnya dan kata masuk tepat dipasangkan dengan lembaganya.

2.4.      Bahasa Iklan
            Bahasa dalam iklan dituntut mampu menggugah, menarik, mengidentifikasi, menggalang kebersamaan, dan mengombinasinasikan pesan dengan komparatif kepada khalayak (Stan Rapp & Tom Collins, 1995:152). Struktur kata dalam iklan menggugah, mencermati kebutuhan konsumen, memberikan solusi, dan memberikan perhatian, informatif, kata-katanya harus jelas, bersahabat, komunikatif, persuasif, rangkaian kalimatnya membuat konsumen nyaman, senang, dan menghibur. Contohnya pada iklan rokok A-Mild dalam seri “Tanya kenapa”.
            Seperti kita ketahui bahwa iklan-iklan seri tersebut selalu berisi kritik sosial. Dalam konteks ini, iklan rokok A-Mild mengusung brand rokok yang cerdas dan kritis terhadap kondisi masyarakat. Iklan A-mild ini unik sekaligus menghibur. Seringkali kita menemukan pesan, misalnya “Terus terang, Terang Ga bisa Terus-terusan”, “Mau pintar, ko mahal”, “Susah ngeliat orang seneng, seneng ngeliat orang susah”, Sebagian orang akan mengernyitkan dahi pada waktu membaca atau mendengar iklan tersebut. Perlu pemikiran yang cukup cermat dan agak lama. Untuk sebagian orang lagi, iklan ini memberikan makna yang sangat dalam bahwa masyarakat harus peka terhadap hal-hal yang tidak lugas.
            Bahasa yang dipakai dalam iklan harus mengarahkan target penonton yang menyaksikan tayangan iklan tersebut untuk membeli, menggunakan, atau beralih pada produk jasa yang diiklankan. Gaya bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan siapa ia berbicara, bagaimana kebiasaan perilaku, di mana mereka berada.
            Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa bahasa dalam iklan terkadang dipandang menarik, jika bersifat main-main, atau menurut Hakim (2006) bersifat “lanturan”. Menurutnya “lanturan” berbeda dengan kata yang melantur atau ngawur, tidak nyambung dengan topik yang dibahas. Sementara lanturan adalah sengaja melantur atau melantur dengan tujuan. Namun, lanturan yang dibuat harus selalu dijaga relevansinya. Hal yang paling dekat dengan lanturan adalah plesetan. Orang muda saat ini tidak merasa gaul jika tidak banyak berplesetan dalam bercanda. Orang tertawa ketika mendengar plesetan karena relevansinya. Relevansi dalam konteks ini adalah kata asli yang diplesetkannya.
            Sugiyono (2007) mengatakan bahwa dalam setiap iklan memunculkan unsur pengingat baik yang berupa suara, gambar, atau bahasa verbal menjadi amat penting sehingga suatu saat hanya dengan mendengar, melihat, atau membaca pengingat itu, konsumen langsung terhubung dengan produk yang diiklankan. Contoh ini dapat ditemukan pada masa orientasi di tingkat pendidikan menengah. Siswa baru harus membawa barang-barang yang harus mereka terjemahkan dari kata-kata yang ada pada iklan barang tersebut, seperti membawa, minuman biar nggak jajan (minuman Okky Jelly), minuman darah bangsawan bersoda (pepsi blue), snack mendesah, snack nggak sengaja (biscuit oopss), 1 gigitan 4 kelezatan (coklat beng beng).

2.5.      Perang Iklan Melalui Bahasa Verbal
            Permainan bahasa dan pemakaian makna konotatif umum dipakai dan diterapkan pada bahasa iklan. Contohnya sebuah lembaga pendidikan beriklan menggunakan kata-kata yang secara sepintas bermakna konotatif Akademi LP3I tempat kuliah orang berdasi. Makna orang berdasi yaitu pekerja kantoran, eksekutif, orang yang berkelas. Pemakaian makna konotatif memberikan imej lembaga yang diiklankan adalah tempat kuliah orang-orang berdasi. Pada kenyataannya, seragam yang digunakan lembaga pendidikan tersebut memang menggunakan seragam baju lengan panjang, celana berwarna gelap, dan berdasi. Ternyata orang berdasi yang dimaksud dalam iklan adalah makna denotatif atau makna sesungguhnya. Pembalikan logika dalam iklan bisa jadi untuk mengelabui belaka.
            Perang iklan melalui bahasa verbal, contoh lainnya adalah iklan operator selular yakni kartu As dengan XL. Iklan kartu As secara terang-terangan melemahkan iklan XL, ketika bintang iklan Rianti Cartwright bertanya pada Sule dengan kalimat “Siapa sich yang ada jam malamnya Om Sule?” lalu Sule Menjawab “Ssstt,,, ntar ada yang marah..!” sambil melirik ke arah kamera.
            Iklan kartu As tersebut menyindir iklan XL. Karena provider selular XL memberikan beberapa diskon dan pilihan tarif telepon namun dengan berbagai ketentuan misalnya ada batas jam malam untuk telpon mahal sedangkan kartu As menyatakan bahwa telpon murah berlaku dari pagi, siang, dan malam. Lirikan Sule ke arah kamera mengindikasikan bahwa ia mengejek iklan dari XL seolah-olah meyakinkan penonton untuk beralih ke kartu As.

2.6.      Bahasa Iklan dan Pragmatik
   Iklan adalah produk tontonan yang dikemas dalam sebuah rangkaian yang berisi berbagai tanda, ilusi, manipulasi, citra, dan makna (Arixs, 2006). Informasi melalui iklan dinilai berpengaruh langsung maupun tak langsung terhadap persepsi, pemahaman, dan tingkah laku masyarakat (Darmawan, 2006).
   Studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Pragmatik merupakan tataran yang ikut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Yule (1996: 3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (a) bidang yang mengkaji makna pembicara; (b) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (c) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; (d) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
   Thomas (1995:2) memandang pragmatik dari dua sudut pandang, (1) sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara speaker meaning; (2) sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran utterance interpretation. Selanjutnya Thomas (1995:22) mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi meaning in interaction.
   J.L. Austin (dalam Thomas 1995:31) melalui analisis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech act), berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran, benar-salah (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan, 2004:8).
   Austin, kemudian mengklasifikasikan tindak tutur dalam tiga aktivitas pembicara, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule, 1996:48). Tindak lokusi diartikan sebagai pengujaran kata atau kalimat dengan arti yang tetap dengan maksud tertentu atau berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna, tindak ilokusi adalah pembuatan pernyataan, perintah, janji, dalam sebuah ujaran menurut kesepakatan yang berhubungan dengan ujaran atau dengan ekspresi performatif. Dengan kata lain berkaitan dengan maksud pembicara, dan tindak perlokusi merupakan pengaruh atau akibat yang ditimbulkan oleh kata-kata atau kalimat ujaran terhadap pendengar dan situasi ujaran. Jadi, perlokusi berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas, 1995:49). Tindak tutur yang dikembangkan oleh Searle (Gunarwan, 2004:9) berupa tindak tutur langsung (direct speech-act) dan tindak tutur tidak langsung (indirect speech-act).
   Leech (1993:162) membagi tindak ilokusi dalam empat kategori, yaitu a. kompetitif, tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial, misalnya memerintah, meminta, menuntut, dan mengemis; b. menyenangkan, tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial, misalnya menawarkan, mengajak atau mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat; c. bekerja sama, tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial, misalnya menyatakan, melapor, mengumumkan, dan mengajarkan; d. bertentangan, tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial, misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.
   Searle (dalam Leech, 1993:164) menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur, yaitu asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicarnya benar, missalnya menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan; direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu, misalnya memesan, memerintah, memohon, memberi nasihat; komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya, misalnya menjanjikan, menawarkan; ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya, misalnya mengucapkan terima kasih, selamat, maaf, mengecam, memuji; dan deklarasi merupakan tindak tutur yang mengubah status sesuatu, misalnya mengundurkan diri, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman (Littlejohn 2002:80 dan Yule, 1996:53-54).

A.        Tindak Tutur
            “Minum makanan bergizi”, dalam ungkapan itu penutur mengatakan bahwa jika pendengar minum Energen berarti ia meminum makanan bergizi (lokusi), penutur melakukan tindak menyatakan bahwa minum energen berarti minum makanan bergizi (ilokusi), penonton membeli produk Energen dan merasakan manfaat gizi yang terkandung di dalamnya (perlokusi). “Ngga ada lo, ngga ‘rame’”penutur mengatakan bahwa kalau tidak ada pendengar tidak ramai (lokusi), penutur melakukan tindak menyatakan bahwa kalau tidak ada pendengar tidak ramai (ilokusi), penonton membeli produk Sampoerna Hijau dapat membuat suasana menjadi ramai. “Untung pakai Esia”, penutur mengatakan bahwa untung ia memakai Esia (lokusi), penutur melakukan tindak menyatakan bahwa untung ia pakai Esia (ilokusi), penonton memakai Esia karena Esia sangat murah biayanya (perlokusi).

B.        Jenis Ilokusi
            “Minum makanan bergizi”, penutur mengatakan bahwa kalau pendengar minum Energen berarti pendengar minum makanan bergizi (ilokusi langsung), penutur meminta pendengar untuk minum Energen karena mengandung makanan bergizi (ilokusi tak langsung). “Ngga ada lo, ngga ‘rame’”, penutur menyatakan bahwa kalau tidak ada pendengar suasananya tidak ramai (ilokusi langsung), penutur mengajak pendengar mengonsumsi Sampoerna Hijau yang dapat membuat suasana ramai (ilokusi tak langsung).”Untung pakai Esia”, penutur menyatakan bahwa kalau pendengar memakai Esia berarti pendengar untung (ilokusi langsung), penutur meminta pendengar untuk memakai Esia karena akan untung (ilokusi tak langsung).
            Fungsi ilokusi dari contoh-contoh iklan di atas adalah asertif penutur melakukan tindak menyatakan bahwa minum Energen berarti minum makanan bergizi, penutur melakukan tindak menyatakan bahwa kalau tidak ada pendengar tidak ramai, penutur melakukan tindak menyatakan bahwa untung ia memakai Esia.

3.      Kesimpulan

            Iklan memerlukan tampilan yang dikemas dengan bahasa membumi, kontekstual, dan ‘gaul’. Kondisi ini yang menyebabkan ada keprihatinan pada banyak kalangan. Ada yang berpendapat bahwa bahasa iklan tidak mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi belum ada kriteria bagaimana sebaiknya bahasa iklan tersebut. Bila membuat iklan dengan memperhatikan kaidah bahasa meng-gunakan pola SPOK, menggunakan kalimat efektif, kata-kata yang diguna-kan akan sangat panjang dan kurang menarik. Bahasa dalam iklan terkadang dipandang menarik, jika bersifat main-main, atau bersifat “lanturan”. Hal yang paling dekat dengan lanturan adalah plesetan. Orang muda saat ini tidak merasa gaul jika tidak banyak berplesetan dalam bercanda. Orang tertawa ketika mendengar plesetan karena relevan-sinya. Relevansi dalam konteks ini adalah kata asli yang diplesetkannya. Kata-kata dalam iklan merupakan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi; kata-kata tersebut merupa-kan jenis ilokusi langsung dan tak langsung, dan memiliki fungsi asertif.
            Dalam setiap iklan harus dimunculkan unsur pengingat baik yang berupa suara, gambar, atau bahasa verbal menjadi amat penting sehingga suatu saat hanya dengan mendengar, melihat, atau membaca pengingat itu, konsumen langsung terhubung dengan produk yang diiklankan. Kata yang dipilih harus dapat memberi ketepatan makna karena pada masyarakat tertentu sebuah kata sering mempunyai makna yang baik, dan pada masyarakat lain memberikan makna yang kurang baik. Penggunaan kata harus disesuaikan dengan norma kebahasaan suatu kalangan.


DAFTAR PUSTAKA

            Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.
            Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.
            Brown, Gillian., George Yule. 1996. Analisis Wacana. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
            Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana
            Darmawan, Ferry. Posmodernisme Kode Visual dalam Iklan Komersial”. Jurnal Komunikasi Mediator. 2006.
            Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta : Jalasutra.
            Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja.
            Kaswanti, Bambang (ed). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
            Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta : UI Press.
            Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
            Nurhayati, Eva. upt@pustakaupi.or.id URN etd-1221105-100307. Kajian Wacana Iklan Berbahasa Indonesia di Radio Ditinjau dari Sudut Pragmatik. Bandung:UPI.
            Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Sabda.
            Thomas, Linda., & Shan Wareing. 2007. Bahasa Masyarakat dan Kekuasaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
            Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.
            http://www.Kompas.com/Kompas-cetak/0611/18/humaniora/3101490
   http://peni-usd.vox.com/Library/post/Kegiatan belajar-2-bahasa-iklan-html.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

pak/bu saya minta tolong
saya butuh softfile dari makalah pragmatik dan pengajaran bahasa menyibak kurikulum milik asim gunarwan (IKIP SINGARAJA)
apabila bapak/ibu mempunyai saya mohon dikirimkan softfilenya
terimakasih banyak

softfilenya tolong dikirim ke cutnurazizah@rocketmail.com