Minggu, 30 Januari 2011

Kedudukan dan Fungsi Kamus Besar Bahasa Indonesia di Lingkungan Akademisi

Oleh : Maulana Husada.

Pendahuluan
Heroiknya pengguna bahasa tak kan pernah mempunyai jurang pemisah untuk berkomunikasi satu sama lain. Bayangkan bila suatu individu dengan individu lain memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi. Hal ini bukan tanpa solusi bila kamus yang telah menjawabnya. Hadirnya kamus sebagai identitas kekayaan negara akan selalu berdampingan dengan pengembangan bahasa di negara tersebut. Pengembangan bahasa yang dilakukan Pusat Bahasa akhirnya menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia hakikatnya membawa berkah sebagai usaha meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia yang telah menjadi bahasa negara.
Kamus sebagai salah satu usaha pengembangan bahasa Indonesia harus dilakukan, karena kita membutuhkan suatu alat komunikasi yang canggih untuk mempersatukan bangsa yang besar. Bangsa yang terbentang dari Sabang sampai merauke yang masyarakatnya multilingualisme. Masyarakat tersebut memiliki kesanggupan untuk memakai lebih dari dua bahasa. Keberagaman bahasa itu, pandangan dari segi politik merupakan suatu kendala yang besar dalam usaha mempersatukan bangsa.
Mengutip pernyataan Putu Wijaya dalam sebuah rubrik bahasa Majalah Tempo, “apa hanya dengan bersenjata kamus itu, seluruh teks, ekspresi, dan narasi dengan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, menjadi jelas? Bagi orang Indonesia sendiri, jawabannya mudah. Karena bahasa tidak harus dimengerti tetapi dirasa. Tanpa kamus itu pun, segalanya sudah jelas. Kata-kata sudah menyambung rasa tanpa mesti lebih dulu dipahami. Tetapi, bagi mereka yang “ibunya” tidak berbahasa Indonesia, kamus itu pun masih belum cukup. Karena bahasa Indonesia seperti sebuah peta buta”. Oleh karena itu, kedudukan dan fungsi KBBI bagi masyarakat merupakan masalah nasional tidak hanya di lingkungan akademisi.

Kedudukan dan Fungsi Kamus
Kamus adalah buku yang berisi daftar kosakata suatu bahasa yang disusun secara alfabetis dengan disertai penejalsan makna dan keterangan lain yang diperlukan serta dilengkapi dengan contoh pemakaian entri (KBBI, 2008:671). Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa yang berisi tentang makna kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Menurut Wikipedia, Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kedudukan kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia baku. Undang-undang Dasar 1945 menempatkan bahasa Indonesia pada posisi yang amat kuat. Bab XV Pasal 36 menyatakan, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia, bukan saja sebagai bahasa penghubung melankan menajdi bahasa resmi kenegaraan.
Dewasa ini, kekayaan khazanah kosakata yang idealnya mempunyai jumlah kata yang tidak terbatas. Ketidakterbatasan merupakan akibat dari entri kamus yang selalu berkembang dan sangat dinamis. Istilah kamus besar yang menjadi judul kamus bahasa Indonesia ini bukan semata-mata menyiratkan ukuran atau bobot fisiknya, melainkan lebih mempunyai makna yang bersangkutan dengan banyaknya informasi yang terkandung di penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta peradaban Indonesia. Bukan persoalan mudah bila kekayaan suatu bahasa sampai pada waktu tertentu yang disusun dalam lema lengkap dengan segala nuansa maknanya. Nuansa makna diuraikan dalam bentuk definisi, deskripsi, contoh, sinonim, atau parafrasa.
Pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, kata yang hendak dipakai untuk “pernyataan kemerdekaan” itu dalam bahasa Indonesia belum ada. Konsepnya ada, yaitu pernyataan kemerdekaan, tetapi istilah yang akan dipakai untuk itu belum ada. Peristiwa serperti itu tidak ada dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah seluruh Indonesia. Untuk keperluan tersebut, bahasa Indonesia harus mencari sebuah kata yang dapat mengisi konsep itu. Kita akhirnya memilih kata proklamasi yang kita serap dari bahasa Inggris, proclamation. Pemunculan kata proklamasi merupakan hasil kegiatan pengembangan bahasa.
Pengembangan bahasa itu antara lain meliputi penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan. Menurut Samuel Johnson, bapak leksikografi Inggris dan penyusunn Dictionary of Language (1755), menyatakan bahwa kamus berfungsi untuk menjaga kemurnian bahasa. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Noah Webster, bapak leksikografi Amerika yang menyusun An American Dictionary of the English Language (1876), kamus  yang menurunkan beberapa generasi kamus yang memakai nama Webster di Amerika. Pembuatan kamus adalah salah satu cara pengembangan bahasa dan hasil kodifikasi bahasa yang menjadi bagian dari pembakuan bahasa tersebut.

Mengapa di Lingkungan Akademisi ?
Kehadiran kamus sebagai produk dalam usaha pengembangan bahasa tak terlepas dari kegiatan pembinaan bahasa. Konsep sederhana mengenai perbedaan kedua hal ini terletak pada sasarannya. Kegiatan pembinaan bahasa bersasaran orang atau masyarakat pemakai bahasa, sedangakan kegiatan pengembangan bersasaran bahasa itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa pengembangan bahasa menghasilkan kata dan istilah sedangakan pembinaan bahasa memasyarakatkan kata itu ke khalayak.
Dari usaha pengembangan bahasa sejarah penerbitan KBBI, saat ini sejak KBBI terbit pertama kali pada tahun 1988 sudah mengalami 4 edisi. Edisi pertama memuat 62.100 lema yang tercetak ulang sebanyak tiga kali. Edisi Kedua terbit pada tahun 1991 yang memuat 72.000 lema yang tercetak ulang sebanyak 9 kali. Lalu edisi Ketiga yang terbit pada tahun 2005 memuat 78.000 lema yang tercetak ulang sebanyak 2 kali. Dan saat ini, Edisi keempat terbit pada tahun 2008 memuat lebih dari 90.000 lema dan sublema.
Dari uraian singkat di atas, jelaslah bahwa hubungan antara usaha pengembangan dan pembinaan sangat erat. Pembinaan akan dapat dilaksanakan apabila bahan yang dibina itu telah tersedia. Dalam hal ini tataran dalam lingkungan akademisi. Sebaliknya, hasil pembinaan pengembangan bahasa yang tidk diterapkan dalam kegiatan pembinaan merupakan kegiatan yang mubazir dan sia-sia. Oleh sebab itu keduanya harus saling mendukung.
Kamus merupakan sarana penting bagi pengajaran kosakata. Fenomena yang mudah kita amati, rasa kecintaan terhadap KBBI belum dapat kita ukur dengan statistika. Seberapa banyak mahasiswa ataupun dosen yang memiliki KBBI dibandingkan dengan kamus asing (Bahasa Inggris). Hal ini merupakan persoalan yang sulit bila tidak adanya upaya pengembangan dan pembinaan bahasa secara sinergis. Oleh karenanya peran dari sektor lingkungan akademisi menjadi langkah awal pembenahan pembinaan bahasa.
Salah satu kegiatan pembinaan bahasa dapat ditempuh dengan melakukan penyuluhan bahasa dan bimbingan kebahasaan dengan berbagai jalur. Jalur yang paling sentral adalah jalur sekolah. Jalur sekolah merupakan jalur yang paling baik dalam membentuk bahasa guru  sebagai pendidik dan pembentuk generasi muda. Alisjahbana (1962) mengatakan bahwa sistem persekolahan merupakan sarana penyebar bahasa kebangsaan (maksudnya bahasa Indonesia) yang amat penting. Melalui jalur ini tentu akan efektif memperkenalkan KBBI sejak dini kepada peserta didik.

Citrakan Kamus Senjata Bangsa
Kamus dapat menjadi senjata dalam usaha pengembangan bahasa Indonesia. Melalui kamus, khazanah perbendaharaan bahasa yang menggambarkan tingkat peradaban bangsa yang memilikinya. Oleh karenanya kamus merupakan sesuatu yang dibanggakan oleh setiap bangsa yang memilikinya karena hal tersebut adalah sebuah kebudayaan besar.
Peningkatan pengembangan bahasa Indonesia harus dilakukan sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia memenuhi syarat sebagai bahasa kebudayaan, keilmuan, teknologi atas dasar standarisasi atau pembakuan bahasa. Standarisasi bahasa dilakukan dengan mempertimbangkan data kebahasaan di Indonesia melalui evaluasi dan seleksi. Hasil akhir dari kegiatan pengembangan bahasa tersebut merupakan bahasa baku. Bagan berikut ini memberikan gambaran tenang proses pembakuan bahasa Indonesia.



                                                                                                                kebijakan bahasa
                                -- bahasa asing                                                                 |
Data kebahasaan   -- bahasa Indonesia  >>  evaluasi dan seleksi  >>  pembakuan  >>  bahasa baku  >>  evaluasi
                   -- bahasa daerah


Bagan di atas menunjukkan bahwa tujuan pengembangan bahasa adalah “pembakuan bahasa” atau “standarisasi bahasa” yang akhirnya akan diperoleh “bahasa baku” dan selanjutnya dientri pada kamus. Untuk itu, diperlukan kebijakan bahasa sebagai suatu garis haluan yang meletakkan ciri-ciri pembakuan bahasa itu. Pembakuan bahasa tersebut mencakup beberapa aspek ejaan, aspek struktur, dan aspek diksi. Contoh pembakuan bahasa melalui aspek ejaan atau unsur serapan dari kata asing.
a.    Semua kata asing berkonsonan ganda dapat mungkin akan diserap menjadi kata yang berkonsosnan tunggal.
Kata villa menjadi vila.
b.    Semua kata asing berakhiran –ity akan diserap menjadi –itas.
Kata activity diserap menajdi kata aktivitas.

Kesimpulan
Kehidupan bahasa yang multilingual bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk berkomunikasi. Kamus sebagai salah satu usaha pengembangan bahasa Indonesia harus dilakukan, karena kita membutuhkan suatu alat komunikasi yang canggih untuk mempersatukan bangsa yang besar. Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa yang berisi tentang makna kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Kedudukan kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia baku. Pembuatan kamus adalah salah satu cara pengembangan bahasa dan hasil kodifikasi bahasa yang menjadi bagian dari pembakuan bahasa.
Sektor lingkungan akademisi menjadi langkah awal pembenahan pembinaan bahasa. Jalur sekolah merupakan jalur yang paling baik dalam membentuk bahasa guru sebagai pendidik dan pembentuk generasi muda. Melalui jalur ini tentu akan efektif memperkenalkan KBBI sejak dini kepada peserta didik.
Kamus dapat menjadi senjata dalam usaha pengembangan bahasa Indonesia. Oleh karenanya kamus merupakan sesuatu yang dibanggakan oleh setiap bangsa yang memilikinya karena hal tersebut adalah sebuah kebudayaan besar.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang  Disempurnakan. Jakarta : Balai Pustaka. 

Majalah Tempo. Kamus. 13 Desember 2010. 

Tasa, S. Amran dan Zainal Abdul Rozak. 2009. Materi Pokok Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Terbuka.

Pusat Bahasa. 2003. Buku Praktis 1 dan 2. Jakarta. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Tidak ada komentar: