Selasa, 25 Januari 2011

MENULIS SEBAGAI PROSES KEGIATAN KOLABORASI DI SEKOLAH

oleh Nurmala Sari

Pendahuluan
         Keterampilan berbahasa secara umum dapat dibagi menjadi empat, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kegiatan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap muka dengan orang lain. Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif karena biasanya kegiatan menulis merupakan cerminan dari keterampilan lanjutan penguasaaan menyimak, berbicara, dan membaca.
         Keterampilan menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern. Bahkan merupakan suatu ciri dari orang atau bangsa yang terpelajar. Sebab dengan menulis, siswa dapat menyampaikan pemikirannya untuk dibaca orang lain. Kegiatan menulis terkait erat dengan kegiatan membaca karena untuk dapat menulis yang baik, siswa perlu berbagai referensi yang harus didapatkan dari membaca berbagai buku, artikel, jurnal, dan lain-lain.
Namun, saat ini menulis sebagai keterampilan bagi siswa seperti terabaikan. Ironi menyedihkan ini didukung suatu bukti yang didapat setelah observasi terhadap keterampilan menulis dilakukan di salah satu sekolah negeri. Hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa kurang dari kapasitas yang seharusnya telah mereka miliki, terutama dalam aspek kebahasaan. Coba perhatikan contoh berikut.










Contoh di atas menunjukkan bahwa siswa kurang mampu membentuk sebuah kalimat efektif dalam tulisannya. Kemudian pengetahuan terhadap ejaan dan tanda baca pun demikian. Padahal kemampuan menulis siswa yang menjadi objek observasi telah duduk di jenjang menengah atas/sederajat.
Kurikulum bahasa Indonesia telah dirumuskan oleh para ahli untuk memudahkan guru memberi porsi pengembangan pengetahuan yang harus didapatkan siswa secara bertahap sesuai jenjang-jenjang pendidikan yang mereka rasakan. Memang, kaidah dasar penulisan (seperti kalimat efektif, ejaan, tanda baca, dan sebagainya) lebih banyak dituangkan dalam kurikulum tingkat dasar dan menengah pertama. Karena kurikulum menengah atas/sederajat menempatkan siswa untuk dapat mengaplikasikan kaidah tersebut dalam konteks yang nyata, seperti dalam penulisan surat, naskah drama, resensi buku, ataupun karya ilmiah lain. Tapi hal itu bukan alasan bagi guru-guru menengah atas/sederajat untuk lepas tangan terhadap kemampuan dasar menulis siswa. Jika guru lebih dan terlalu fokus menyampaikan porsi pengembangan siswa yang hanya menjadi bagiannya, bagaimana dengan mutu kemampuan siswa yang menjadi keluaran nanti? Itulah yang banyak terjadi dalam pembelajaran menulis di sekolah di mana konsep yang telah dimiliki siswa tentang pengetahuan lampau jarang disinggung dan diuji kebenarannya. Parahnya, siswa harus menerapkan konsep itu dalam konteks yang nyata. Apa yang didapatkan guru? Hasil observasi inilah gambarannya. Hasil observasi mengamsumsikan bahwa guru kurang berperan baik dalam pembelajaran menulis terutama dalam pemberian umpan balik terhadap tulisan siswa. Titik penting inilah yang harusnya menjadi pijakan siswa untuk memperbaiki tulisannya tapi guru tidak memberikan pijakan itu.
Artikel ini bermaksud menyampaikan hal-hal apa saja yang memang seharusnya terjadi dalam pembelajaran menulis guna meningkatkan kemampuan berbahasa siswa dalam ragam tulis bahasa Indonesia. Karena kegiatan menulis merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Perkembangan teknologi pun (terlepas dari sisi negatif) sedikit-banyak telah memberikan kontribusi terhadap publikasi hasil tulisan, misalnya blog, mikroblogging twitter, aplikasi catatan dalam facebook, dan sebagainya yang tersebar dalam ranah dunia maya. Semuanya itu bisa dimanfaatkan guru untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap keterampilan menulis.

Ragam Tulis
Menurut Chaer (2007), bagi linguistik, ragam lisan adalah ragam primer yang menjadi prioritas dalam kajiannya, sedangkan ragam tulis adalah ragam sekunder. Meskipun begitu, peranan atau fungsi dari ragam tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Asumsi penggunaan ragam tulis adalah bahwa orang yang diajak berbahasa (pembaca) tidak ada di hadapan. Akibatnya bahasa yang digunakan harus jelas – lebih eksplisit – karena tidak disertai gerak isyarat, pandangan, atau anggukan sebagai tanda penegasan di pihak penulis. Itulah sebabnya ragam tulis sifatnya harus lebih cermat. Bentuk akhir kalimat ragam tulis biasanya berupa hasil penyuntingan beberapa kali karena penulis dituntut menulis kalimat dengan lengkap, ringkas (efektif), dan elok. Hal tersebut dapat tercapai jika penulis menaati kaidah-kaidah yang mengatur ragam tulis, misalnya pemakaian huruf kapital, tanda baca, ejaan kosakata, kaidah kalimat efektif, paragraf/alinea yang baik, dan sebagainya.
Tiap penutur bahasa pada dasarnya memanfaatkan ragam tulis sesuai dengan keperluan, apapun latar belakangnya. Namun, orang yang kurang mendalam proses belajarnya terhadap ragam ini tidak bisa disamakan dengan orang yang terpelajar. Salah satu pokok pengajaran bahasa di sekolah berkisar pada peningkatan ragam ini.
Tak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi memberi dampak pada pergeseran kedudukan ragam tulis dengan kehadiran peralatan radio dan telepon yang mendukung komunikasi langsung dengan ragam lisan. Tapi setelah internet menjadi kebutuhan primer dunia saat ini guna memenuhi kehausan akan informasi, ragam tulis kembali mengorbit. Terlebih dengan hadirnya situs-situs berbagi informasi (blog) dan jejaring sosial yang kian menjamur.

Teori Penulisan yang Sebaiknya Didapatkan Siswa
Dituntut beberapa kemampuan sekaligus untuk menghasilkan tulisan yang baik. Misalnya untuk dapat menulis esai, penulis harus memiliki pengetahuan tentang apa yang akan ditulis dan bagaimana menuliskannya. Pengetahuan pertama menyangkut isi karangan, sedangkan yang kedua menyangkut aspek-aspek kebahasaan dan teknik penulisan (Akhadiah: 1996). Hal-hal ini yang seharusnya ada dalam pembelajaran menulis di sekolah guna menciptakan penulis-penulis handal di kemudian hari baik yang bersifat ilmiah maupun tidak.
Isi karangan berkaitan material atau bahan yang disiapkan untuk tulisan. Isi dari karangan berhubungan dengan jenis karangan apa yang hendak ditulis siswa. Berdasarkan jenisnya, karangan terbagi menjadi lima jenis, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Bagi seorang penulis membedakan lima jenis karangan tersebut merupakan hal yang patut. Namun, kadang sebuah tulisan tak hanya dibangung oleh satu jenis karangan saja. sebuah tulisan narasi, misalnya, dalam penggambaran latar tempat yang baik akan membutuhkan jenis karangan deskripsi dalam penyampaiannya. Aspek-aspek kebahasaan dalam tulisan akan berkenaan dengan tata bahasa, seperti pilihan kata (diksi), kalimat efektif, paragraf yang baik, dan kaidah tata tulis yang menyangkut ejaan. Banyak buku panduan atau pedoman yang dapat digunakan guru dan siswa sebagai acuan pembelajaran aspek-aspek kebahasaan dalam penulisan. Pengetahuan siswa terhadap aspek-aspek kebahasaan tersebut akan membantu siswa menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan benar. Komponen teori penulisan yang terakhir mengenai teknik penulisan. Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek, yaitu yang gaya penulisan dalam membuat pernyataan dan teknik notasi dalam menyembutkan sumber tulisan.

Ayat Sesat dalam Pembelajaran Menulis
Sebenarnya dalam proses pembelajaran, mata pelajaran apa pun, ada kegiatan-kegiatan yang menuntut siswa untuk menulis. Menjawab pertanyaan pemahaman secara tertulis yang berkaitan dengan topik bahasan, membuat catatan sendiri, membuat rangkuman atau membuat laporan adalah kegiatan-kegiatan menulis yang biasa dilakukan di dalam proses pembelajaran. Terlebih dalam pembelajaran bahasa Indonesia, siswa belajar tentang teori-teori menulis dengan sedikit praktik menulis. Namun, ternyata kegiatan-kegiatan tersebut tidak serta merta menjadikan siswa terampil menulis.
Secara empirik sering muncul pertanyaan bagaimana memulai menulis atau bagaimana membuat tulisan yang baik. Menulis sesungguhnya berkait erat dengan dua hal besar, yakni 1) kemampuan material (isi) tulisan dan 2) berkait erat dengan kemampuan kebahasaan (tatabahasa/teknik penulisan). Seseorang yang menguasai tatabahasa (teknik penulisan) belum tentu dapat menulis apabila dia tidak menguasai bahan (material) menulis. Sebaliknya, seseorang yang menguasai bahan (material) menulis akan mendapatkan hambatan besar dalam proses menulis apabila dia tidak mengetahui tatabahasa (teknik menulis).
Kelemahan pembelajaran menulis selama ini terletak pada miskinnya model pembelajaran menulis. Pembaruan pada bidang menulis masih sangat langka. Akibatnya, pembelajaran menulis dari masa ke masa tidak pernah menunjukkan hasil yang memuaskan. Siswa tidak memiliki pengalaman menulis yang memadai dan sebagian besar tidak mampu menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk bahasa tulis. Mereka gagap berkomunikasi tulis.
Alwasilah (2003) menunjukkan 11 “ayat sesat” dalam pembelajaran menulis di perguruan tinggi. Namun, dari 11 ayat yang ada hanya 9 di antaranya yang sesuai dengan kondisi siswa di sekolah, yakni 1) literasi adalah kemampuan membaca, sehingga menulis terabaikan; 2) penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis, padahal penguasaan teori belum tentu mampu menulis; 3) tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar; 4) menulis bisa diajarkan manakala siswa telah menguasai tatabahasa; 5) karangan yang sulit dipahami menunjukkan kehebatan penulisnya; 6) menulis bisa diajarkan manakala siswa sudah dewasa; 7) menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya; 8) pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa; dan 9) menulis mesti diajarkan lewat pembelajaran bahasa.

Menulis sebagai Proses Kegiatan Kolaboratif di Sekolah
Menulis dilakukan dengan melibatkan emosional manusia sebagai sebuah potensi (Bird, 2001). Sebagai sebuah keterampilan, teknik menulis bisa diajarkan (Bird, 2001:32). Atas dasar itu, seharusnya keterampilan menulis di sekolah dirangkai dalam beberapa tahapan. Keterampilan menulis yang baik bisa didapat dengan proses belajar dan latihan karena kegiatan menulis itu sendiri adalah sebuah proses, yaitu proses penulisan.
Menulis sebagai sebuah proses harus dilakukan secara berkesinambungan. Ini berarti bahwa untuk menjadi penulis, seseorang harus melakukan kegiatan menulis secara terus-menerus. Intensitas menulis akan menentukan apakah seseorang memiliki ketajaman yang baik atau tidak terhadap permasalahan yang ditulisnya. Mengajarkan keterampilan menulis tidak hanya menekankan pada proses menghasilkan satu tulisan, lebih pada bagaimana siswa secara bertahap mampu membuat karya tulis yang baik dan benar sesuai kaidah ragam tulis.
Berikut ini lima terobosan yang diajukan oleh A Chaedar (2005) dalam pengajaran bahasa agar siswa mampu menulis, yaitu:
1. Giatkan menulis kolaboratif
Kolaborasi adalah suatu teknik pengajaran menulis dengan melibatkan sejawat atau teman untuk saling mengoreksi. Sejawat yang diajak berkolaborasi itu disebut kolaborator. Dalam kelas besar, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil membentuk literacy circle, terdiri atas tiga atau empat orang. Masing-masing anggota membaca karangan atau tulisan teman dalam kelompoknya. Sewaktu membaca, kolaborator memberikan tanda pada kesalahan-kesalahan kecil dan setelah itu memberikan komentar atau respons terhadap tulisan teman-teman satu kelompoknya.
Cara ini terbukti efektif dalam kelas perkuliahan Pengembangan Keterampilan (PK) Menulis di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ketika seorang penulis menyunting hasil tulisan sendiri, ia akan sulit menemukan kesalahannya dan beranggapan bahwa tulisannya itu sudah benar dan baik. Kesalahan-kesalahan yang ditemukan orang lain dalam tulisan merupakan umpan balik yang efektif selain dari guru untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
2. Tumbuhkan rasa senang waktu menulis
Untuk membangun keterampilan menulis, biarkan potensi siswa meledak-ledak, berteriak, menjerit, berisak tangis, berbisik sendu, bermesra ria dengan nuraninya sendiri dalam bentuk yang disukainya, baik dalam bentuk tulisan informatif, argumentatif, eksploratif, imajinatif, persuasif, atau ekspresif. Adanya rasa senang membuat anak menjadi aktif menulis.
Mungkin cara ini bisa diterapkan dengan tidak menyampaikan teori terlebih dahulu, meskipun hendak mengajarkan bagaimana siswa secara bertahap mampu membuat tulisan yang baik dan benar sesuai kaidah ragam tulis. Mengapa? Karena siswa akan frustasi kalau berkenaan dengan teori saja sudah sulit, bagaimana ia akan senang saat menulis. Lebih baik guru meminta siswa menulis dahulu tanpa terpaku pada teori, setelah itu lakukan cara pertama dan barulah mengulas kesahalan itu dengan membandingkan terhadap teori yang ada. Cara seperti ini akan lebih berkesan karena ada sebuah perbandingan nyata yang didapatkan siswa.
3. Berikan feedback (umpan balik)
Berikan masukan dan komentar yang produktif, interaktif, dialogis, dan mencerdaskan pada tulisan siswa, bukan sekedar komentar basa basi. Sehingga siswa merasa diperhatikan oleh gurunya dengan sepenuh hati. Perhatian guru merupakan inspirasi buat siswa untuk meningkatkan prestasinya.
Pemberian umpan balik ini yang sering dilewatkan oleh guru bahasa dalam pembelajaran menulis. Memang sulit menilai sebuah tulisan yang memang menjadi kelemahan tes uraian. Butuh konsentrasi tinggi dan waktu banyak untuk menilai tulisan dengan baik. Tapi seharusnya itu bukan alasan bagi guru bahasa yang memang telah berkomitmen mendidik siswa guna memiliki keterampilan menulis yang baik.
4. Gunakan bidang studi sebagai media
Beri kesempatan pada siswa untuk menulis dengan tema yang mereka kuasai. Biarkan mereka menulis dengan bebas. Mereka bebas menuliskan apa saja yang ingin dituliskan sesuai dengan bidang yang dikuasainya.
Cara ini membuka fakta bahwa tidak semua siswa menyukai bidang bahasa karena tidak memiliki kemampuan lebih di bidang itu. Mungkin hal ini berkaitan dengan kecerdasan jamak yang digagas oleh Howard Gardner. Selain itu, cara ini sesuai dengan strategi pemerolehan bahasa kedua – di Indonesia merupakan bahasa Indonesia karena bahasa pertama adalah bahasa daerah yang juga sebagai bahasa ibu – yang berpegang pada semboyan: Gunakan apa saja atau segala sesuatu yang penting, yang menonjol, dan menarik hati Anda.
5. Ajarkan menulis sedini mungkin
Kita dapat fasih berbahasa lisan karena kita telah membiasakannya sejak kecil. Andaikan sejak kecil kita sudah dibiasakan menulis, tentu kita akan terampil menulis pada saat ini. Jadi, faktor kebiasaan dan banyak berlatih adalah kunci dalam menulis.
Kesinambungan latihan merupakan proses yang harus dilakukan guna melatih keterampilan menulis. Dengan demikian, guru sepatutnya menyiapkan skema latihan menulis. Guru jangan berhenti saat kompetensi dasar menulis selesai diberikan karena menulis merupakan kegiatan produktif yang dilakukan selama proses belajar.
Dengan kelima cara yang diajukan oleh A. Chaedar tersebut, guru bahasa dapat mengajarkan menulis sebagi proses kegiatan kolaboratif di sekolah.

Sumber Pustaka sebagai Sumber Bahan Penulisan
Bahan penulisan ialah semua informasi atau data yang dipergunakan untuk mencapai tujuan penulisan. Data tersebut mungkin merupakan teori, contoh-contoh, rincian, fakta, dan sebagainya yang dapat membantu seorang penulis dalam mengembangkan topik yang dipilihnya. Bahan itu dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti buku, makalah, jurnal, skripsi, tesis, bahkan laman situs.
Studi kepustakaan menuntut seorang penulis membaca kritis semua bahan yang diperlukan. Kecekatan menyeleksi bermacam-macam sumber yang mengandung sudut pandang berbeda dan bertentangan perlu dimiliki. penulis dituntut memilih, menimbang, menolak, dan menyusun kembali bahan-bahan yang ada ke dalam suatu tulisan yang dapat meyakinkan pembaca. Hal inilah yang mendudukan sumber pustaka sebagai sesuatu yang vital dalam tulisan, terlebih untuk tulisan argumentasi yang tak sekedar berisi pendapat atau opini, melainkan juga harus berisi data untuk memperkuatnya. Jadi, dengan adanya data, pembaca akan yakin bahwa pendapat atau opini yang tertuang dalam tulisan bukan sebuah pepesan kosong tak berharga, tetapi sesuatu yang patut dibaca sebagai pengetahuan.
Sayangnya guru-guru saat ini kurang mendorong siswa untuk membaca sumber-sumber pustaka primer dan sekunder terkait pembelajaran selain buku modul yang menjadi pegangan mereka sehari-hari. Ironinya lagi, guru pun hanya mengandalkan buku-buku paket atau modul lembar kerja siswa sebagai acuan mereka untuk mengajar. Kebiasaan inilah yang harus diubah di sekolah. Seorang guru takkan bisa mencetak siswa dengan kemampuan menulis (baik ilmiah maupun nonilmiah) yang baik, jika dirinya sendiri malas membaca sumber pustaka primer dan sekunder serta mandul dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Bukankah di awal telah disampaikan bahwa menulis (terutama ilmiah) merupakan ciri dari bangsa terpelajar.
Perpustakaan (baik konvesional maupun digital) dan ranah dunia maya jelas tempat yang harus dituju untuk memperoleh sumber pustaka primer dan sekunder guna menjadikannya sebagai bahan tulisan. Tapi ironi kembali yang didapat karena siswa lebih rutin berkunjung ke mal daripada perpustakaan dan siswa lebih rutin berkunjung ke laman situs jejaring sosial untuk senang-senang daripada berkunjung ke laman-laman situs sarat pengetahuan seperti perpustakaan digital atau blog pengetahuan. Kalau saja perpustakaan (baik konvesional maupun digital) dan ranah dunia maya yang sarat pengetahuan dapat dimanfaatkan dengan baik maka siswa akan mendapatkan banyak manfaat, terlebih untuk bahan penulisan yang mencakup hal-hal ilmiah. Inilah hubungan budaya literasi (membaca) dan menulis yang sama sekali tidak bisa diputuskan.
Memang ada faktor lain yang menyebabkan siswa enggan mengunjungi perpustakaan selain karena rasa malas mereka. Faktor itu adalah perihal koleksi buku yang terbatas. Biasanya yang tersedia di sana adalah buku-buku terbitan lama yang tak bisa lagi dijadikan referensi belajar, terutama untuk menciptakan sebuah tulisan yang menuntut pembahasan tentang topik-topik teranyar. Menyiasati kelemahan perpustakaan tersebut, perlu dilakukan pembicaraan antara guru dan pihak sekolah. Jika guru dan sekolah ingin perpustakaan mereka seperti mal-mal yang rutin dikunjungi siswa dan ingin keluara-keluaran mereka menjadi pemikir dan penulis handal, maka pembenahan harus dilakukan terhadapnya, misalnya memperbarui koleksi, menambah koleksi, membuat jadwal wajib bagi siswa untuk berkunjung, dan sebagainya. Bukankah telah dituliskan dalam kurikulum menengah/sederajat bahwa di akhir pendidikan pada jenjang ini peserta didik atau siswa telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra. Ini mengasumsikan bahwa pemerintah pun peduli terhadap budaya literasi di negeri kita. Bagaimana mengetahui hal tersebut sudah dilakukan siswa atau belum? Guru dan sekolah bisa meminta siswa membuat laporan buku atas buku-buku yang telah dibacanya dan menyimpan laporan buku itu di perpustakaan. Bayangkan jika seorang siswa membaca 15 buku berbeda, berapa banyak laporan buku yang akan tersimpan di perpustakaan sekolah sebagai koleksi yang kemudian dapat menjadi sumber pustaka bagi siswa.


Kesimpulan

Banyak keuntungan yang bisa didapat dari kegiatan menulis, antara lain adalah dipaksa untuk lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Dengan demikian, kegiatan menulis memperluas wawasan baik secara teoretis maupun mengenai fakta-fakta yang berhubungan. Selain itu, yang terpenting adalah kegiatan menulis mengenai suatu topik mendorong untuk belajar secara aktif, menjadi penemu sekaligus pemecah masalah. Bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain.
Tidak ada kata terlambat bagi guru membelajarkan siswa untuk menulis dan meningkatkan ilmu pengetahuan mereka lewat keterampilan berbahasa. Ayat sesat yang telah disebutkan harus menjadi cermin intropeksi untuk mengubah gaya pembelajaran menulis yang monoton dan merugikan. Persepsi menulis sebagai proses harus ditanamkan dan diintegrasikan dengan cara yang diajukan oleh A. Chaedar Alwasilah. Sehingga diperoleh kegiatan menulis sebagai proses kegiatan kolaborasi di sekolah guna mewujudkan pembelajaran menulis yang baik dan efektif. Teori penulisan yang seharusnya didapatkan siswa juga harus tepat dan bersumber pada pustaka primer tentangnya. Pemahaman siswa pada teori penulisan merupakan dasar mereka untuk menghasilkan tulisan yang baik dan benar. Salah satu tugas guru yang penting ialah menjaga dan menghubungkan kepingan pengetahuan lampau siswa dengan kepingan pengetahuan baru yang akan mereka dapatkan sehingga terbentuk ilmu yang utuh dalam kognitif mereka. Misalnya pengetahuan siswa tentang kaidah dasar penulisan yang mencakup ejaan, tanda baca, huruf kapital, dan lain-lain yang banyak disajikan dalam kurikulum menengah pertama akan berhubungan dengan penulisan surat, resensi buku, maupun karya ilmiah lain dalam kurikulum menengah atas yang menitikberatkan pada penggunaan kaidah tersebut dalam konteks yang nyata untuk kehidupan siswa nanti. Dengan demikian, diharapkan tak lagi ditemukan ironi seperti pada pendahuluan di mana siswa yang seharusnya telah memiliki kemampuan tentang kaidah dasar penulisan tapi setelah dites, didapatkan hasil yang nihil karena guru kurang peduli tentang itu.
Indoktrinasi perlu dilakukan pada siswa tentang pentingnya menulis, bahkan dalam zaman yang sangat sulit mencari pekerjaan seperti sekarang ini. Keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis tidak saja dijadikan sumber ilmu dan wawasan, tetapi dapat juga dijadikan sebagai sumber nafkah. Siswa yang menguasai keterampilan menulis dengan baik, maka diharapkan dapat menjadi penulis lepas dikemudian hari, seperti menjadi penulis esai, cerpen, novel, artikel, jurnal, dan sebagainya. Bahkan mungkin saja menjadi wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik. Tetapi semua itu perlu belajar dan latihan karena menulis adalah kegiatan proses yang berkesinambungan.
Tak hanya itu, yang harus diingat adalah bahwa kegiatan menulis selalu berkaitan erat dengan kegiatan membaca, karena dengan membaca dapat diperoleh sumber pustaka yang diperlukan untuk bahan penulisan. Maka sering-seringlah berkunjung ke perpustakaan, entah itu perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, ataupun perpustakaan nasional, dan gunakan secara positif ranah dunia maya yang menyajikan informasi tanpa batas tentang pengetahuan. Membaca sumber pustaka harus dilakukan karena pekerjaan menulis harus dilandasi dengan pengetahuan umum yang luas, yang diperoleh dari berbagai referensi yang ada. Tanpa latar belakang pengetahuan umum yang luas maka tidak mungkin dapat menulis dengan baik. Tetapi semua itu harus dilandasi juga dengan tanggung jawab sosial dan moral, yakni tertarik dengan berbagai aspek kehidupan dan rasa tanggung jawab terhadap kebenaran. Untuk itu, sebagai pelajar yang ingin menjadi penulis yang baik harus belajar dan berlatih dengan tekun dan ulet serta berani. Benjamin Franklin (salah satu presiden Amerika Serikat) pernah mengatakan, “Jika Anda tidak ingin dilupakan orang segera setelah Anda meninggal, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau berbuatlah sesuatu yang patut diabadikan dalam tulisan”.


Kepustakaan

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV Andira.

Alwasilah, A. Chaedar dan Senny Suzanna Alwasilah. Pokoknya Menulis: Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama

Alwi, Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Bird, Camel. 2001. Menulis dengan Emosional, Panduan Empatik Mengarang Fiksi. Bandung: Kaifa.

Chaer, Abdul. 2007. Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar: