Selasa, 25 Januari 2011

EVALUASI DALAM MENULIS ARGUMENTASI SEBAGAI PENGEMBANGAN DIRI

oleh Gita Rosi Wulandari

Pendahuluan
Essay ini merupakan sebuah dorongan untuk para pendidik lebih memperhatikan tulisan siswa dengan melakukan evaluasi demi pengembangan diri masing-masing siswa. Essay ini mengambil sudut pandang terhadap teori-teori dalam evaluasi menulis. Essay ini bertujuan untuk menginformasikan kepada para pendidik betapa pentingnya evaluasi yang dilakukan bersama siswa. Dalam hal ini siswa juga harus mengetahui bagaimana cara penilaian dalam menulis yang dilakukan guru agar siswa pun dapat termotivasi untuk menulis dan menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah tulisan yang argumentatif. Semua ini bisa menjadi alat untuk pengembangan diri siswa.
Dewasa ini, guru di sekolah tidak menginformasikan bagaimana dan apa saja yang dinilai dalam sebuah tulisan yang argumentatif kepada siswanya. Hal ini yang menyebabkan siswa mulai jenuh dan bosan untuk menulis karena guru tidak memberikan motivasi dan memberitahu tentang kesalahan yang ada dalam tulisan masing-masing siswa. Padahal, dengan mengetahui penilaian dalam menulis guru dapat mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa dan siswa dapat mengembangkan intelektualnya. Karena dengan menulis akan memacu otak dan pikiran yang selalu memaksa untuk berpikir dan menuangkan ide-ide secara sistematis dalam sebuah tulisan.


Peran Guru
Informasi yang disampaikan di atas sangat penting bagi pembaca dan guru pada khususnya. Dalam melakukan evaluasi atau ,menilai dari hasil kerja siswa, di sinilah peran guru yang sangat penting. Memberi penilaian terhadap masing-masing siswa terutama penilaian dalam hal menulis, dapat memberikan makna bagi guru maupun bagi siswa sendiri, seperti siswa akan mengetahui di mana letak kesalahan yang dilakukan siswa dan diperberbaiki untuk mengembangkan tulisannya, sedangkan bagi guru bermakna untuk mengetahui sejauh mana siswanya dapat menyerap pelajaran dan menilai metode yang digunakan sudah mencapai tujuan dari kompetesi dasar atau belum.[1]
Untuk mengetahui kemampuan siswa, guru perlu mengadakan evaluasi berupa tes. Tes yang dimaksud di sini adalah tes bahasa. Tes bahasa tersebut untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dalam penguasaan bahasa siswa. Tes bahasa ini dapat ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan bahasa siswa pada umumnya, atau salah satu aspek bahasa: menyimak, membaca, berbicara dan menulis.[2] Dalam hal ini saya menitikberatkan terhadap tes bahasa untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis.
Semua ini tergantung kepada para guru tentang bagaimana pola mengajar di kelas. Saat belajar di dalam kelas, siswa butuh suasana baru. Maksudnya, guru harus kreatif dalam memilih model dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran yang tentunya sudah disesuaikan dengan materi pelajaran. Dengan kekreatifan seorang guru, maka siswa akan termotivasi belajar lebih aktif di kelas. Dorongan dan motivasi yang kuat dari guru akan mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri siswa. Karena guru adalah orang tua kedua bagi siswa di sekolah.
Materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru yang menyenangkan, dapat menumbuhkan rasa keingintahuan yang lebih tentang pelajaran tersebut. Siswa juga tidak akan merasa bosan saat belajar mengajar berlangsung.


Mengapa Menulis Argumentasi?
Seseorang memiliki kemampuan menulis sejak berada di bangku sekolah dasar. Namun, orang itu tetap harus mengasah kemampuan menulisnya hingga di perguruan tinggi. Kegiatan yang dilakukan dalam menulis terdiri dari tiga tahapan, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi.[3] Beberapa alasan seseorang ingin menulis, di antaranya menulis untuk mengisi waktu, menulis guna up date blog, menulis untuk memberikan informasi, menulis untuk tujuan komersil, dan menulis karena memang sudah tugas.[4]
Dalam hal menulis argumentasi, seseorang dapat menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam tulisan yang argumentatif dan disertai dengan fakta-fakta yang ada. Karena karangan argumentasi bisa membuat pola pikir siswa secara logis dan juga kritis serta mengajarkan pola pikir yang sistematis. Namun, karena banyaknya fakta-fakta yang dapat dijadikan bahan untuk memperkuat tulisan seseorang, maka ia harus benar-benar menyeleksi fakta-fakta apa saja yang memang dapat mendukung argumennya.[5] Dengan membiasakan siswa untuk menulis karangan argumentasi, dapat membangkitkan pola pikir siswa secara kritis yang dituangkan dalam tulisannya. Karena terbiasanya siswa dalam hal ini, akan memudahkannya saat ia melanjutkan ke perguruan tinggi, yaitu saat ia ingin menulis sebuah tulisan ilmiah. Bukan hanya untuk masa yang akan datang, jika siswa sudah terlatih untuk itu, siswa dapat mengirimkan hasil tulisannya ke dalam surat kabar.
Pada karangan argumentasi, seorangpenulis harus memperhatikan dua hal, yaitu pengarang harus mengetahui tentang subyek dan obyek yang akan dikemukakannya sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiahnya, dan pengarang harus bersedia mempertimbangkan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri.[6] Dengan begitu siswa dilatih untuk bisa mempertahankan pendapatnya yang disertai dengan fakta-fakta yang mendukung. Melalui tulisan argumentasi ini akan membentuk sebuah pengembangan diri pada diri siswa masing-masing. Hal ini akan terlihat saat penilaian. Saat guru memberikan evaluasi atau umpan balik kepada siswa, dan siswa akan memperbaiki tulisannya agar lebih baik lagi.

Evaluasi dalam Menulis Argumentasi Sebagai Pengembangan Diri
Dalam menulis sebuah karangan argumentasi, ada beberapa penilaian yang harus diperhatikan, di antaranya pendahuluan, tubuh argumen, dan kesimpulan. Dalam sebuah pendahuluan seorang penulis bisa memulai tulisannya dengan sesuatu yang menarik. Hal ini juga bisa terlihat dari judul yang ditulis. Pada bagian tubuh argumen, penulis bisa menuangkan pendapatnya tentang sesuatu hal. Selain memberikan pendapat, penulis juga harus menyertakan bukti, yaitu berupa fakta yang ada di sekitar penulis. Dalam tubuh argumen ini tentunya juga harus diperkuat dengan teori-teori yang mendukung pendapat penulis. Di sini pula penulis harus bisa mempertahankan gagasannya dan bisa mempertanggungjawabkan hasil tulisannya. Dan pada bagian kesimpulan, penulis dapat menyimpulkan bagaimana fenomena yang ada dan disesuaikan dengan teori-teori. Dan apa saja yang dapat menyebabkan fenomena-fenomena itu terjadi. Semua terangkum dalam kesimpulan.
Seperti halnya berbicara, menulis juga merupakan kegiatan penggunaan kemampuan bahasa yang aktif produktif yang sebaiknya diselenggarakan dalam bentuk tes subjektif.[7] Dengan bentuk tes yang bersifat subjektif, guru dapat melihat bagaimana pola pikir dari masing-masing siswa, bagaimana bahasa yang digunakan dalam tulisannya, serta alur yang sistematis. Dalam menyelenggarakan tes subjektif pada umumnya, pertanyaan-pertanyaan dapat disusun dalam bentuk (a) tes esei, (b) tes dengan pertanyaan menggunakan kata Tanya, (c) tes dengan pertanyaan jawaban pendek, dan (d) tes melengkapi.[8] Dalam hal ini tes esei adalah tes menulis (argumentasi). Karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang aktif produktif, maka penilaiannya berdasarkan proses, unsur-unsur penggunaan bahasa yang sangat tergantung kepada kesukaan dan kekreatifan siswa (penulisnya)
Evaluasi (penilaian) dalam menulis argumentasi khususnya dapat dijadikan sebagai pengembangan diri siswa. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa peran guru (pendidik) lah yang sangat berperan dalam hal ini. Dengan dilatihnya siswa secara terus menerus berdasarkan proses sistematis, maka siswa akan mengetahui bagaimana seharusnya dan apa-apa saja yang harus diperbaiki dalam tulisannya.
Proses pematangan atau berfungsinya kedua bagaian otak secara holistik pada lingkungan tentunya akan mengembangkan kemampuan berpikir menalar pada individu.[9] Untuk mewujudkan hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan motivasi kepada siswa. Karena motivasi ini dapat membantu tercapainya tujuan yang ada pada diri siswa dan bisa dijadika alat untuk mencapai sebuah tujuan belajar yang telah ditetapkan oleh guru. Agar dapat terwujudnya semua tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, guru harus bisa memilih metode atau model maupun media yang digunakan sesuai dengan materi pelajaran. Dengan bervariasinya model dan juga media yang digunakan oleh guru, akan membawa dampak positif terhadap pengembangan minat belajar siswa dengan mata pelajaran guru tersebu.

Fenomena
Cerita ini ditulis untuk memudahkan pembaca dalam memahami tulisan ini. Beberapa waktu lalu dilakukan observasi (pengamatan) di salah satu sekolah di Jakarta, dan siswa diberi tugas untuk membuat sebuah tulisan narasi berdasarkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sekitar. Saat proses menulis berlangsung siswa-siswa dalam kelas seperti bosan, jenuh, dan malas untuk menulis. Mungkin hal ini bisa disebabkan guru kelas yang tidak membiasakan siswa untuk selalu menulis guna pengembangan diri siswa masing-masing. Alhasil, saat diperiksa hasil pekerjaan dari semua siswa, ternyata nilai yang diperoleh sangat tidak memuaskan. Dalam tulisan siswa masih banyak terdapat kesalahan seperti kesalahan ejaan, kesalahan tanda baca, penulisan huruf kapital sampai penyusunan kalimat demi kalimat yang menyebabkan ketidak paduan antar kalimat itu.
Setelah di pertemuan kedua dengan siswa-siswa tersebut, ternyata guru yang mengajar di kelas sudah mulai membiasakan mereka untuk menulis sebuah karangan entah itu narasi, eksposisi, deskripsi, argumentasi. Tetapi letak kesalahannya bukan hanya tidak membiasakan siswa untuk menulis, tapi juga dipenilaiannya. Guru tidak memberitahukan siswa apa saja yang dinilai dalam sebuah tulisan (narasi,argumentasi, eksposis, deskripsi) atau umpan balik kepada siswa. Sehingga siswa tidak ada perkembangan dari hasil tuisan sebelumnya dengan tulisannya yang sekarang. Padahal, dengan siswa mengetahui tentang penilaian apa saja dan bagaimana seharusnya menulis, siswa dapat mengembangkan pola pikir yang akan lebih sistematis dan logis dari sebelumnya.

Kesimpulan
Dengan mengajak siswa agar terbiasa dalam menulis, guru dapat melihat perkembangan diri siswa melalui pola pikir yang dituangkan dalam tulisannya. Selain itu, guru juga harus memanfaatkan proses evaluasi dalam pembelajaran menulis khususnya untuk menilai bagaimana perkembangan siswa. Dalam proses evaluasi yang dilakukan, guru memberikan umpan balik kepada siswa tentang hasil tulisan siswa dan menyuruh siswa merivisi tulisan tersebut. Misalnya kesalahan pada ejaan, huruf kapital, kata penghubung yang digunakan, kohesi antar kalimat sehingga menjadi sebuah paragraf, juga kesalahan tanda baca. Jika hal ini dilakukan terus, siswa akan terbiasa dalam menulis yang baik karena sudah diajarkan sedari dini. Dengan begitu, siswa tidak akan kaget kalau melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. Karena di tingkat ini mahasiswa dituntut untuk lebih mengembangkan pola pikir yang dituangkan dalam sebuah tulisan yang baik tentunya dengan melihat fenomena-fenomena yang ada disekitar.


Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Djiwandono, Soenardi. 2008. Tes Bahasa. Jakarta: PT Indeks.


Kasim, Anwar. 2004. Psikologi Perkembangan. (Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.

Keraf, Gory. 2007. Argumentasi dan Narasi. (Jakarta: Gramedia.


[1] Suharsimi Arikunto. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara. 2008) hlm.6
[2] Soenardi Djiwandono. Tes Bahasa. (Jakarta: PT Indeks. 2008) hlm.12
[3] Sabarti Akhadiah, dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. (Jakarta: Erlangga. 1996) hlm. 2
[5] Gory Keraf. Argumentasi dan Narasi. (Jakarta: Gramedia. 2007) hlm. 99
[6] Ibid., hlm. 102
[7] Soenardi Djiwandono, op.cit., hlm. 122
[8] Ibid., hlm. 56
[9] Anwar Kasim, Psikologi Perkembangan. (Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. 2004), hlm. 15

Tidak ada komentar: