Selasa, 25 Januari 2011

Keterampilan Berbicara sebagai Sarana Sukses Berbisnis MLM (Multi Level Marketing)

1.   oleh Ayu Puspa Nanda

      Pendahuluan
Ada banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk meraih sukses. Jika kita mendatangi daerah yang unggul dengan agrarianya, kita akan melihat sekumpulan orang yang sibuk memanen padi di sawah, menanam palawija, membajak sawah, dan segala hal yang bisa membuat mereka bertahan untuk memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, jika kita mendatangi daerah yang unggul dengan kekayaan lautnya, kita akan menyaksikan ibu-ibu yang sibuk membersihkan ikan dari hasil tangkapan suaminya di malam hari. Lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang hidup di kota-kota besar? Banyak masyarakat menilai bahwa hidup di kota besar identik dengan profesi tinggi, dimana semua orang duduk di hadapan komputer, berdiam diri di dalam  ruangan ber-AC, serta memiliki level finansial yang lebih tinggi dibandingkan orang yang bekerja di daerah. Padahal penghasilannya pun belum tentu mencukupi kebutuhan mereka untuk bertahan di kota-kota besar. Kini banyak orang, baik itu karyawan kantor, manager dan profesi lainnya memilih sebuah bisnis yang mudah, murah dan membuat mereka lebih cepat kaya, yakni bisnis jejaring atau MLM (Multi Level Marketing).
MLM (Multi Level Marketing) yang ada di Indonesia memiliki bermacam-macam nama dan sistem yang berbeda antara satu MLM dengan MLM lainnya. Perlu diketahui, MLM bukan hanya digeluti oleh orang yang berada, melainkan menyebar ke semua kalangan. Ini berarti, baik pelajar, ibu rumah tangga, tukang ojek, supervisor sebuah perusahaan sampai pengusaha banyak yang menjalani bisnis ini, baik sebagai bisnis utama maupun sebagai bisnis sambilan. Di sini penulis tidak akan menyoroti bagaimana MLM bisa mengucurkan uang yang banyak bagi para anggotanya, penulis juga tidak akan menyebutkan MLM mana yang baik atau yang buruk, melainkan penulis akan memfokuskan terhadap pelatihan (training) yang diselenggarakan oleh masing-masing MLM untuk meningkatkan kemampuan intra dan interpersonal anggotanya. Karena MLM akan terwujud bilamana ada komunikasi yang terjadi antara anggota ke sesama anggota ataupun anggota ke orang lain yang belum menjadi anggota. Hal inilah yang akan penulis bahas dalam artikel yang berjudul “MLM (Multi Level Marketing) sebagai sarana pengembangan keterampilan berbicara”.

2.      MLM, Bisnis Jejaring yang Digandrungi
Dalam hal ini, penulis hanyalah seorang mahasiswa semester 5 jurusan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta. Penulis terlatih untuk menjadi pendidik, sastrawan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kebahasaan, kesusasteraan serta menggabungkan empat kemahiran berbahasa sebagai nilai lebih bagi profesi penulis kelak. Tetapi, perhatian penulis terhadap fenomena yang ada saat ini membuat penulis ingin mengangkat gejala ini sebagai topik dari artikel ini.
Sebelumnya, penulis ingin mengajak pembaca untuk peka terhadap fenomena yang terjadi saat ini. Kita adalah bangsa yang maju, jadi walaupun penulis dididik untuk menjadi guru atau dosen nantinya, penulis berusaha melihat fenomena yang terjadi dalam kehidupan luas bukan hanya dalam lingkup pendidikan. Karena pada dasarnya, seseorang akan sukses ketika kita berani membuka mata untuk melihat keadaan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup di dunia ini membutuhkan banyak pengorbanan, banyak usaha, banyak bekerja, banyak berdoa, hanya untuk bisa bertahan dalam suatu rangkaian yang diciptakan oleh Tuhan, yakni kehidupan. Tetapi jika kita peka dan melihat keadaan sekitar, tidak banyak orang yang memiliki kesempatan untuk hidup nyaman, tidak semua orang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan karyawan kantor pun tidak sepenuhnya bisa hidup sesuai dengan harapan. Mengapa demikian? Karena persaingan khususnya di kota Jakarta terlalu tinggi, karena biaya hidup di kota Jakarta pada khususnya terlalu besar. Padahal sebenarnya mereka tidak mempunyai jumlah pemasukan yang sepadan dengan nominal pengeluaran.
Dari pernyataan di atas, hal yang paling mungkin untuk mengangkat jenjang kehidupan mereka adalah dengan mengikuti sebuah bisnis jejaring yang sedang marak belakangan ini. Entah darimana datangnya konsep bisnis seperti itu, yang jelas bukan hanya satu atau dua orang saja yang bisa sukses karena bisnis ini, tetapi semua orang yang ingin berkomitmen dan yakin akan sukses, bisa tertolong dengan bisnis ini. Mungkin tidak semua orang menyukai apa yang disebut dengan MLM, tapi ini salah satu bentuk ikhtiar. Selama MLM itu tidak menyimpang dari norma-norma, MLM dikatakan hallal dan boleh digeluti oleh siapa saja. Bersyukurlah kita, bisa mempunyai tabungan, rumah, mobil, jabatan, keluarga yang bahagia tanpa harus menyentuh apa itu MLM. Tapi bagi seseorang yang memiliki keinginan sukses yang besar, MLM pun patut diperhitungkan.
Ada beberapa kelebihan bisnis MLM dibandingkan bisnis konvensional, antara lain:(1) Syarat gabung yang lunak, (2) Sistem dan Marketing Plan disediakan oleh perusahaan, (3) Produk jadi dan siap jual, (4) Dapat dijadikan paruh waktu, (5) Waktu yang fleksibel, (6) Dapat dijalankan dari rumah, (7) Income yang terus bertambah, (8) Personal Growth.[1] Dan penulis akan memfokuskan pada poin ke delapan, yaitu tentang pengembangan pribadi anggota khususnya dalam pengembangan keterampilan berbicara.
Dalam hal ini penulis tidak bermaksud untuk membuat artikel ini dengan tujuan advertensi. Penulis hanya akan meneliti dan memberikan informasi, bagaimana sebuah bisnis yang sedang digandrungi masyarakat saat ini, bisa membawanya pada sebuah kesuksesan yang mereka impikan. Apa sebenarnya kunci sukses dalam MLM itu sendiri?
Tentu argumentasi ini cenderung sepihak. Karena dalam kenyataannya bukan hanya bisnis ini yang bisa membuat seseorang menjadi sukses, tapi ada hal-hal yang patut dipelajari di sini, yakni sebuah usaha yang unik, yang tidak dilakukan di bisnis-bisnis lainnya, yaitu pelatihan yang rutin diadakan oleh semua MLM, baik yang berjenis produk kesehatan, produk kecantikan, atau aksesori sekalipun.

3.      MLM, Bisnis Asik Sarat Ilmu
Dalam menjalankan sebuah bisnis, seseorang harus memiliki sebuah modal. Menurut manajemen strategi, diperlukan modal minimal sebesar 30 juta rupiah untuk memulai sebuah bisnis dan dari 30 juta itulah pebisnis mengharapkan sebuah pemasukan yang lebih besar. Semakin besar modal, akan semakin besar pula bisnis yang dijalankan. Contohnya, restoran, butik, salon, dan lain sebagainya. Tapi permasalahannya, tidak banyak orang yang memiliki uang sampai puluhan juta untuk berwirausaha. Dalam hal ini, MLM bisa memberikan peluang sukses bagi orang-orang yang hanya memiliki dana minim. Ini menjadi sesuatu yang menarik perhatian banyak orang untuk menjalankan bisnis.
Lalu, apa yang membuat orang-orang bisa sukses menjalankan bisnis MLM tanpa modal yang besar? Bahkan hanya bermodalkan puluhan ribu sampai satu jutaan saja, tukang ojek pun bisa menjadi jutawan. Inti dari bisnis MLM ini adalah komunikasi.
Segala hal yang dilakukan di dunia ini membutuhkan interaksi dan komunikasi. Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa atau lazim, baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.[2] Sedangkan menurut Bovee, komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan.[3] Dalam MLM, terdapat proses pertukaran informasi yang terancang melalui sistem yang telah dibuat. Karena MLM adalah sebuah bisnis, maka komunikasi yang dilakukan pun adalah komunikasi bisnis.  Komunikasi bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup komunikasi verbal dan nonverbal.[4]
Tidak semua individu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Oleh karena itu, setiap orang yang tergabung dalam bisnis MLM diharuskan mengikuti pelatihan (training) yang rutin diadakan. Hal ini selain membantu anggota agar semakin cakap berbicara di depan umum, pelatihan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk memudahkan anggota dalam memahami istilah-istilah yang digunakan dalam MLM, juga untuk memahami sistem dan mengetahui semua hal yang harus dilakukan dalam bisnis ini. Biasanya pelatihan ini diadakan secara cuma-cuma, jadi anggota dalam bisnis ini pun bisa belajar sambil meraup keuntungan.
Ada beberapa hal yang harus dilalui dalam hal berkomunikasi. Hal ini dinamakan proses komunikasi. Proses komunikasi terdiri atas 6 tahap: (1) Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan, (2) Pengirim mengubah ide menjadi suatu pesan, (3) Pengirim menyampaikan pesan, (4) Penerima menerima pesan, (5) Penerima menafsirkan pesan, (6) Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim pesan.[5] Keenam proses ini pasti dilakukan oleh para pelatih (trainer) dalam memotivasi anggotanya agar termotivasi untuk cepat sukses. Dan bagi para anggota yang telah mengikuti pelatihan, pastinya akan menerapkan konsep-konsep yang telah diberikan pada saat pelatihan. Hal ini bisa dilihat ketika seorang anggota MLM sedang merekrut anggota baru untuk bergabung. Tetapi semua tergantung kepada individu masing-masing. Ada individu yang memang kreatif, bahkan ia bisa melakukan upaya melebihi apa yang telah disampaikan oleh pelatihnya.
Dalam memulai bisnis ini, banyak orang yang tidak ingin terjun dengan alasan, “saya ga biasa ngomong, saya orangnya pendiam”. MLM tidak pandang bulu. Siapa yang ingin sukses, maka ia akan sukses. Bukan sebaliknya, siapa yang tidak mahir berbicara, maka ia tidak akan sukses. Ketika seseorang yang sudah mahir berbicara itu terjun langsung ke bisnis ini, dia pun harus mengikuti pelatihan yang dibuat oleh pihak perusahaan. Karena anggota dilatih berbicara sesuai prosedur dengan variasi-variasi di dalamnya. Perbedaannya hanya terlihat dari segi mental, orang yang sudah terbiasa berbicara depan umum akan lebih mudah bersosialisasi ketika menghadapi orang-orang baru. Tetapi, bisnis ini tidak menutup kemungkinan bahwa anggota yang awalnya tidak mahir berbicara bisa lebih sukses dari anggota yang mahir berbicara. Inilah yang membuat bisnis ini merata.
Ada pertanyaan seperti ini, adakah pengaruh keterampilan berbicara dengan keuntungan yang dihasilkan? Jawabannya, sangat ada. Karena ketika kita terjun dalam bisnis ini, salah satu modal utama kita adalah berbicara. Bahkan, dalam sehari biasanya anggota disarankan untuk membicarakan produknya minimal kepada lima orang yang baru. Jadi semakin kita pandai berbicara, semakin kita sering berinteraksi, peluang untuk sukses semakin besar.
Ada beberapa tahapan khusus yang dilakukan seseorang ketika ingin merekrut anggota baru. Sebenarnya hal ini berlaku bagi semua orang yang memang berkecimpung di dunia yang membutuhkan komunikasi sebagai hal penting dalam usahanya, bahkan seorang guru pun seharusnya mencontoh tahapan-tahapan ini ketika ingin mengajarkan materi kepada peserta didik. Tahapannya antara lain, (1) ice breaking, hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Membuat cerita-cerita lucu, membuat calon anggota merasa nyaman, atau dengan berkenalan dan memberikan senyum manis kepada calon anggota. (2) Identity, hobby, and identify, jadi setelah kita bertegur sapa, hal selanjutnya adalah mengenal calon anggota lebih jauh. Apa hobbinya, pekerjaannya, dan apa yang menjadi tujuan utama dari calon anggota baru itu, sehingga ia sangat ingin bergabung dalam bisnis MLM. Ketika kita mengetahui kata kuncinya (keyword), kita akan dengan mudah melakukan promosi tentang produk atau aksesori yang kita tawarkan. Bahkan kita bisa dengan mudah membuat orang itu bergabung dengan terus menyinggung kata kunci yang tadi sudah diperoleh. (3) Promotion, promosikan bisnis anda dengan sistem mudah yang anda buat semenarik mungkin. (4) Object Handling, membuat cara bagaimana mengontrol objek tersebut, agar bisnis ini berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. (5) Closing, meminta calon anggota baru untu mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran sesuai dengan aturan yang tersedia. Lalu bisnis sudah bisa dijalankan.
Terkadang orang menyepelekan kegiatan seperti ini, tapi sesugguhnya berbicara di depan umum dengan tujuan merekrut calon anggota baru itu lebih sulit daripada presentasi di hadapan guru untuk mendapatkan sebuah nilai. Karena pada saat merekrut orang lain, bukan hanya kefasihan berbicara yang dibutuhkan, tetapi juga mental yang kuat. Jadi ketika calon anggota baru menolak untuk bergabung dalam bisnis ini, pebisnis awal sudah siap dengan segala resiko dan bisa tetap kuat menjadi bisnis yang akrab dikenal dengan bisnis penolakan ini.
Komunikasi dalam bisnis MLM dilakukan dengan menggabungkan dua cara, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia bisnis untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain baik secara tertulis maupun lisan. Bentuk ini memiliki struktur yang teratur dan terorganisasi dengan baik sehingga tujuan penyampaian pesan-pesan bisnis tercapai dengan baik. Dalam bisnis MLM, persentase keterampilan berbicara 30%, menulis 9% , mendengar 45% dan membaca 16%.[6] Jadi, bisnis ini secara tidak langsung mengajarkan empat keterampilan berbahasa, walaupun dalam hal ini berbicara dan mendengarlah yang menjadi pasangan yang paling baik diterapkan dalam bisnis MLM.
Berbeda dengan komunikasi verbal, komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi yang paling mendasar dalam komunikasi bisnis. Berikut yang termasuk dengan komunikasi nonverbal adalah (1) Bahasa isyarat, (2) Ekspresi wajah, (3) Sandi, (4) Simbol-simbol, (5) Pakaian seragam, (6) Warna dan Intonasi suara.[7] Jika keduanya benar-benar diterapkan, maka bisnis ini akan berjalan dengan maksimal.

4.      Tukang Ojek di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang Bisa Menjadi Jutawan
Demi kepentingan ilustrasi dan membuat artikel ini mudah dibaca, penulis akan memberikan pengalaman konkret yang penulis alami. Percaya atau tidak, tukang ojek yang dimaksud dalam subjudul di atas adalah teman SMA orang tua penulis dulu. Nama beliau Sumaryanto. Lima tahun yang lalu, beliau mendatangi rumah kami dengan motornya yang sudah sangat usang. Waktu itu beliau baru saja mengikuti bisnis MLM yang bergerak dalam bidang kesehatan. Jangankan untuk berbicara, ketika ia wenawarkan produk saja caranya sangat tidak menarik. Orang tua penulis yang memang tidak menyukai bisnis tersebut menolak dengan halus. Dengan berbagai macam alasan. Lalu empat tahun bergulir, datanglah om penulis yang masih berada di daerah Curug, Tangerang. Ia datang menawarkan produk yang sama dengan produk yang dulu bapak Sumaryanto tawarkan. Dengan alasan kekeluargaan, akhirnya orang tua penulis membeli satu produk. Spontan orang tua penulis berkata, “Beli produk ini, jadi ingat teman SMA. Empat tahun yang lalu, teman saya Sumaryanto pernah kesini dan menawarkan produk dan bisnis MLM ini juga”. Belum lagi orang tua penulis selesai bicara, om penulis memotong, “Sumaryanto itu teman kamu? Beliau upline[8] saya. Sekarang rumah dia dimana-mana, mobilnya lebih dari tiga. Uangnya pun sekarang ratusan juta bahkan miliaran. Stockist yang ada di Tangerang pun milik dia”. Orang tua penulis langsung menggeleng tidak percaya. Karena teman SMAnya yang terkenal pendiam itu kini sudah berubah drastis, baik kepribadiannya maupun kehidupannya. Ini barulah salah satu fakta yang ada.
Satu fakta lagi dan masih di daerah Tangerang. Penulis mempunyai teman yang bernama Anggi Tri Widianingsih. Kami sama-sama alumni SMP Negeri 9 Tangerang. Kami bertemu kembali lewat situs jejaring sosial. Lalu kami mengadakan kesepakatan untuk bertemu. Ini merupakan contoh komunikasi verbal dalam bentuk tulisan. Penulis bertanya tentang bisnis MLMnya, dan ternyata dia sudah memiliki penghasilan 7 juta per bulan. Padahal dia masih menjalani pendidikannya sebagai mahasiswi semester 5 di universitas negeri di Provinsi Banten, dan hebatnya lagi, dia berhasil membuktikan bahwa bisnis MLM tidak mengganggu waktu belajarnya. Selama lima semester, IPK Anggi 4 dan dia mendapatkan beasiswa penuh dari kampusnya. Sungguh mahasiswi yang patut dijadikan suri tauladan.
Setiap harinya, ia selalu membawa katalog dan menawarkan ke semua orang yang ia jumpai. Anggi memang tidak seperti bapak Sumaryanto yang pemalu, tetapi Anggi mampu menarik perhatian banyak orang karena usahanya yang gigih dengan cara membicarakan produknya ke setiap orang yang ia jumpai. Ia mahir berbicara, tetapi ia mampu menemukan cara bagaimana menarik perhatian calon anggota agar ia mau terjun dalam bisnis MLM.
            Kedua orang di atas merupakan dua dari seribu orang yang sudah sukses di bisnis MLMnya. Kedua orang tersebut pasti memiliki perbedaan kepribadian dibandingkan dengan orang yang tidak mengikuti bisnis MLM, salah satunya adalah pengembangan pribadi yang jauh lebih unggul. Mereka sudah bisa mengatur siklus keuangan, mereka bisa berbicara di depan khalayak umum dengan mahir dan mereka bisa meraih semua impian yang mereka rajut dalam khayalan dan diimplikasikan dalam sebuah bukti nyata.

3.   Penutup
MLM layaknya sebuah pipa, dimana ketika air ingin dialirkan dari dataran tinggi ke dataran rendah, satu pipa tidaklah cukup. Dibutuhkan pipa-pipa yang lain, dan itu adalah jaringan yang memang menjadi inti dari bisnis ini. Karena jaringanlah bisnis ini bisa berkembang dan karena keterampilan berbicaralah bisnis ini bisa dikembangkan. Bisnis MLM merupakan bisnis yang menjanjikan asalkan kita bsa berkomitmen dengan bisnis tersebut. Bisnis ini mengajarkan betapa proses itu sangat penting. Latihan dan belajar adalah kunci penting dalam bisnis ini.


DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Joko. 2006. Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.

Tampubolon, Robert. 2007. 9 Sinergi Kekuatan. Jakarta: Gramedia.

Tubbs, Stewart. L. 2001. Human Communication. Bandung: Rosda Karya.

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Rosda Karya.

Bovee, Courtland L, Thiil, John V. 2000.  Business Communication Today, International Edition. Upper Sadle River, New Jersey. Prentice Hall International.

Kiyosaki, Robert. T. 2005. Success Stories. Jakarta: Gramedia.

Goud, Bill. 2006. Tranformational Thinking. Jakarta: Gramedia.


[1] Robert Tampubolon,  9 Sinergi Kekuatan, (Jakarta: Gramedia, 2007), hlm.17-19.
[2] Joko Purwanto, Komunikasi Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm.3.
[3] Courtland L Bovee and John V Thiil, Business Communication Today, International Edition, (Upper Sadle  River, New Jersey: Prentice Hall International, 2000), hlm.7.
[4]  Joko Purwanto, loc.cit.
[5] Courtland L Bovee and John V Thiil, Op. Cit., hlm.11.
[6] Joko Purwanto, Op. Cit., hlm.5.
[7] Ibid., hlm.5.
[8] Anggota MLM yang posisinya ada di atas anggota MLM yang baru bergabung, bawahannya disebut downline.

Tidak ada komentar: