Selasa, 18 Januari 2011

Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan

oleh Kelompok 5 :
Dewi Gustiana Putri
Irma Budiastuti
Ulfah Mutia Rani

PENDAHULUAN

Paradigma pembelajaran telah berubah dari pola lama, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada pendidik, instructor-centered instruction, ke arah pembelajaran yang berfokus pada peserta didik learner-centered instruction. Perubahan paradigma arah atau kecenderungan pembelajaran ini akhirnya mengubah pola interaksi pembelajaran dalam kelas. Pola pembelajaran yang pertama menempatkan pendidik sebagai satu-satunya sumber belajar, sebaliknya pada pola kedua menempatkan peserta didik sebagai fokus pembelajaran.
Perubahan ini telah diilhami oleh adanya teori-teori dan pendekatan-pendekatan baru dalam praktek pembelajaran dewasa ini. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas proses pendidikan adalah melalui pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem pembelajaran, kita bisa melihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi pilihan metodik bagi para guru maupun dosen (pendidik).
Belajar berbasis masalah, atau yang lebih popular dengan Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode atau cara pembelajaran, atau mungkin dalam pelatihan, yang ditandai oleh adanya masalah nyata, a real world problems, sebagai sebuah konteks bagi para pebelajar untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan. Perihal ini mencakup baik pengetahuan dan tindakan.

PEMBAHASAN 
(POKOK LAPORAN BUKU) 


Penulis             :   M. Taufiq Amir
Penerbit           :   Kencana Prenada Media Group
Tahun              :   2009
Halaman          :   150
Ukuran            :   15 x 23 cm
Berat               :   0.23 kg
ISBN              :   978-979-1486-63-7
Kategori          :   Pendidikan & Keguruan (Ilmu Pendidikan)

Ringkasan Isi Buku

Salah satu metode yang banyak diadopsi untuk pendekatan pembelajaran learner centered dan yang memberdayakan pemelajar adalah metode Problem Based Learning (PBL). PBL memiliki ciri-ciri seperti (Tan, 2003; Week & Kek, 2002); pemebelajaran dimulai dengan pemberian ‘masalah’, biasanya ‘masalah’ memiliki konteks dengan dunia nyata, pemelajar secara berkelompok aktif merumuskan masalah dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan mereka, mempelajari dan mencari sendiri materi yang terkait dengan ‘masalah’, dan melaporkan solusi dari ‘masalah’. Sementara pendidik lebih banyak memfasilitasi. Ketimbang memberikan kuliah, ia merancang sebuah scenario masalah, memberika clue- indikasi-indikasi tentang sumber bacaan tambahan dan berbagai arahan dan saran yang diperlukan saat pemelanjar menjalankan proses. Meskipun bukanlah pendekatan yang sama sekali baru, penerapan metode PBL mengalami kemajuan yang pesat di banyak perguruan tinggi dan berbagai disiplin ilmu di negara-negara maju (Tan, 2003).
Sejak dipopulerkan di McMaster University Canada pada tahun 1970-an, metode PBL terus berkembang (Marinick, 2006). Akhir-akhir ini perkembangan itu semakin nyata terutama karena beberapa hal berikut (Tan, 2004) : adanya peningkatan tuntutan untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, aksebilitas informasi dan ledakan pengetahuan, perlunya penekanan kompetensi dunia nyata dalam belajar, serta perkembangan dalam bidang pembelajaran, psikologi, dan pedagodi.
Dunia praktik seperti dunia bisnis memang mengalami banyak perubahan-perubahan yang akhirnya juga menuntut perubahan pada keluaran institusi pendidikan, seperti pendidikan tinggi misalnya. Dalam hal ini, pendidikan tinggi harus membekali pemelajaranya dengan sesuatu yang mereka butuhkan di masa datang, sepanjang hidupnya. Studi yang menunjukkan tuntutan kalangan bisnis banyak menemukan bahwa untuk menjadi pemimpin dan bisa bekerja dalam kelompok, orang perlu kemampuan memecahkan masalah. Mereka juga harus mampu mengidentifikasi masalah, punya rasa tertarik pada aplikasi pengetahuan atas masalah yang mereka hadapi sebagai profesional. Yang mendapatkan fokus penekanan dalam proses PBL, seperti kata Peterson (2004), bukan saja pada saat pembelajaran itu terjadi, tapi juga nantinya di masa datang, yakni kecakapan-kecakapan yang diperoleh akibat proses itu. Apa (pengetahuan dan konten pembelajaran) yang diketahui pemelajar kurang begitu penting dibandingkan bagaimana (kecakapan-kecakapan) ia mengetahuinya.
Prinsip-prinsip metode PBL memang mendukung pemikiran di atas. Donalds Woods (2000) menyebutkan PBL lebih dari sekedar lingkungan yang efektif untuk mempelajari pengetahuan tertentu. Ia dapat membantu pemelajar membangun kecakapan sepanjang hidupnya dalam memecahan masalah, kerja sama tim, dan berkomunikasi. Lynda Wee (2002) menyebutkan ciri proses PBL sangat menunjang pembangunan kecakapan mengatur diri sendiri (self directed), kolaboratif, berpikir secara metakognitif, cakap menggali informasi, yang semuanya relatif perlu untuk dunia kerja. Apa yang disampaikan Woods dan Wee di atas menunjukan PBL sejalan dengan gagasan di pendidikan tinggi kini yang seharusnya member penekanan partisipasi aktif pemelajar.
Proses PBL akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pemelajar pun harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok kecil. Umumnya, setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan Proses 7 Langkah:
·         Langkah 1 : Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas.
Memastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan konsep yang ada dalam masalah.
·         Langkah 2 : Merumuskan Masalah.
Fenomena yang ada dalam masalah menuntut penjelasan hubungan-hubungan apa yang terjadi di antara fenomena itu.
·         Langkah 3 : Menganalisis masalah.
Terjadi diskusi yang membahas informasi aktual, menjelaskan dan menganalisis bersama anggota kelompok.
·         Langkah 4 : Menata gagasan Anda dan secara sistematis menganalisisnya dengan dalam.
·         Langkah 5 : Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Kelompok dapat merumuskan tujuan pembelajaran karena kelompok sudah tahu pengetahuan mana yang masih kurang, dan mana yang masih belum jelas.
·         Langkah 6 : Mencari tambahan dari sumber yang lain (di luar diskusi kelompok).
·         Langkah 7 : Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasi baru, dan membuat laporan untuk dosen atau kelas.

Keunggulan PBL ada diperancangan masalah. Masalah yang diberikan haruslah dapat merangsang dan memicu pemelajaran dengan baik. Masalah yang disajikan oleh pendidik dalam proses PBL yang baik, memiliki ciri khas seperti berikut (Wee, Kek, 2002):
1.      Punya keaslian seperti didunia kerja.
2.      Dibangun dengan memperhitungkan pengetahuan sebelumnya.
3.      Membangun pemikiran yang metakognitif dan konstruktif.
4.      Meningkatkan minat dan motivasi pemelajar.
5.      Satuan acara perkuliahan (SAP) yang seharusnya menjadi sasaran mata kuliah tetap dapat terliputi dengan baik.

Di atas telah dipaparkan sedikit ringkasan mengenai buku “Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning”, untuk lebih jelasnya lagi akan dijelaskan bahwa setiap bab berisikan:
Ø  Bab 1   Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Berbagai perubahan lingkungan pendidikan dan berbagai implikasinya di era pengetahuan (knowledge era)
·         Bagaimana pembelajaran berorientasi pada pendidik (teacher centered) harus dianggap using dan berganti ke wilayah yang berorientasi pada pemelajar (learner centered)
·         Bagaimana pembelajaran yang berorientasi pada pemelajar akan membuat pemelajar itu terberdayakan (empowered)
·         Secara ringkas tentang metode Problem Based Learning (PBL), dan bagaimana karakter PBL dapat memberdayakan pemelajar

Ø  Bab 2   PBL dan “Masalah” dalam Pembelajaran
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Bagaimana “masalah” menjadi unsur penting utama dari pendekatan PBL
·         Bagaimana pentingnya sebuah “masalah” dalam pembelajaran
·         Bagaimana pendidik dapat merumuskan “masalah” yang akan diganakan dalam PBL
·         Proses PBL secara  lebih detail, termasuk tentang bagaimana 7 langkah proses PBL diterapkan di dalam kelas
·         Bagaimana dalamnya manfaat PBL bila proses yang dianjurkan terlaksana dengan baik

Ø  Bab 3   Merancang “Masalah” dalam PBL
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Perancangan masalah dalam PBL serta mengapa keunggulan PBL ada pada aspek ini
·         Fitur-fitur yang harus disajikan pada masalah dalam pendekatan PBL
·         Contoh bagaimana sebuah masalah, termasuk penjelasan mengapa unsur-unsur tertentu disertakan dalam masalah tersebut
·         Pentingnya pemahaman pendidik atas konteks dunia nyata dan tuntutan kemampuan untuk menulis

Ø  Bab 4   Memfasilitasi Sesi PBL
Dalam bab  ini akan dibahas :
·         Lancarnya proses PBL sangat tergantung dengan bagaimana pendidik memfasilitasi prosesnya, terutama proses berpikir pemelajar
·         Bagaimana mejalankan fungsi pendidik sebagai coach yang menuntun dan membimbing proses PBL
·         Bagaimana menggunakan perangkat-perangkat untuk memfasilitasi PBL
·         Pentingnya mengukuhkan lagi pemahaman dari mahasiswa tentang proses belajar kelompok yang baik

Ø  Bab 5  PBL dan Proses Dalam Kelompok
Dalam bab ini akan dibahas :
Bagaimana pendidik menjelaskan bahwa proses bekerja dalam kelompok yang harus dilakukan pemelajar :
·         Mulai dari tentang persiapannya, prinsip komunikasi yang harus berlangsung, tabiat yang harus dijalankan, pembagian tugas hingga evaluasi yang harus dijalankan.
·         Begitu pula dengan penyelesaian laporan dan proses presentasi yang ideal yang perlu dijalankan.

Ø  Bab 6  Merasakan Pelaksanaan 7 Langkah proses PBL
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Bagaimana sebuah kelompok pemelajar, secara hipotekal menjalankan 7 langkah proses PBL
·         Akan ditunjukkan beberapa dialog penting yang dapat dijadikan model oleh para pemelajar dalam menjalankan PBL, dalam setiap langkah PBL

Ø  Bab 7   PBL dan Menjadi Individu yang Independen
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Proses PBL, bukan semata-mata prosedur. Tetapi, ia adalah bagian dari belajar mengelola diri sebagai sebuah kecakapan hidup (life skills)
·         Berbagai kecakapan yang diperlukan bila pemelajar ingin proses PBL-nya bermanfaat secara maksimal:
1.      Kecakapan memilih sumber pelajaran
2.      Membaca dengan cerdas
3.      Membuat perencanaan studi
·         Betapa pentingnya pemelajar memanfaatkan pengalamannya selama kuliah/studi sehingga dapat menjadikannya memiliki kepribadian yang kuat

Ø  Bab 8   Penilaian Proses PBL
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Penilaian, selayaknya tidak terpisah dari proses pembelajaran
·         Beberapa kesempatan untuk melakukan penilaian pada proses PBL :
1.      Penilaian saat pertemuan pertama (menggunakan dukungan formulir penilaian pertemuan 1)
2.      Penilaian saat pertemuan kedua
3.      Penilaian saat pertemuan ketiga
·         Tentang pertemuan kedua
·         Tentang laporan tertulis

Ø  Bab 9   PBL dan Individu Serta Institusi yang Berubah
Dalam bab ini akan dibahas :
·         Sesuatu yang bagus, sering kali tidak mudah dilakukan, begitu pula dengan PBL
·         Pendidik adalah pihak pertama yang harus berubah; pendidik sebagai entrepreneur
·         Bagaimana dukungan institusi merupakan elemen penting dari suksesnya penerapan PBL terutama dalam:
1.      Menghargai inisiasi yang ada
2.      Memberikan tekanan dan sekaligus dukungan
3.      Memfasilitasi perubahan dalam perilaku dan keyakinan
4.      Memberikan ujungnya, pengembangan staf dam institusi

PENUTUP
KESIMPULAN
            Belajar berbasis masalah, atau yang lebih popular dengan Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode atau cara pembelajaran, atau mungkin dalam pelatihan, yang ditandai oleh adanya masalah nyata, a real-world problems, sebagai sebuah konteks bagi para pebelajar untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.
            Ada dua tujuan utama PBM. Tujuan yang pertama, adalah ingin meningkatkan secara maksimal daya tahan pengingatan atau retensi. Tujuan yang kedua, adalah untuk menjamin penyampaian informasi yang bukan hanya sekedar transfer pengetahuan (transfer of knowledge) saja.
            Tahap-tahap pemecahan masalah sebagai berikut ini, yaitu: 1) penyampaian ide (ideas), 2) penyajian fakta yang diketahui (known facts), 3) mempelajari masalah (learning issues), 4) menyusun rencana tindakan, (action plan) dan 5) evaluasi (evaluation).
            Buku Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan ini yang ditulis oleh M. Taufiq Amir sudah dicetak dua kali, yang cetakan keduanya dilakukan pada Agustus 2010. Buku ini memiliki 136 halaman dan tebal buku hingga 23 cm. Walaupun penerbitnya tidak begitu terkenal yakni Prenada Media Group yang memiliki lokasi di Jakarta, tetapi isi dari buku ini sangat bermanfaat dan metode yang dibicarakan terbilang baru dan belum ada. M. Taufiq Amir merupakan lulusan dari PPM Gradute School of Management. Selain itu beliau juga aktif menulis jurnal dan menyajikan paper dalam konferensi akademik nasional maupun internasional. Banyak buku yang telah ditulisnya seperti 50 Marketing Gurus: Who Made the Future of Marketing, Dinamika Pemesaran : Jelajahi dan Rasakan, dan masih banyak lagi.
            Secara subtansial buku non-fiksi ini sangat inspiratif dan bermanfaat bagi pendidik dalam pembelajaran. Buku ini lebih utama diperuntukan oleh para pendidik baik yang telah berpengalaman maupun yang masih pemula disegala jenjang pendidikan. Bahasa yang digunakan dalam buku Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning ini sudah terbilang bagus, karena bahasa yang digunakan tidak bertele-tele sehingga mudah dimengerti oleh pembaca. Penyuntingan tulisannya pun sudah baik, paragraf yang satu dengan yang lain memiliki keterpaduan. Selain itu, dalam buku ini juga ditampilkan tabel-tabel dan lampiran yang sangat membantu sekali bagi pembaca untuk mengerti maksud dari metode yang dipaparkan dalam buku ini. Namun, bila dilihat dari segi gambar pada wajah buku ini, terbilang kurang menarik, sebab gambar yang ditampilkan adalah orang asing, tetapi dari komposisi warnanya sudah cukup sesuai tema pendidikan yang diangkatnya.
Secara keseluruhan buku Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh para tenaga pendidik maupun calon-calon tenaga pendidik karena buku ini sangat bermanfaat dan menyediakan metode baru, yang berbeda sekali dengan metode lainnya. Kekurangan buku ini bukanlah kendala yang besar bagi para pembaca untuk memahami apa isi buku dengan baik. Buku ini sangat membantu sebagai pedoman pengajaran dan pembelajaran demi tercapainya perkembangan, kemajuan, dan perubahan pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.

Tidak ada komentar: