Selasa, 25 Januari 2011

Pembelajaran Sastra: Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Paradigma Berpikir dan Kecerdasan Emosional Siswa

oleh Irma Budiastuti

Pendahuluan
Pembelajaran sastra dalam lingkup pendidikan formal (sekolah), agaknya kurang mendapat porsi yang adil jika dibandingkan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa disini dapat dikatakan pembelajaran mengenai tata bahasa dan berbagai keterampilan menulis praktis seperti surat-menyurat, membuat ringkasan, resensi, dan sebagainya. Sementara pembelajaran sastra mencakup pantun, puisi, cerpen, prosa, drama, dan lain-lain (Arif, 2008).
Tidak dapat dipungkiri bahwa secara kasat mata, pembelajaran sastra di sekolah terlihat hanya sekedar “menumpang” pada pelajaran Bahasa Indonesia saja, meskipun namanya adalah pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru terpaksa menjelaskan mengenai sastra hanya berdasarkan teori yang ada di dalam buku, karena waktu yang tersedia tidak mencukupi jika harus mempraktikkan pembelajaran mengenai sastra itu sendiri.
Sebagai contoh, jika seorang guru hendak menjelaskan tentang pantun atau puisi, ia mungkin masih memiliki waktu yang cukup untuk mempraktikkan bagaimana cara membaca pantun dan puisi dengan baik dan benar. Akan tetapi, lain halnya jika guru tersebut hendak menjelaskan mengenai drama. Rasanya akan sulit jika ingin mempresentasikan sebuah drama -mulai dari persiapan pemain, menghafal naskah, tata letak dan dekorasi panggung, hingga pementasan- hanya dalam waktu 2 kali 40-45 menit di dalam kelas.
Berdasarkan gambaran di atas, dapat kita pahami bahwa pembelajaran sastra di sekolah belum sepenuhnya berjalan optimal. Padahal jika kita cermati, pembelajaran sastra memiliki banyak manfaat, bukan hanya sebagai pelengkap nilai kognitif dalam buku raport, melainkan dapat menjadi sarana pengembangan diri bagi siswa. Pembelajaran sastra dapat memaksimalkan pengendalian terhadap kecerdasan emosional serta mengembangkan paradigma berpikir siswa agar dapat berinteraksi dalam hubungan sosial dan diterima dengan baik di lingkungan masyarakat.

Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.
Menurut Goleman (2002: 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh LeDoux (1970) menunjukkan bahwa dalam peristiwa penting kehidupan seseorang, EQ selalu mendahului intelegensi rasional. EQ yang baik dapat menentukan keberhasilan individu dalam prestasi belajar membangun kesuksesan karir, mengembangkan hubungan suami-istri yang harmonis dan dapat mengurangi agresivitas, khususnya dalam kalangan remaja (Goleman, 2002: 17).
Menurut Goleman (2000: 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Jadi, orang yang cerdas secara emosi bukan hanya sekedar memiliki emosi atau perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan orang itu kita rasakan juga.

Pembelajaran Sastra dan Kecerdasan Emosional
Pembelajaran sastra di sekolah, seperti yang lazim kita ketahui, biasanya mencakup pantun, puisi, drama, dan prosa. Sedangkan contoh konkret dari hasil karya sastra yang biasa kita jumpai dalam pembelajaran adalah berupa cerpen, novel, dan lain-lain.
Karya sastra, misalnya novel, di dalamnya memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Dalam pembelajaran mengenai unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel tentu saja siswa terlebih dahulu diharuskan membaca sebuah novel agar dapat memahami apa saja yang termasuk unsur-unsur tersebut.
Dalam hal ini, pembelajaran sastra berperan dalam mengasah kecerdasan emosional dan pola pikir siswa. Mengapa demikian? Karena saat membaca novel, secara tidak langsung, siswa ikut beradaptasi dengan alur cerita di dalam novel tersebut. Misalnya saja ketika cerita di dalam novel tengah menyajikan bagian-bagian yang menyedihkan, maka siswa akan terangsang untuk ikut berempati kepada tokoh yang sedang mengalami kesedihan. Siswa pun dapat belajar bagaimana caranya mengendalikan diri di saat mengalami kesedihan.
Begitupun juga jika jalan cerita di dalam novel tengah menggambarkan konflik yang sedang klimaks. Lalu, di saat konflik sudah menurun (antiklimaks) dan solusi sudah didapat, maka penyelesaian konflik pun dapat terwujud dengan baik. Dengan demikian, siswa dapat memetik pelajaran berharga bahwa di setiap kesulitan (konflik), jika mampu mengendalikan diri, maka akan mudah mendapatkan solusi.
Pengendalian diri tersebut termasuk ke dalam aspek kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional dapat ditingkatkan dan dampaknya dapat dirasakan, baik oleh diri siswa sendiri, maupun orang lain yang berada di sekitar mereka. Setidaknya ada 5 aspek yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:
1. Memahami emosi-emosi sendiri
2. Mampu mengendalikan emosi-emosi sendiri
3. Memotivasi diri sendiri
4. Memahami emosi-emosi orang lain
5. Mampu membina hubungan sosial
Gambaran dari kelima aspek tersebut dapat kita temukan di dalam pembelajaran sastra, khususnya dalam karya sastra yang berupa cerita fiksi (cerpen/novel).  Membaca cerpen dan novel dapat membantu siswa dalam memahami emosi para tokoh dan merefleksikannya kepada diri sendiri, serta belajar untuk mengendalikan emosi tersebut.
Jalan cerita yang disajikan dalam cerpen dan novel mampu memotivasi siswa agar tidak mudah menyerah apabila sedang mengalami kesulitan dan mendapatkan masalah/konflik. Siswa juga dapat belajar untuk bersimpati dan berempati kepada orang lain dengan berusaha memahami suasana hati dan membaca pikiran mereka. Memahami perasaan orang lain bukan berarti harus mendikte tindakan kita kapada mereka. Menjadi pendengar yang baik tidak berarti harus setuju dengan apapun yang kita dengar. Empati dapat diartikan sebagai cara pandang, yakni cara memandang dunia dari mata orang lain.
Jika siswa mampu bersimpati dan berempati dalam memahami perasaan orang lain, maka dengan mudah siswa dapat membina hubungan sosial dan dapat menempatkan diri di masyarakat. Hubungan sosial itu sendiri sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri. Karena, semakin luas pergaulan seseorang, semakin bervariasi pula pola pikirnya, dan akan semakin banyak pula wawasan yang dimilikinya. Keuntungan dari memahami orang lain adalah kita punya lebih banyak pilihan tentang cara bersikap dan memiliki peluang untuk berkomunikasi lebih baik.

Paradigma Berpikir
Karya sastra yang berupa cerpen atau novel, merupakan cerita fiktif/rekaan. Cerita fiksi mengandung unsur imajiner yang tinggi, karena dalam cerita tersebut, pembaca harus menghidupkan imajinasi terhadap apa yang mereka baca. Pembaca sastra dalam pembelajaran sastra disini tentunya adalah siswa.
Siswa yang banyak “melahap” bacaan sastra akan memiliki pola pikir yang berbeda jika dibandingkan dengan siswa yang hanya “mengendus” bacaan sastra. Mengapa demikian? Karena siswa yang banyak membaca bacaan sastra (cerpen/novel), akan terbiasa dengan pola pikir “out of the box”.
Siswa yang berpikir “out of the box” atau berpikir beda dari yang lain, akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Pikiran-pikiran inovatif dan ide-ide kreatif akan muncul seiring berkembangnya imajinasi siswa terhadap suatu permasalahan. Imajinasi tersebut terlahir dari rutinitas membaca cerpen atau novel, karena siswa sudah terlatih untuk mengembangkan imajinasi mereka saat memvisualisasikan reka adegan/kejadian di setiap cerita yang mereka baca.
Paradigma berpikir “out of the box” akan menguntungkan bagi siswa. Bukan hanya dalam hal akademik, melainkan juga dalam hal-hal non-akademik. Pola pikir seperti itu akan membuat siswa cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka hadapi.

Simpulan
Karya sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia pendidikan dan pengajaran. Sebab itu sangat keliru bila dunia pendidikan selalu menganggap bidang eksakta lebih utama, lebih penting dibandingkan dengan ilmu sosial atau ilmu-ilmu humaniora. Beberapa kalangan memandang bahwa karya sastra hanyalah khayalan pengarang yang penuh kebohongan, sehingga timbul klasifikasi dan diskriminasi. Padahal karya sastra memiliki pesona tersendiri bila kita mau membacanya. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca –yang dalam hal ini adalah siswa- untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika. (Purba, 2008)
Pembelajaran sastra membantu siswa untuk mengenali lingkungan di sekitar mereka beserta polemik yang berkembang di masyarakat. Dengan begitu, pada akhirnya pembelajaran sastra dapat dijadikan sebuah rangsangan awal untuk mengembangkan paradigma berpikir siswa terhadap permasalahan yang dihadapinya. Siswa menjadi terbiasa untuk berpikir dan tidak akan kehabisan ide untuk mencari solusi saat mereka menemukan masalah.
Sedangkan pengaruh pembelajaran sastra terhadap kecerdasan emosional siswa dapat dilihat dari lima aspek yang telah dipaparkan sebelumnya. Melalui karya sastra dan pembelajaran sastra, siswa dapat memahami emosi-emosi sendiri, mengendalikan emosi-emosi sendiri, memotivasi diri sendiri, memahami emosi-emosi orang lain, dan mampu membina hubungan sosial dengan baik.
Orang yang cerdas secara emosi tidak berada di bawah kekuasaan emosi. Salah satu ekspresi emosi yang bisa timbul bagi setiap orang adalah marah. Menurut Aristoteles, marah itu mudah. Tetapi, untuk marah kepada orang yang tepat, tingkat yang tepat, waktu, tujuan dan dengan cara yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang cerdas secara emosi.
Selain dapat mengelola dan mengendalikan emosi dengan baik, efek positif yang didapat oleh siswa adalah dapat memiliki hubungan sosial yang berkualitas. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan berinteraksi menjadi kebutuhan bagi setiap manusia (Zoon Politicon). Kemampuan bersosialisasi erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan sosial dengan siapa saja.
Pada akhirnya, kita hanya dapat berharap semoga pembelajaran sastra di sekolah dapat berjalan efektif, sehingga hasilnya pun akan lebih optimal bagi para siswa, dan tujuan pembelajaran pun tercapai.


DAFTAR PUSTAKA

Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence (Terjemahan). Jakata: PT    Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. 2000. Working With Emotional Intelligence           (Terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


http://kapasmerah.wordpress.com/2008/02/11/peranan-sastra-dalam-dunia- pendidikan-dan-masyarakat/html

Tidak ada komentar: