Kamis, 20 Januari 2011

Disleksia pada Anak Usia Dini


oleh Ulfah Mutia Rani
Pendahuluan
            Pendidikan bagi seorang anak sangatlah penting, terutama pendidikan bahasa. Bila seorang anak mendapatkan pendidikan bahasa lebih awal, akan menimbulkan kemungkinan anak tersebut terlatih kemampuan berbahasa sehingga dapat menguasai kemahiran dalam membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Ketiga kemahiran tersebut sangatlah penting bagi setiap individu khususnya anak untuk menguasai kemahiran atau kepandaian lain yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Tetapi bila melihat kenyataan, tidak semua anak dapat menguasai ketiga kemahiran tersebut. Ada beberapa dari sebagian anak mengalami kesulitan belajar, terutama dalam menguasai kemahiran membaca.
            Pada tingkat awal persekolahan, kesukaran seseorang anak untuk menguasai kemahiran berbahasa masih dianggap biasa oleh guru dan orang tua. Namun setelah enam bulan, satu tahun, atau dua tahun anak bersekolah, sekiranya anak tersebut masih tidak menunjukan kemajuan yang sepatutnya dalam menguasai kemahiran membaca, menulis, dan mengeja, tidak jarang anak tersebut dianggap lambat dalam menerima pelajaran, tidak berminat dengan pelajaran, dan malas. Bahkan orang tua dan guru menganggap tidak terjadi apa-apa dengan anak tersebut sehingga merasa tidak perlu melakukan apa-apa pada anak itu. Padahal, tanpa mereka sadari anak yang memiliki kesulitan dalam menguasai kemahiran berbahasa seperti membaca, menulis, dan mengeja mungkin saja disebabkan oleh disleksia.

Apakah Disleksia itu?
            Disleksia berasal dari bahasa Yunani yakni dylexia, “dys” berarti kesulitan, “lexis” berati kata-kata. Dengan kata lain, disleksia merupakan kesulitan belajar yang primer berkaitan dengan masalah bahasa tulisan seperti membaca, menulis, dan mengeja. Dari pengertian tersebut, tidak jarang anak-anak yang mengalami disleksia dicap atau dianggap sebagai anak bodoh, malas, kurang, berusaha, ceroboh, sehingga timbul rasa rendah diri, kurang percaya diri dan mengalami gangguan emosional sekunder oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Padahal anak yang mengalami disleksia pada umumnya memiliki intelegensi setara dengan anak normal, bahkan tidak jarang pula penyandang disleksia mempunyai intelgensi yang tinggi seperti tokoh Albert Einstein (ilmuwan), Tom Cruise (artis), Orlando Bloom (artis), Whoopi Goldberg (artis), dan Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura), yang semuanya tersebut tercatat menderita disleksia.
            Definisi disleksia menurut Chritchley (1970), adalah kesulitan belajar membaca, menulis, dan mengeja, tanpa adanya gangguan sensorik perifer, intelegensi yang rendah, lingkungan yang kurang menunjang (di sekolah dan di rumah), problema emosional primer dan kurannya motivasi. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa disleksia disebut juga sebagai kesulitan belajar spesifik. Dikatakan spesifik karena kesulitan belajar yang dialami hanya pada masalah tertentu saja yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja.
             Penyebab terjadinya disleksia pada anak usia dini ada dua faktor, yakni faktor keturunan dan faktor di luar genetis. Faktor keturunan (genetis) merupakan penyebab utama seorang anak mengalami disleksia. Dalam Seminar Nasional Disleksia di Jakarta, ketua pelaksana harian Asosiasi Disleksia Indonesia, Dr. Kristiantini Dewi, Sp A., mengungkapkan bahwa menurut penelitian, sekitar 70 persen disleksia merupakan keturunan dan sisanya sebesar 30 persen merupakan faktor lain di luar genetis yang hingga saat ini belum diketahui penyebabnya. Dari penjelasan yang dikutip dari artikel salah satu koran di Jakarta tersebut berati ada faktor lain yang menyebabkan seorang mengalami disleksia atau disebut dengan faktor di luar genetis. Salah satu contoh seorang anak mengalami disleksia yang disebabkan faktor di luar genetis ini adalah Daka. Daka adalah anak sulung dari Lia seorang karyawati di sebuah perusahaan. Pada awalnya Daka seperti anak normal lainnya.Dia tidak mengalami kesulitan dalam belajar berbahasa khususnya membaca. Namun, pada saat dia bermain, tidak sengaja Daka terjatuh hingga kepalanya terbentur dan setelah diperiksa dokter ternyata dia mengalami cedera otak sebelah kiri. Beberapa minggu terjadi kecelakan tersebut Daka mengalami kesulitan dalam belajarnya khususnya membaca. Dia selalu membuat kesalahan setiap melakukan kegiatan membaca (Kompas, 3 Agustus 2010). Peristiwa yang dialami Daka tersebut merupakan salah satu ciri-ciri terjadi disleksia.
            Ciri-ciri yang terjadi pada anak yang mengalami disleksia tidak hanya dilihat dari kesulitan membaca, menulis, dan mengeja saja, melainkan dapat dilihat dari gejala lainnya seperti  seorang anak yang usianya sudah menginjak enam tahun meletakan benda dengan posisi terbalik, padahal seharusnya dia sudah tahu di usianya tersebut. Kemudian dia sering jatuh. Dia tidak paham tentang konsep waktu. Jadi, waktunya sudah mepet pun tidak bisa diburu-buru. Bagi dia, 20 menit dengan dua menit itu sama. Misalnya, saat ulangan dikatakan waktu pengerjaan tinggal 20 menit lagi maka dia langsung meletakan pensilnya. Selain itu, ciri-ciri lain yang terjadi pada anak yang mengalami disleksia adalah terjadi masalah pada konsentrasi, daya ingatnya jangka pendek (cepat lupa dengan instruksi), dan mengalami masalah dalam pengorganisasian, sehingga cenderung tidak teratur. Misalnya, memakai sepatu tetapi lupa memakai kaus kaki.

Klasifikasi Disleksia
Klasifikasi jenis disleksia penting untuk penanganannya. Diagonis yang kurang tepat dapat menyebabkan kegagalan penanganan atau penanganan kurang optimal. Klasifikasi disleksia berdasarkan mekanisme serebal antara lain disleksia diseidetis atau disleksia visual, disleksia verbal atau linguistik, dan dialeksia auditoris.
Disleksia diseidetis atau disleksia visual merupakan disleksia yang disebabkan karena gangguan visual. Hal ini terjadi akibat dari gangguan fungsi otak belakang yang menimbulkan gangguan dalam persepsi visual, sehingga pengenalan visual terhadap simbol yang berupa huruf dan kata, tidak dapat dilakukan secara maksimal yang mengakibatkan terjadinya kesalahan pada saat membaca dan mengeja. Misalnya seorang anak tidak dapat membedakan huruf “b” dengan “d”, huruf “p” dengan “q”, angka “5” dengan “2”, huruf “m” dengan “w”, huruf “n” dengan “u”. Selain itu juga tidak bisa membaca urutan huruf atau kata, misalnya kata “bapak” menjadi “bakpa”, kata “ibu” menjadi “ubi”. Disleksia karena ganguan bahasa
Disleksia verbal atau linguistik meruapak disleksia yang terjadi akubat dari gangguan bahasa. Gejala yang dapat dilihat pada jenis disleksia ini adalah berupa kesulitan dalam diskriminasi atau persepsi auditoris atau dikenal dengan disleksia disfonemis. Contohnya, seorang anak mengalami kesulitan dalam menyebut kata atau kalimat, sehingga urutan auditorisnya menjadi kacau yakni “sekolah” menjadi “sekolha”. Bila disleksia jenis ini tidak cepat ditangani, akan berdampak pada masa depannya terutama dalam membuat karangan.
Disleksia auditoris merupakan disleksia akibat adanya ganguan dalam koneksi visual dan auditorisnya sehingga ini membuat anak lambat dalam membaca. Namun pada disleksia ini bahasa verbal dan persepsi visualnya baik, tetapi terkadang apa yang dilihat tidak dapat dinyatakan dalam bunyi bahasa. Contohnya, seorang anak mendapat pelajaran membaca. Bagi anak tersebut pelajaran membaca merupakan pelajaran yang sangat sulit. Hal itu karena membaca merupakan kegiatan yang melibatkan kemampuan visual-auditorinya secara bersamaan, seperti kemampuan memberikan makna simbol-simbol yang ada, yaitu huruf dan kata, sehingga anak tersebut sulit melakukan kegiatan membaca.
Selain tiga klasifikasi disleksia tersebut, Bakker (1987) membagi disleksia dalam dua tipologi yaitu L-type dyslexia (linguistik) dan P-type dyslexia (perseptif). Pada L-type dyslexia, anak membaca relatif cepat, tetapi saat membaca cepat tersebut anak seringkali membuat kesalahan seperti penghilangan (omission), penambahan (addition), atau penggantian huruf (substitution) dan kesalahan mutilasi kata lainnya, sedangkan pada P-type dyslexiaI, anak cenderung membaca lambat dan seringkali membuat kesalahan seperti fragmentasi (membaca terputus-putus) dan mengulang-ulang (Lily Djokosetio, 2007: 95).
            Dari berbagai klasifikasi disleksia tersebut, sebagai orang tua dan guru seharusnya lebih tanggap dengan yang terjadi pada anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca. Terlebih kemahiran membaca sangatlah bermanfaat bagi kehidupan seorang anak karena membaca merupakan dasar untuk menguasai ilmu (kemahiran) yang lain.

Cara Mengatasi Disleksia
            Disleksia tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi disleksia atau kesulitan membaca ini telah terdeteksi terjadi di berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Inggris, Amerika, dan masih banyak negara yang lainnya. Di negara maju dan berkembang, sudah terbentuk asosiasi disleksia dan dysleksia centers untuk menangani masyarakat yang mengalami disleksia terutama pada anak-anak. Begitu juga di Indonesia, sudah terdapat Asosiasi Disleksia Indonesia yang bertugas menangani masyarakat yang mengalami disleksia. Asosiasi tersebut didirikan pada Desember 2009 yang diketuai oleh Dr. Purboyo.
            Dalam menangani masyarakat yang mengalami disleksia terutama bagi anak-anak, Asosiasi Disleksia Indonesia menggunakan tiga metode yakni  metode multisensori, metode fonik (bunyi), dan metode linguistik. Metode Multisensori merupakan metode yang mendayagunakan kemampuan visual (kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik (kesadaran pada gerak), serta taktil (perabaan) pada anak. Sementara itu, metode fonik atau bunyi merupakan metode yang memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf B dibunyikan eb, huruf C dibunyikan dengan ec. Hal ini karena anak yang mengalami disleksia akan berpikir, jika kata becak, maka terdiri dari b-c-a-k, kurang huruf e. Adapun metode linguistic adalah metode yang mengajarkan anak mengenal kata secara utuh. Cara ini menekankan pada kata-kata yang bermiripan. Penekanan ini diharapkan dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.
Ketiga metode itu pun harus diperhatikan oleh guru yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (sekolah umum) yang menangani siswa yang mengalami disleksia. Guru harus mampu membaca kemampuan anak didiknya dan harus dapat memonitor progres si anak, bagus atau tidak. Jika tidak bagus, maka bisa mengambil strategi khusus dalam menangani siswa tersebut, misalnya dengan melakukan pendekatan pembelajaran komprehensif atau dengan melakukan program pembelajaran individual. Namun, bila setelah 2-3 bulan melakukan berbagai treatment  dan masih belum mendapatkan perubahan yang bagus, si anak bisa dibawa ke dalam kelas khusus anak disleksia yang terdapat dalam Asosiasi Disleksia Indonesia. Tetapi sebelumnya anak tersebut sebaiknya dicek terlebih dahulu terdapat perubahan atau tidak.

Penutup
            Disleksia bukanlah penyakit, melainkan disleksia merupakan kesulitan belajar yang berkaitan dengan bahasa tulisan seperti membaca, menulis, dan mengeja. Disleksia dapat menyerang siapa saja, baik wanita maupun pria, masyarakat ekonomi tinggi maupun masyarakat ekonomi rendah. Pada umumnya anak yang mengalami disleksia tidak terdeteksi secara langsung, terutama anak usia dini. Hal ini dikarenakan anak-anak masih dalam tahap belajar. Namun, bila seorang anak sudah belajar kemahiran berbahasa seperti membaca, menulis, dan mengeja bertahun-tahun tetapi masih tidak menunjukan perkembangan, kemungkinan anak tersebut mengalami disleksia
            Bagi orang tua, guru, dan masyarakat, tidak perlu merasa ketakutan akan akibat yang ditimbulkan dari disleksia ini. Hal ini karena anak yang mengalami disleksia sebenarnya tidak bodoh melainkan hanya kesulitan dalam menguasai kemahiran membaca, menulis, dan mengeja. Disleksia  pun dapat diatasi, bila anak-anak yang mengalami disleksia mendapat penanganan lebih awal. Namun, sebaliknya bila seorang anak yang mengalami disleksia tidak mendapat penanganan lebih awal atau ditangani pada saat anak sudah dewasa, akan tidak mudah untuk mengatasinya atau memperbaikinya. Oleh karena itu, perhatikanlah perkembangan berbahasa anak-anak di sekitar kita terutama perkebangan kemahiran berbahasa, sebab kemahiran berbahasa sangat berpengaruh untuk menguasai kemahiran yang lainnya.

Daftar Referensi

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Sidirto, Lily Djokosetio. 2007. Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

www.dyslexia-indonesia.org

Tidak ada komentar: