Jumat, 22 Oktober 2010

Feni Arini - Dongeng Zaman Pancaroba


Nama     : Feni Arini
Kelas     : 3A
No. Reg : 2115081302
Tugas     : PK. Menulis

Komentar Mengenai Resensi Dongeng Zaman Pancaroba yang Ditulis oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli dalam Manjalah Tempo Mengenai Buku Hotel Pro Deo Karangan Remy Silado
Pada resensi Dongeng Zaman Pancaroba karangan Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli yang dimuat dalam majalah TEMPO tanggal 22 Agustus 2010 ini menggambarkan sebuah tulisan yang bertujuan untuk menyampaikan kepada pembaca apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak. Artinya menulis resensi merupakan proses menuangkan atau memaparkan nilai sebuah hasil karya atau buku berdasarkan tataan tertentu yang bertujuan untuk memberikan informasi dan pertimbangan baik-buruknya, cermat-cerobohnya, benar-salahnya, kuat-lemahnya, dan manfaat-mubazirnya suatu topik buku (Saryono, 1997:54). Sama halnya dengan tujuan resensi yang dikemukakan dalam buku Komposisi oleh Gorys Keraf.  Kemudian, resensator juga menulis atau membuat judul resensi yang berkaitan dengan isi buku itu sendiri namun tidak sama dengan judul bukunya, yaitu buku Hotel Pro Deo karangan Remy Silado dengan judul resensinya yaitu Dongeng Zaman Pancaroba.
Masuk ke dalam isi resensi yang ditulis oleh penulis, pada paragraf awal hingga beberapa paragraf, resensi ini mengemukakan latar belakang dari buku tersebut. Dimana sesuai dengan teori resensi pada buku bapak Gorys keraf, yaitu resensi bermanfaat bagi para pembaca bila penulis mulai menyajikan latar belakang buku itu. Pada paragraf ke lima terlihat bahwa penulis mengemukakan tema dari buku Remy Silado, yaitu “cerita yang dibangun laiknya pohon bercabang. ... dan bermacam insiden bernuasa politis...”. bisa dilihat dari kutipan di atas menggambarkan tema secara jelas. Selain itu latar belakang resensi ini juga diikuti oleh deskripsi buku yang memang merupakan bagian penting dalam memperkenalkan buku. Mengutip dari buku pak Gorys Keraf, “dengan demikian sebelum masuk ke dalam teknis penilaian, para pembaca sudah mengetahui serba sedikit mengenai buku itu”. Maksudnya secara garis besar, pembaca akan sedikit memahami buku tersebut. Dan ternyata, resensator sudah memahami atau mengikuti penulisan latar belakang resensi secara baik jika dilihat dari buku pak Gorys Keraf.
Selanjutnya, dalam buku Komposisi bagian resensi yang ditulis pak Gorys Keraf, dalam penulisan resensi setelah mengemukakan latar belakang, sebaiknya penulis resensi mengklasifikasikan buku tersebut masuk ke jenis buku apa. Sehingga pertanyaan “Buku ini macam apa?” (hal. 276, buku Komposisi, Gorys Keraf) akan terjawab. Ternyata dalam paragraf ke delapan, penulis resensi, Bonnie dan Arif mengemukakan jenis dari buku pak remy dengan cara membandingkan dan menyamakan buku Hotel Pro Deo ini dengan buku-buku lain yang tetap karangan pak Remy juga yang sejenis, yaitu Cau Bau Kan dan Kembang Jepun. Dengan adanya perbandingan seperti ini, dirasakan mampu menarik minat pembaca untuk mengetahui lagi buku tersebut.
Setelah itu dalam menulis keunggulan buku, resensator pada paragraf selanjutnya mulai menuliskan organisasi-organisasi pada buku Remy silado itu. Bisa dilihat pada bagian paragraf sembilan, dimana penulis resensi mulai mengobrak-abrik isi buku dengan melihat pada isi buku tersebu dimana bisa dilihat dari kepengarangan Remy Silado yang ditulis resensator. Lebih mendalamnya lagi, bahwa kita bisa melihat adanya penilaian melalui isi buku yang merupakan isi cerita dari buku tersebut diulas secara aktif oleh resensator. Dari mulai paragraf sembilan hingga paragraf tigabelas, penulis mengupas nilai-nilai yang terdapat dari buku namun dengan menggandeng dari isi buku tersebut.
Dalam memberikan penilaian, baik kelemahan maupun kebaikan buku, resensator mengemukakan dengan jelas. Mulai dari bagian isi buku maupun bagian wajah buku atau deskripsi buku. Dalam paragraf empat belas yang mempersoalkan  mengenai ketebalan buku yang tentunya akan berpengaruh terhadap pembaca, ini dijelaskan secara baik. Resensator menyatakannya dalam bentuk impilist dan eksplisit. Secari garis besar, resensi dongeng zaman pancaroba ini sudah mencakupi saran-saran dalam menulis resensi yang dikemukakan oleh pak Gorys dalam buku Komposisi pada teori resensi. Nah, yang terpenting yang mesti diketahui yaitu dikutip dari buku pak Gorys bahwa keempat sasaran penilaian tidak dapat diterapkan secara mekanis. Jadi, terkadang ada yang lebih ditonjolkan bagian-bagian tertentu. Seperti resensi Dongeng Zaman Pancaroba  yang sudah mengikuti sasaran penilaian secara baik dan bisa dilihat ternyata buku ini menonjolkan penilaian pada organisasi buku dan isi buku namun tidak menghilangkan dan tetap mencantumkan bahasa dan teknik buku tersebut. Terlukis dalam paragraf terakhir yang ditulis pada resensi ini bahwa buku pak remy tetaplah menghibur dalam hal penceritaannya sehingga layak dibaca oleh pencinta novel, khususnya pencinta novel yang berkaitan dengan sejarah dan politik. Pendeknya, resensator telah berhasil menulis dengan baik dalam penerapan penulisan resensi.

1 komentar:

Fanny Sopia Rahayu mengatakan...

Membaca komentar dari saudara Feni, awal mula membaca, kita sudah disuguhkan oleh keterangan siapa yang menulis resensi dan dimana resensi itu dimuat, setelah itu dikemukakan pula definisi-definisi dari ahlinya yaitu Saryono dan Gorys Keraf. Dengan demikian pembaca dapat mengetahui jelas siapa penulis resensi dari karya Remy Silado ini.
Mengulas mengenai resensi Dongeng Panca Roba sepertinya kita akan mengetahui apa sih Dongeng Panca Roba tersebut? Apa yang disuguhkan dalam dongeng tersebut?. Komentar resensi yang dituliskan kembali oleh saudara feni Arini, sedikti memberi gambaran seperti apa Dongeng Panca Roba. Namun belum begitu dalam singgungan mengenai Dongeng Panca Robanya. Walau begitu resensi ini sudah memenuhi criteria teori dasar yang ditulis oleh Gorys Keraf, jika dilihat dari latar belakang, sasaran, jenis buku yang disinggung oleh saudara Feni Arini.
Resensi ini tentunya akan menjadi sangat menarik karena Buku yang ditulis oleh Remy Silado ini berbicara realita yang ada. Bahasa dapat mewakili sebuah realita yang ada, namun belum disinggung bagaimana bahasa itu dikemas melalui sebuah alur dari isi resensi Dongeng Panca Roba. Ketika sebuah argumen diungkapkan,maka teori yang harus melandasinya. Sama halnya dengan komentar resensi ini. Feni dengan gemulainya mencari teori-teori yang berkaitan untuk memperkuat argumennya perihal komentar Dongen Panca Roba ini.
Feni mencoba membandingkan antara teori satu dengan teori lainnya dan hasil karya untuk mengungatkannya, dan dapat dilihat pada paragraph ketiga. Sistematisnya komentar resensi ini, namun tidak diimbangi dengan bahasa yang komunikatif. Komentar ini masih menggunakan bahasa yang tidak baku atau bahasa pengucapan sehari-hari, padahal resensi yang ditulis berbau politik dan sejarah. Seperti penggunaan kata “nah”.
Seperti sudah diulas pada pembahasa sebelumnya, komentar mengenai Dongeng Panca Roba ini sudah memenuhi apa yang diungkapkan oleh teori khususunya teori Gorys Keraf, namun komentarnya kurang menyinggung khasanah isi yang terdapat dalam resensinya. Selain itu dari komentar yang sudah ada, tidak menyinggung identitas perihal siapa Remy Silado. Sistematisnya komentar dari saudara Feni, memudahkan untuk mencari celah-celah apa saja yang sudah maupun yang belum diungkapkan dari resensi yang ditulis oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli. Diluar itu Feni sudah menjawab apa itu Dongeng Panca Roba?. Dapat terbaca dari komentarnya implisit.