Rabu, 20 Oktober 2010

Nuraini - Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna

Analisis Resensi “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna”
Oleh : Nur’aini (2115081309)

Dewasa ini penulis Indonesia dapat dikatakan sudah menjamur, salah satunya adalah penulis resensi di mana mereka membuat sebuah karya yang berisikan penilaian, komentar, atau bahkan ada yang mempromosikan agar karya yang dinilainya dapat laku di pasaran. Seiring dengan banyaknya penulis resensi itu berarti semakin banyak pula gaya penulisan resensi itu sendiri karena walau penulisan sudah memiliki teori bukan hal yang tabu seorang penulis melakukan hal yang berbeda sedikit maupun jauh dari teori. Hal tersebut tentu banyak motivasinya ada yang termotivasikan karena mau membuat perubahan, membobrok teori, membuat inovasi, dan masih banyak lagi alasannya. Ke luar dari sebuah teori bukan suatu dosa atau kesalahan bila hal itu tidak merugikan khalayak, karya Acep Iwan Saidi salah satunya yang berjudul “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna” yang berangkat dari sebuah buku karya Afrizal Malna dengan judul “Pada Bantal Berasap”. Kita lihat dari judul resensinya, sudah menunjukkan suatu kreatifitas karena judul buku dengan judul resensi jauh berbeda. Namun, apakah judul resensi relevan dengan isi buku dan apa yang Acep resensikan? Bila dilihat dari redaksi judul “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna”, memberi kesan bahwa yang dibahas adalah sisi bahasa dan di sana dituliskan pula nama penulisnya yakni Afrizal Malna, sudah dapat dipastikan bahwa yang dibahas dalam resensi Acep adalah segi bahasa atau pembahasan Afrizal Malna dalam “Pada Bantal Berasap”. Judul saja sudah merupakan komponen penting di dalam sebuah resensi.
Mari kita lihat “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna” lebih dalam. Bila kita patuh dengan teori resensi yang ada pada buku Gorys Keraf dengan judul komposisi, kita akan menemukan berbagai komponen di dalam resensi Acep, anatara lain komponen-komponen tersebut yaitu :
1.    Latar Belakang ;
·   Tema
·   Deskripsi buku
·   Pengenalan pengarang

2.    Macam dan Jenis Buku
·   Klasifikasi buku
·   Sasaran pembaca
·   Perbandingan dengan karya lain

3.    Keunggulan Buku
·   Organisasi buku
·   Isi
·   Bahasa (struktur, korelasi, kalimat, diksi)
·   Teknik buku (perwajahan, cetakan)

4.    Nilai Buku
·   Perbandingan buku dengan karya lain
·   Kritik

Setelah kita melihat begitu kompleksnya gaya penulisan resensi yang diajukan Gorys Keraf apakah kita akan menemukan semua komponen-komponen tersebut?
Mengenai latar belakang yang terbagi menjadi tiga yakni ada tema, deskripsi buku, dan pengenalan pengarang. Di awal paragraf pembaca tidak menemukan latar belakang, memang sistematika latar belakang tidak ada ketentuan khusus harus berurutan atau tidak, hal ini tergantung pada kreatifitas penulis resensi dan di dalam “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna” pada hakikatnya bila kita melihat dari judul saja sudah dapat ditafsirkan bahwa latar belakang pengenalan pengarang memang mendominasi. Namun pada hal ini yang mendominasi adalah gaya penulisan Afrizal Malna terlihat pada paragraf 6 sampai 9.
Berlanjut pada macam dan jenis buku, Acep tidak menyinggung siapa saja yang pantas atau buku tersebut dirujuk untuk siapa karena di dalam resensinya dapat dikatakan hanya penilaian dari segi bahasa penulis. Lalu dengan keunggulan buku, kita dapat menemukannya di paragraf paling akhir yakni paragraf 10. Pada paragraf tersebut Acep menyatakan keunggulan dari buku tersebut. Melihat komponen terakhir dari Gorys Keraf yakni nilai buku yang membahas perbandingan buku dengan karya yang lain dan kritikan. Memperbandingan buku “Pada Bantal Berasap” dengan karya lain atau dengan pengarang lain dilakukan oleh Acep dan dimulainya dari paragraf 10. Hal tersebut menunjukkan bahwa penulis resensi memiliki pengetahuan yang luas akan karya lain dan gaya penulisan pengarang sehingga dapat menambah nilai posistif dari resnsi yang ditulisnya karena resensi tersebut tidak hanya berisi kata-kata yang bersifat subjektif melainkan objektif karena ada bahan pembanding yang mungkin bila pembaca sudah memahami hal tersebut akan menyepakati apa yang dikatakan oleh peresensi. Itulah manfaatnya bila menulis resensi kita harus kaya akan wawasan entah dari teori penulisan resensi itu sendiri maupun bahan untuk membandingkan atau bahkan menimbulkan kritikan untuk sebuah karya yang akan kita nilai atau resensikan.
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah Acep sebagai penulis resensi  yang berjudul “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna” tidak mengikuti atau mencantumkan komponen-komponen yang ditawarkan oleh Gorys Keraf  seperti yang disampaikannya dalam buku yang berjudul “Komposisi”, walau demikian karya Acep tidak mengurangi keindahan dalam menulis dalam artian tujuan menulis resensi sebuah karya Afrizal Malna sudah sampai kepada pembaca. Setidaknya Acep memberikan ilmu mengenai kebahasaan kepada pembaca sehingga pembaca tidak sia-sia membaca resensinya, ada yang didapat dari apa yang mereka baca.
  

1 komentar:

Maulana Husada mengatakan...

Menanggapi komentar Anda terhadap resensi buku yang berjudul Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna, ada beberapa hal yang ingin saya tanggapi. Hal ini dimaksudkan agar kita saling mengisi dan terbuka terhadap apa yang telah kita peroleh.

Pertama, ketika kita melakukan analisis berupa komentar terhadap resensi hendaknya dicantumkan dari mana sumber resensi dan waktu kapan resensi itu dimuat. Hal ini penting dilakukan, agar tulisan yang kita maksudkan tidak merujuk ke lain tempat atau sumber lain.

Kedua, mencermati kalimat pembuka paragraf Anda, begitu luas yang dimaksudkan. Tidak langsung merujuk ke dalam ide pokok atau hal utama yang ingin dikupas lebih mendalam.

Ketiga, pemaparan hal yang ditinjau menurut kacamata Anda sudah cukup baik. Namun alangkah lebih baik bila sedikit mengutip kalimat yang dimaksudkan atau anda ubah melalui bahasa Anda sendiri, tidak cukup dengan terletak pada paragraf sekian sampai sekian. tentu di sini membuat kita sibuk mencari kembali.

Keempat, dalam kesimpulan yang Anda buat, hendaknya merangkum keseluruhan isi yang telah ditumpahkan pada paragraf sebelumnya dengan pemilihan diksi yang tepat. Saya memerlukan membaca berulang kali karena adanya diksi yang kurang pas menurut saya. Misalnya "Acep sebagai penulis resensi yang berjudul “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna” tidak mengikuti atau mencantumkan komponen-komponen yang ditawarkan oleh Gorys Keraf seperti yang disampaikannya dalam buku yang berjudul “Komposisi” ". Pemilihan diksi "tidak mengikuti" tersebut alangkah tepat guna bila diganti "tidak selamanya sesuai dengan".

Secara keleuruhan hal-hal yangg Anda komentari terhadap resensi tersebut sudah cukup baik hanya saja Anda memulai sebuah kalimat terlalu luas tidak mengambil sebuah ide pokok.