Jumat, 22 Oktober 2010

Irma Budiastuti - Poros Paradikmatik Bahasa Afrizal Malna

Tugas Mengomentari Resensi
Mata Kuliah : Pengembangan Keterampilan Menulis
Dosen : Fathiaty Murtadho, M. Pd.

Disusun Oleh :
Irma Budiastuti    (2115081315)
Kelas 3A

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010

Membaca resensi yang dibuat oleh Acep Iwan Saidi mengenai buku kumpulan syair dan sajak karya Afrizal Malna yang berjudul Pada Bantal Berasap, bagi saya merupakan suatu pembelajaran tersendiri, karena di dalamnya amat kaya akan informasi yang relevan, tidak hanya tentang bagaimana sastra, melainkan juga tentang bagaimana bahasa yang digunakan dalam sastra itu sendiri.
Jika kita cermati satu persatu, pada bagian awal resensi, khususnya paragraf pertama, Acep memulai wacananya dengan memperkenalkan pandangan dari ahli linguistik Ferdinand de Saussure mengenai fenomena bahasa. Maka, secara tidak langsung, wacana pembuka itu membuat rasa ingin tahu pembaca muncul, dan tertarik untuk menelaah lebih lanjut tentang siapa itu Ferdinand de Saussure, dan seperti apa sajakah teori-teorinya.
Lebih lanjut ke dalam isi resensi, Acep tidak lantas menjabarkan latar belakang penulis, yakni dengan memperkenalkan secara langsung siapa itu Afrizal Malna, akan tetapi membuatnya menjadi lebih tersirat dengan -sekali lagi- “melibatkan” oknum lain, yaitu Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri.
Keterlibatan Chairil dan Sutadji dalam resensi ini adalah sebagai sastrawan yang eksistensi karya-karyanya disandingkan atau lebih konkretnya “dibandingkan” dengan karya Afrizal Malna. Maka dari itu, pembaca bukan hanya akan mengenal si empunya buku, melainkan juga dapat memperkaya pengetahuan mengenai khazanah sastra Indonesia.
Resensi yang ditulis oleh Acep, sesungguhnya mampu mengangkat nilai historis dari bahasa dan sastra itu sendiri, pun dapat menjelaskan relasi antara bahasa dan sastra, dimana sastra selama ini memegang peranan penting dalam dinamika berbahasa. Sastra yang memang merupakan salah satu produk bahasa, tentulah dapat melahirkan citra baru mengenai bahasa. Bahasa yang selama ini “mungkin” hanya dikenal sebagai alat komunikasi, lewat sastra, bahasa -seperti yang dikatakan Acep- dapat menempati posisinya secara terhormat, sebagai realitas berjiwa, tak sekedar alat pendeskripsi realitas.

1 komentar:

Gita Rosi Wulandari mengatakan...

dalam tulisan ini hanya dikatakan bahwa acep (penulis resensi)memperkenalkan Aprizal Malna dengan cara membandingkan dengan karya orang lain. irma tidak menjabarkan tentang tema apakah buku tersebut.dalam teori Gorys Keraf, yang pertama tentang resensi adalah latar belakang yang dapat berisi tema, deskripsi buku, dan memperkenalkan pengarang. sedangkan dimacam atau jenis buku, irma sudah mengatakan bahwa penulis resensi sudah membandingkannya dengan karya orang lain. kemudian dalam keunggulan buku, irma tidak mengatakan bahwa acep mengutarakan keunggulan dari buku itu.irma mengatakan bhawa "Acep sesungguhnya mampu mengangkat nilai historis dari bahasa dan sastra itu sendiri". dalam hal ini irma tidak menjelaskan bagaimana organisasi buku itu. kemudian lebih dari itudalam komentar tidak disertai dengan kesimpulan. kesimpulan tentang resensi yang ditulis oleh Acep apakah sudah sesuai atau belum dengan teori Gorys Keraf secara keseluruhan.