Minggu, 05 Desember 2010

RIRIN PUSPITANINGRUM - Metode Efektif Pembelajaran Aktif

Metode Efektif Pembelajaran Aktif
Oleh Ririn Puspitaningrum


Judul Buku : Active Learning (101 Strategi Pembelajaran Aktif)
Pengarang : Mel Silberman
Penerjemah : Sarjuli, dkk
Penerbit : Insan Madani, Yokyakarta
Cetakan : Pertama, Tahun 2009
Tebal : 292 halaman + pengantar
Harga : Rp 50.000
ISBN : 978-979-026-044-3

Pendidikan memiliki peranan penting bagi kehidupan. Tidak adanya pendidikan, tidak ada pula kaum terpelajar. Namun, sayangnya pemerintah kurang memperhatikan kepentingan tersebut. Prof. Komarudin Hidayat mengatakan telah terjadi krisis pendidikan dalam dunia pendidikan kita sekarang ini. Salah satunya pemerintah yang kurang memperhatikan fasilitas pendidikan dan kurikulum yang dibuat juga tidak dijalankan sepenuhnya. Selain itu, krisis pendidikan bukan hanya ditimbulkan dari ruang lingkup pendidikannya saja, namun cara pengajaran seorang guru juga mempengaruhi proses pendidikan siswanya. Bila kita ingat fenomena pendidikan pada abad 20 dimana pada masa itu guru selalu menjelaskan dan siswa selalu mencatat (siswa belajar pasif) sehingga berefek kurang baik bagi perkembangan pendidikan di masa depan, dikarenakan guru tidak memberikan feedback (umpan balik) kepada para siswa. Guru seharusnya membuat siswa belajar lebih aktif sehingga siswa terbiasa mencerna pelajaran dari sumber mana saja dan bukan hanya “menelan mentah-mentah” setiap materi dari guru. Jadi, diperlukan metode-metode pembelajaran yang efektif agar siswa dapat belajar lebih aktif. Guru juga harus bisa kreatif menciptakan konsep-konsep pengajaran yang membuat belajar siswa menjadi menyenangkan di dalam kelas. Oleh karena permasalahan tersebut, hadirlah buku active learning ini yang diharapkan dapat membantu siswa agar daya tangkapnya lebih aktif dengan metode pembelajaran yang efektif.

Buku yang bertemakan tentang pembelajaran aktif dengan metode-metode yang efektif ini memang khusus diperuntukkan bagi guru dan calon guru yang sedang menjalani proses perkuliahan. Buku ini juga sebenarnya bisa digunakan oleh dosen dalam pembelajaran di kampus, namun waktunya tidak pas apabila diajarkan ke mahasiswanya (bagian pendahuluan). Buku ini merupakan jenis buku mengenai strategi pengajaran. Bisa juga dikategorikan sebagai buku pengetahuan. Mengapa saya bilang seperti itu? Karena isi buku ini menceritakan tentang bagaimana proses belajar-mengajar siswa dan guru dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran. 

Pada bab 1 misalnya, penulis sudah memperkenalkan apa itu active learning dan urgensi serta konsep dari pembelajaran active learning. Lalu pada bab 2, sudah mulai memasuki materi pembelajaran. Guru menerangkan materi dengan cara-cara yang tidak biasa. Siswa mulai diajak untuk lebih aktif dengan menggunakan macam-macam diskusi yang ada serta metode-metode diskusi yang bervariatif. Guru boleh memilih salah satu metode diskusi dalam buku ini untuk dipraktikan dalam pembelajaran siswanya. Memasuki bab 3, penulis mulai memperkenalkan lebih banyak lagi mengenai metode-metode pembelajaran, misalnya bagaimana siswa dalam bekerja sama, dalam bertanya, dan dalam mengajarkan teman sebaya. Jangan lupa bahwa selama dua jam pelajaran itu siswa juga dapat mengalami titik kejenuhan dan rasa kebosanan dalam belajar dan kita sebagai guru harus mengerti akan hal itu. Berusaha memberikan games atau permainan-permainan yang menarik adalah salah satu hiburan yang dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Di bab 4 inilah yang akan membahas mengenai permainan-permainan menarik yang dilakukan oleh guru selama proses belajar dan permainan-permainan itu lebih banyak menggunakan metode bermain peran. Ingat, seorang guru boleh melakukan games menarik dalam proses pembelajaran apabila games tersebut tidak menyimpang dari materi yang dibahas (buku active learning, bab 4). Bab terakhir adalah bab 5 yang mengupas tentang akhir dari pembelajaran yaitu evaluasi dan refleksi. Pada bab ini lebih memberikan metode-metode bagaimana agar belajar tidak lupa. belajar juga dapat lenyap jika siswa tidak diberi kesempatan untuk menyimpan apa yang telah mereka pelajari. Ada tindakan-tindakan positif yang dapat kita ambil untuk menjadikan kelas kita berarti dan mungkin, bahkan penutupan yang tidak dilupakan. Tindakan-tindakan positif itu adalah strategi meninjau, penilaian diri, perencanaan masa depan dan sentimen akhir (buku active learning, bab 5, hal. 238).

Setelah mengupas sedikit mengenai isi buku, timbulah sebuah pertanyaan, apakah bab-bab tersebut saling menyatu dan saling berhubungan? Jawabannya adalah ya. Antar bab satu dengan bab yang lain mempunyai hubungan yg terkait. Bisa kita lihat dari penjelasan mengenai isi buku tersebut. Pada bab 1 dijelaskan tentang apa itu aktif learning, lalu pada bab 2 sudah mulai membahas materi ajar dan model-model diskusi, bab 3 tentang metode-metode pembelajaran aktif, bab 4 variasi permainan-permainan yang menarik dengan teknik bermain peran dan yang terakhir pada bab 5 tentang strategi-strategi agar materi yang didapatkan tidak lupa (dilakukan setelah selesai pemberian materi).

Buku ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi guru yang ingin mulai mengajar. Buku ini berisi metode/ teknik pembelajaran yang banyak dan variatif. Di setiap akhir penjelasan tentang metode pembelajaran, ada kesimpulannya/ kata kuncinya, walaupun hanya beberapa metode saja. Di setiap metode selalu diberikan variasi, sehingga tidak monoton. Metode-metode yang disampaikan mirip seperti games yang dibuat oleh guru kelas sehingga tidak membuat siswa merasa jenuh dan tegang. Apalagi bila kita melihat tampilan buku yang cukup menarik dengan konsep sub bab yang cukup bagus karena tidak penuh dengan isi tulisan saja, tetapi ada juga gambar-gambar yang membuat kita tidak jenuh dalam membaca buku ini.

Namun, sayangnya ada saja hal-hal yang kurang dalam buku ini. Misalnya saja dengan metode-metode yang ada, kita tahu bahwa metode-metode dalam buku ini variatif dan tidak monoton. Tapi, dari semua metode tersebut tidak ada satupun yang membahas tentang pendekatan pembelajaran apa saja yang dilakukan. Bila kita bandingkan dengan buku yang berjudul “menjadi guru profesional (menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan)” karangan Dr. E. Mulyasa, menuliskan bahwa di setiap mengembangkan pendekatan pembelajaran pasti akan ada metode-metode belajar yang tercipta (hal.107). Di dalam buku karangan Dr. E. Mulyasa tersebut memberikan lebih lengkap mengenai pendekatan-pendekatan pembelajaran yang menciptakan metode-metode belajar yang baru, dan sayangnya di dalam buku active learning ini tidak disebutkan pendekatan pembelajarannya. Lalu kekurangan berikutnya adalah Penyampaiannya berbelit-belit dan tidak langsung pada inti yang dibicarakan. (contoh ada di hal. 100-101). Pemilihan kata, terkadang tidak sesuai dengan kalimat sebelumnya atau sesudahnya dan harus dibaca berulang-ulang jika kita ingin paham metode-metodenya, karena banyak kata-kata dan penggunaan diksi yang tidak sesuai.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang dibahas di atas, buku ini layak dibaca karena memberikan kita banyak pengalaman mengenai metode-metode yang diciptakan oleh penulis buku. Selain itu, buku ini memberikan banyak manfaat bagi guru dalam mendidik siswa-siswanya agar bisa lebih aktif dalam pembelajaran. Karena dengan metode-metode pembelajaran aktif inilah guru dapat mengubah konsep dan paradigmanya mengenai cara pengajaran yang baik di dalam kelas.

4 komentar:

Nur'aini mengatakan...

Secara keseluruhan resensi yang merupakan karya Ririn Puspita Ningrum sudah cukup baik. Terlihat dari bagian-bagian yang sudah dipisahkan, seperti pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Ririn juga sudah berlaku kritis dalam mengupas beberapa isi dari buku Active Learning dengan memasukkan bukti dari paragraf yang dibahas olehnya. Namun, bukan manusia namanya apabila ia menghasilkan suatu karya tanpa ada kekurangan. Adapun kekurangan dari resensi tersebut yakni antar pendahuluan dengan isi ada kebiasan, dalam arti pendahuluan dengan isi seakan tidak ada perbedaan karena gagasan yang ada di dalam pendahuluan dicampurkan dengan gagasan isi sehingga timbul kebiasan. Hal tersebut dapat dibuktikan bila kita membaca paragraf selanjutnya, seakan-akan paragraf selanjutnya hanya sambungan dari kalimat sebelumnya (paragraf 1-3), dengan kata lain tidak ada gagasan atau ide baru yang dibahas dalam setiap paragraf. Kemudian pada kesimpulan, yang dibahas dalam kesimpulan belum mencerminkan kesimpulan karena kesimpulan bukanlah paragraf yang fungsinya hanya sebagai penutup saja melainkan merupakan inti sari dari apa yang dibahas pada paragraf-paragraf sebelumnya. Kekurangan yang timbul dalam tekhnis, misalnya penggunaan kata Namun pada awal paragraf 6, penggunaan kata Karena pada awal kalimat (paragraf 7).
Bila dalam komentar saya ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan karena pengomentar pun masih dalam tahap proses belajar. Terima kasih.

alifah_mj mengatakan...

Ririn,,maav yia baru sempet comment,,
hemm,,pandangan yang aq berikan agak subyektif ya,, :D

Secara keseluruhan,isi resensi sudah sangat baik dan menggunakan bahasa yang baik dan benar..
Namun,penguraian isi buku,,kalo menurut saya terlalu detail dan akhirnya nampak seperti resume atau bahkan rangkuman,,*sedikit membosankan*

saya kemudian membandingkan dengan resensi buku yang biasa hadir di majalah-majalah kenamaan,,di sana,,isi yang dibahas secara umum saja,,tidak terlalu mendetail,,namun tetap menunjukkan keunggulan dan kelemahan buku,,terutama ciri khas buku itu,,hal ini akan mendorong minat yang membaca resensi untuk membaca buku itu lebih detail..

bahasa yang digunakan baik sekali, namun bagi pembaca itu cukup berat dan mesti memutar otak,,coba gunakan bahasa yang mudah dimengerti, tidak mengulang kata yang sama, dan tetap bernilai bahasa yang baik,,

mungkin komentar saya terlalu awam,,saya memang tidak terlalu menggeluti bidang ini,,hehehe

secara umum, bagus koq ^^d
smangadd buat tugasnya yia,,

_mj_

ririn puspita mengatakan...

makasih MJ cantikkk,,,baikk,,,komen mu sangat berarti....(hahaha....lebay.com)

semoga saya tetap terus bisa mengevaluasi diri saya.....^^

Talita mengatakan...

secara keseluruhan sudah baik. Dalam hal penulisan judul, pembahasan kelebihan isi buku dan kekurangannya. Akan tetapi masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penulis yakni membandingan buku yang diresensi dengan buku lain. ketika ingin mengkritisi sebaiknya tidak menyebutkan buku yang dibandingkan, kecuali penulisnya sama. ungkapkan masalah yang dikritisi saja. karena setiap buku memiliki kapasitas pembahasan yg berbeda. SEmangat!!!