Minggu, 05 Desember 2010

KINANTI SWASTIKA - Mel Silberman dalam Modifikasi dan Perluasan Conficius

Mel Silberman dalam Modifikasi dan Perluasan Conficius
Oleh: Kinanti Swastika

Judul buku          : ” Active Learning ”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif
Penulis               : Mel Silberman
Penerjemah       : Sarjuli
Penerbit             : Insan Madani
Tahun Terbit      : 2009
No ISBN             : 978-979-026-044-3

Pembelajaran yang baik tidak seperti wacana transaksional yang hanya mementingkan isi dari wacana tersebut. Pembelajaran yang baik yakni sama seperti wacana interaksional yang mementingkan interaksi dalam wacananya. Seolah ada kaitan antara kajian bahasa dengan pembalajaran yang baik, Mel Silberman dalam buku ” Active Learning ”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif yang kemudian diterjemahkan oleh Sarjuli pada tahun 2002. Mel Silberman mengemukakan bagaimana wacana interaksional itu terbentuk dalam pembelajaran.

Seiring perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan yakni perubahan orientasi belajar yang sebelumnya berorientasi kognitif, kemudian berubah menjadi orientasi pengembangan manusia. Mel Silberman memodifikasi dan memperluas pernyataan Conficius seiring perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikaan. Sebelumnya Conficius menyatakan apa yang saya dengar-saya lupa, apa yang saya lihat-saya ingat, apa yang saya lakukan-saya paham. Kemudain Mel Silberman memodfikasi dan memperluas pernyatan Conficius menjadi apa yang saya dengar- saya lupa, apa yang saya dengar dan lihat-saya ingat sedikit, apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain-saya mulai paham, apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan-saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dan apa yang saya ajarkan pada orang lain-saya kuasai. Modifikasi dan perluasan ini sebagai dampak belum optimalnya antara kemampuan otak, pembelajarn guru, dan kemampuan siswa itu sendiri guna pengembangan manusia.

Buku yang berangkat dari pemecahan dari perluasan pernyataan Conficius ini memaparkan pengenalan belajar aktif melalui sinergisitas otak, guru, dan siswa. Memaparkan bagaimana cara awal yang baik untuk kerja sama dalam kelompok yang berbeda-beda. Memaparkan bagaimana meteri itu diajarkan dan dikembangkan dari tahap awal pembelajaran hinggga ke tahap evaluasi. Pemaparan-pemaparan ini dirasa tepat untuk para pendidik guna mengubah orientasi pembelajarannya. Ketepatan ini didasarkan pada hal yang diangkat dalam buku ini adalah strategi pembelajaran aktif yang dibutuhkan para pendidik untuk mengubah orientasi pembelajarannya, selain itu buku ini termasuk dalam golongan buku strategi pembelajaran untuk mengatasi permasalahan pendidikan.

Sebagaimana buku-buku lain yang mengangkat stretegi pembelajaran. Deve Meier dalam The Accelerated Learning Handbook menggubakan SAVI (somatis, audiotori, visual, dan intelektual) sebagai prinsip pokok belajar. Bila Mel silberman mengangkat 101 strategi pembelajaran aktif yang menghubungkan otak, guru, dan siswa. Maka Deve Maier mengemukakan pokok belajar dimasing-masing aspek somatis, auditori, visual dan intelektual untuk diasah dalam pembelajaran. Selain itu Deve Meier mengemukakan emosi positif sebagai alat pembantu pembelajaran yang baik, sedangkan Mel Silberman tidak menyinggung kekuatan emosi dalam pembalajaran. Mel Silberman hanya berorientasi pada otak, guru, dan siswa saja.
Sebagai sosok yang berlatar belakang psikologi. Mel Silberman dikenal sebagai agent motivator yang handal dan berkecimbung di dunia pelatihan sejak ia menamatkan sekolah psikologinnya. Maka pembaca tidak heran bila dalam penyajiannya buku ini membentuk aturan, layaknya sebuah alat pelatihan. Alat pelatihan yang dikemukakan Mel adalah alat pelatihan yang sudah dihubungkan antar aspek satu dengan aspek yang lain, jadi pembaca hanya memilih alat yang disesuaikan materi yang akan diajarkan. Sebelum pembaca diantar ke dalam alat pelatihan, Mel Silberman telah memaparkan bagiamana alat pelatihan itu bekerja, dalam buku ini Mel Silberman menuangkannya dalam bab pengenalan belajar aktif.

Ada keganjilan di dalam buku ini yang tidak mendukung keberhasilan Mel Silberrman dalam penyinergisitaskan tiga aspek. Tidak ada ilustrasi dalam 101 strategi pembelajaran aktif, sehingga menyulitkan untuk memahami strategi-strstegi yang menggunakan alat bantu. Selain itu, perlu disayangkan dalam penyuntinga buku ini masih menyimpan kekurangan. Masih banyak kata-kata yang salah penulisannya, baik kata yang kurang huruf atau kata yang salah huruf. 

Secara keseluruhan buku ini mampu memamaparkan bagaimana sebuah pembelajaran yang aktif diterapkan dalam kelas. Selayaknya dua sisi mata uang, maka buku iini memliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dan kelebihan ini akan menjadi acuan untuk penyeleksian buku mana yang sesuai dengna kebutuhan pembaca. Kekurangan dan kelebihan ini juga menjadi tolak ukur guna pengadaan revisi buku ataupun tolak ukur penulisan karya lain.

Kinanti Swastika
2115081331
3.A
PK. Menulis

4 komentar:

putri mengatakan...

Secara keseluruhan resensi Kinan seudah memenuhi teori resensi dimana terdapat latar belakang (tema, deskripsi buku), macam dan jenis buku, keunggulan (organisasi buku, ulasan buku, bahasa, teknik buku) dan kelemahan buku, serta nilai (membandingkan dengan buku lain). Kinan memilih perbadingan buku yang tepat dan dibahas dengan singkat namun tetap jelas perbandingannya. Hanya saja pada awal paragraf pendahuluan tertulis “Mel Silberman mengemukakan bagaimana wacana interaksional itu terbentuk dalam pembelajaran” alangkah lebih baik jika dipaparkan contohnya, sehingga pembaca mempunyai gambaran yang jelas mengenai wacana interaksional.
Dalam penulisan resensi masih ada kesalahan pengetikan ejaan. Saya melihat adanya kerancuan antara kesimpulan dan keunggulan buku, karena Kinan tidak menuliskan secara khusus keunggulan buku. Tetapi tampak bahwa keunggulan buku dijadikan satu dengan paragraf kesimpulan. Seharusnya paragraf kesimpulan ditulis dalam paragraf yang berbeda dan mencerminkan kesimpulan keselurahan dari resensi buku tersebut


terimakasih
Dewi Gustiana Putri

Teguh Muda mengatakan...

Keseluruhan resensi sudah bagus,lengkap dengan teori resensi tersebut.Dalam pengejaan kata, adanya kata-kata kurang bagus.

terimaksih
Teguh Muda

syahidsundana mengatakan...

Assalaamu'alaikum

Secara keseluruhan resensi ini sudah cukup baik, cukup menjelaskan isi dari buku tersebut. Alangkah baiknya jika Kinan memberikan ilustrasi di awal penulisan, sehingga pembaca resensi bisa lebih "include" ke dalam pembahasan topik.

Regards

M. Sahid Sundana

syahidsundana mengatakan...

Oh iya, ada yang terlupa. Benar tuh komentar yang sebelum saya, tolong ejaannya diperbaiki lagi.

Terimakasih :)