Minggu, 05 Desember 2010

MAULANA HUSADA - Optimalisasi Pembelajaran Aktif Mel Silberman

Optimalisasi Pembelajaran Aktif Mel Silberman


Guru yang baik adalah guru yang bisa membawa dunia pembelajar (murid) ke dalam dunia pengajar (guru) dan mengantarkan dunia pengajar (guru) ke dalam dunia pembelajar (murid). Adanya interaksi tersebut menggarisbawahi kesepaduan dalam kegiatan proses belajar-mengajar yang terlihat dari strategi pembelajaran yang digunakan. Ini berarti strategi pembelajaranlah yang menjadi poros persoalan utama di dalam kegiatan belajar-mengajar. 
Oleh: Maulana Husada*


Judul buku            : ”Active Learning ”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif 
Penulis                 : Mel Silberman 
Penerbit                : Insan Madani 
Tahun Terbit          : 2009  
Dimensi                : 15,5 x 23 cm 
Halaman               : 292 halaman 
ISBN                    : 978-979-026-044-3

        Globalisasi yang ditandai kemajuan-kemajuan penting dalam teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap pelbagai sektor kehidupan manusia, baik ekonomi, sosial budaya maupun di dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan guru tidak lagi satu-satunya sebagai narasumber dalam proses pembelajaran. Berkembangnya hal tersebut memungkinkan siswa dapat mengakses sendiri berbagai sumber belajar. Karena itu apabila guru atau tenaga pendidik ingin tetap mempertahankan peran sentral dalam proses pembelajaran, mereka harus membenahi diri, terutama dalam strategi pembelajaran.
Menurut Kemp (Wina Senjaya, 2008) dalam buku Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Artinya strategi pembelajaran melibatkan guru dan siswa. Guru sebagai tenaga pendidik harus memerhatikan rencana pengajaran seperti bahan, metode dan alat evaluasi serta mampu menciptakan strategi mengajar yang aktif dan menyenangkan. Dalam hal ini strategi mengajar merupakan politik atau taktik yang digunakan guru untuk memecahkan masalah dalam proses pembelajaran di kelas. Masalah utama dalam proses pembelajaran di kelas adalah ketidaksesuaian antara strategi pembelajaran dengan tujuan dan konteks siswa sebagai pembelajar. Keluhan siswa dan pengamat pendidikan seringkali mempermasalahkan strategi mengajar yang kuno seperti metode ceramah sehingga menjadikan pembelajaran yang monoton. Padahal tidak ada metode yang paling bagus dan paling buruk. Metode pembelajaran akan bagus jika sesuai dengan tujuan dan konteks siswa sebagai pembelajar. Sebaliknya metode pembelajaran akan menjadi buruk apabila tidak sesuai dengan tujuan dan tidak mendukung dengan keberhasilan belajar siswa. Disinilah, peran seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran melalui strategi mengajar yang aktif dan menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga terjalin kesesuaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Belajar bukanlah sekedar penyampaian informasi kepada peserta didik, melainkan belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan peserta didik itu sendiri. Artinya suasana kegiatan belajar mengajar yang aktif dan menyenangkanlah yang sampai saat ini terus dilakukan secara optimal demi mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Konsep belajar aktif sesungguhnya telah diperkenalkan oleh seorang filsuf kebangsaan Cina yakni Conficius lebih dari 2400 tahun yang lalu. Ia menyatakan, apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham. Mel Silberman, seorang ahli psikologi pendidikan berkebangsaan Amerika mengembangkan paham belajar aktif, ia memodifikasi dan memperluas teori sebelumnya bahwa dalam pembelajaran tidak hanya melalui apa yang didengar, apa yang dilihat, dan apa yang dilakukan tetapi juga membutuhkan adanya sesuatu yang ditanyakan, lalu didiskusikan kemudian belajar untuk mengajarkan dan suatu ilmu akan terkuasai. Hal ini berarti belum optimalnya suatu sinergisitas antara kemampuan otak bekerja secara efektif, pembelajaran guru, dan kemampuan siswa dalam menguasai suatu ilmu.
Adanya suatu sinergisitas kemampuan otak, pembelajaran guru, dan kemampuan siswa merupakan sebuah optimalisasi pembelajaran aktif pilihan yang ditawarkan oleh Mel Silberman menuju kesesuaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kesadaran inilah yang menjadikan latar belakang bagi Mel Silberman meluncurkan karyanya yang terakhir ACTIVE LEARNING - 101 Strategi Pembelajaran Aktif, demi menandai babak baru kebangkitan pendidikan yang manusiawi. Upaya kebangkitan ini diwujudkan dalam pembahasan yang terbagi menjadi empat bagian yang sistematis. Bagian pertama, memperkenalan konsep belajar aktif, berupa penjelasan bagaimana pemahaman kita dalam mencapai kegiatan belajar mengajar yang efektif, lingkungan fisik yang mendukung, beragam bentuk diskusi yang melibatkan siswa secara aktif. Bagian kedua, berisi strategi-strategi membuat peserta didik aktif sejak dini yang menyangkut tiga persoalan pokok, strategi membangun tim, strategi penilaian secara cepat, dan strategi melibatkan peserta didk dalam belajar dengan segera. Bagian tiga, mencakup bagaimana membantu peserta didk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap aktif. Bagian keempat, menekankan evaluasi yang menjadi kelemahan guru saat ini yakni bagaimana belajar agar tidak lupa. Keempat bagian buku yang merupakan pembahasan dalam buku ini merupakan suatu sinergisitas yang sistematis dalam membentuk optimalisasi pembelajaran aktif dan menyenangkan.
Buku yang termasuk dalam klasifikasi strategi pembelajaran ini cocok untuk seluruh praktisi pendidikan. Belajar aktif berlaku bagi siapa saja, baik yang sudah berpengalaman maupun pemula baik guru, dosen, maupun calon tenaga pengajar. Dilengkapi dengan beragam strategi yang bisa diterapkan di berbagai tingkatan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Keberagaman dari strategi-strategi yang dirancang untuk mendorong siswa aktif dalam belajar ternyata membawa pengaruh terhadap terbitnya buku Strategi Pembelajaran Aktif yang ditulis oleh Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. Buku ini juga berisikan kumpulan strategi pembelajaran yang aktif yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terpusat pada strategi pembelajaran dan bagian kedua yakni strategi evaluasi. Bila Mel Silberman lebih mengutamakan adanya proses sinergisitas antara kemampuan otak, pembelajaran guru, dan kemampuan yang dirangkai bagian demi bagian pembahasan secara sistematis sedangkan ketiga penulis tersebut lebih mengutamakan sebuah kepraktisan berupa langkah-langkah yang mudah untuk diterapkan dilengkapi dengan contoh-contoh yang cukup dikenal di kalangan masyarakat.
Mel Silberman sudah cukup berhasil menemukan formula melalui strateginya dalam menghadapi lemahnya strategi yang digunakan tenaga pengajar. Perwajahan dengan warna yang menarik sudah mewakili dari isi yang tercantum di dalamnya. Hal yang patut disayangkan dalam buku yang kaya akan pembelajaran yang inspiratif ini terletak pada penyusunan bahasa yang terasa kurang pas bila dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa persoalan penyuntingan seperti kurang dan salah huruf dalam suatu kata perlu diperhatikan. Selain itu akan terasa lebih menarik bila diberikan ilustrasi gambar yang mendukung dalam setiap langkah pembelajaran.
Strategi pembelajaran aktif yang dipelopori oleh Mel Siberman merupakan sebuah kunci sukses seorang tenaga pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Secara keseluruhan optimalisasi pembelajaran aktif ini sudah menjawab dari lemahnya strategi pembelajaran yang monoton. Dibutuhkan upaya dari seluruh komponen pendidikan agar membentuk pendidikan yang berkarakter melalui pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
*Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Jakarta

4 komentar:

Gita Rosi Wulandari mengatakan...

seorang guru harus mampu membawa dunia mereka (siswa) ke dunia kita (guru) dan antarkan dunia kita (guru) ke dunia mereka (siswa). dengan kata lain guru juga harus bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai untuk siswa-siswanya serta menyenangkan. kehadiran buku active learning ini dapat membantu guru untuk menemukan metode yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan.
seperti pada resensi yang dikerjakan oleh saudara maulana husada yang mencoba menerangkan tentang isi buku tersebut kepada para pembaca baik untuk guru maupun calon guru serta untuk masyarakat umum.
secara keseluruhan penulisan resensi sudah bagus, karena terdiri dari pendahuluan, isi dan penutup.
tetapi masih terdapat kekurangan seperti latar belakang penulis kurang lengkap dan kurang mendalam, masih terdapat ejaan yang kurang kurang tepat (salah), dan ada kalimat yang kurang padu.
dalam pendahuluan maulana terlalu berbelit-belit dan terlalu banyak.
kevariasian antar kalimat-kalimat juga kurang dijaga seperti terlalu banyak menggunakan kata "yang".
maulana juga kurang memperhatikan penggunaan tanda baca, seperti tanda baca koma (,).
maulana juga kurang memperhatikan kata konjungsi yang akan digunakan.
dalam kesimpulan, sudah sedikit menggambarkan tentang isi dari resensi yang dibuat.

roni mengatakan...

secara keseluruhan sudah baik...kebetulan saya juga sudah membaca buku ini,walaupun secara skiming. Penulis (Maulana) kurang atau bahkan tidak menyebutkan kekurangan buku ini.kalau tidak salah dalam buku cara kerja yang dicontohkan masih menggunakan tokoh-tokoh luar negeri(pada metode yg menggunakan tokoh) seperti karl max,dll.ini kurang sesuai jika diterapkan di pembelajaran kita khususnya pada tingkat sekolah menengah.hal ini bs dijadikan contoh kekurangan buku ini. Selain itu, jika mengikuti pembelajaran saat ini yg juga menilai masalah akhlak, budi pekerti,dan juga pembentukan karakter siswa, maka dalam buku ini juga tidak memasukkan aspek tersebut. Jadi bisa ditambahkan pada bagian "saran untuk pembaca yg ini menerapkan strategi pembelajaran pada buku ini.......".
oke...semangat maul..teruslah menulis.
Roni Kurniawan

nurul isni mengatakan...

resensi yang cukup menarik. bagian pengantarnya juga bagus. porsi bagian resensinya agak berat pada pembukanya. selebihnya cukup baik. hanya saja, apakah kekurangan dari buku tersebut hanya persoalan alih bahasa saja? hampir semua resensi dalam blog ini hanya membahas kekurangan buku ini dari segi itu-itu saja.

sekian, terima kasih.

Yuke (UI) mengatakan...

secara keseluruhan udah baik..tapi agak perhatikan penggunaan pungtuasi koma sama konjungsi (misalnya: 'karena' gak blh di dpn kalimat).. ok?? semangat2!