Minggu, 05 Desember 2010

IRMA BUDIASTUTI - Pembelajaran Aktif Sebagai Usaha Untuk Mengoptimalkan Pencapaian Hasil Belajar


Pembelajaran Aktif
Sebagai Usaha Untuk Mengoptimalkan Pencapaian Hasil Belajar 
Oleh: Irma Budiastuti


Judul : Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif
Tahun Terbit : Cet 1: 2007, Cet 6: Juli 2009
Kertas & Halaman : 292 + xxviii Halaman, isi kertas HVS
Buku : 15,5 x 23 cm, Soft Cover
Kategori : Pendidikan
ISBN : 978-979-026-044-3

Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan: What I hear, I forget. What I see, I remember. What I do, I understand. Yang artinya: Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham. Tiga pernyataan sederhana ini membicarakan bobot penting pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.
Mel Silberman (1996) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius tersebut di atas menjadi apa yang ia sebut paham belajar aktif sebagai berikut: Apa yang saya dengar saya lupa (What I hear, I forget ); Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit (What I hear and see, I remember a little ); Apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman, saya mulai paham (What I hear, see, and ask question about or discuss with someone else, I begin to understand ). Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan (What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill ); Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya (What I teach to another, I master ).
Lain Confucius, lain pula ahli yang lain. Seorang ekonom filsuf pemenang hadiah Nobel, Amartya Sen, telah menyelidiki sifat dasar dan arti penting kebebasan dan otonomi serta kondisi-kondisi yang mendukungnya. Di dalam bukunya, Development as Freedom (2000), ia membedakan nilai penting pilihan, di dalam dan dari dirinya sendiri, dari peran fungsional yang dimainkan oleh pilihan dalam kehidupan kita. Ia mengatakan bahwa alih-alih mendewakan kebebasan memilih, kita seharusnya bertanya kepada diri sendiri apakah hal tersebut mengembangkan kita atau justru menjerumuskan kita. Apakah hal itu membuat kita lebih mampu berpartisipasi dalam komunitas atau justru malah menghambat kita.
Berangkat dari pernyataan Confucius dan buku Amartya Sen inilah Mel Silberman mengembangkan pemikirannya,  sehingga mampu “melahirkan” buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Banyak orang percaya, satu kalimat mampu menciptakan perang, namun satu kalimat juga mampu mengubah dunia dan membuat seseorang menciptakan sebuah karya.
Jika dalam pernyataanya, Confucius –sebagai tonggak awal terciptanya ide- membicarakan bobot penting dalam pembelajaran aktif, maka Amartya Sen menjadi sumber pelengkap bagi Mel Silberman untuk merumuskan strategi-strategi tersebut. Seperti yang dikatakan Sen dalam bukunya, bahwa “tolak ukur keberhasilan ekonomi, politik, maupun pendidikan adalah seberapa jauh semua usaha itu bisa memberikan ruang dan fasilitas yang lebih luas bagi pengembangan kepribadian dan kebebasan masyarakatnya.”
Terinspirasi dari kedua pernyataan tersebut, Mel Silberman, merumuskan strategi-strategi penting yang harus dilakukan oleh para pendidik guna menciptakan iklim belajar aktif, dan suasana kelas yang positif agar mampu mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif terdiri dari empat subbab inti dimana keempat bagian tersebut adalah keseluruhan proses yang harus dilalui untuk menciptakan pembelajaran aktif, diantaranya:
Bagian Satu (Memperkenalkan Konsep Belajar Aktif)
  1. Model-model Belajar
  2. Dimensi Sosial Belajar
  3. Kepedulian Terhadap Belajar Aktif
  4. Inti dan Kerangka Belajar Aktif
Bagian Kedua (Bagaimana Membuat Peserta Didik Aktif Sejak    Dini)
  1. Strategi Membangun Tim
  2. Strategi Penilaian Secara Tepat
  3. Strategi Melibatkan Peserta Didik
Bagian Ketiga (Bagaimana Membuat Peserta Didik Memperoleh            Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap secara Aktif)
  1. Pengajaran Kelas Penuh
  2. Merangsang Diskusi Kelas
  3. Menghadapi Pertanyaan Terlalu Sulit
  4. Belajar dengan Cara Bekerja Sama
  5. Mengajar Teman Sebaya
  6. Belajar Mandiri
  7. Belajar Afektif
  8. Pengembangan Kecakapan
Bagian Keempat (Bagaimana Belajar agar Tidak Lupa)
  1. Strategi strategi Meninjau Ulang
  2. Penilaian Diri
  3. Sentimen Terakhir
Mel Silberman menulis buku ini bukan tanpa alasan. Hal yang mendasari lahirnya buku ini adalah fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan di Amerika, di mana peserta didik sering kali diajak untuk memulai proses pembelajaran disaat kondisi mental mereka belum siap untuk menerima materi pelajaran yang disuguhkan oleh pendidik. Alhasil, yang terjadi adalah ketidakmaksimalan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Mel Silberman menempuh bidang ilmu psikologi, dan saat ini sudah dikenal sebagai psikolog internasional yang fokus utamanya adalah bidang pendidikan. Berdasarkan latar belakang pendidikan dan karya-karya yang telah dihasilkannya, Silberman memiliki kompetensi tinggi dalam menulis hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Adapun bukunya yang berjudul 101 Strategi Membuat Pelatihan Aktif bahkan terpilih menjadi salah satu buku pelatihan dan pengenbangan terbaik versi Training Magazine. Hal tersebut membuktikan bahwa buku ini layak diapresiasi karena ditulis oleh seorang ahli yang memang menguasai bidangnya. Berikut ini adalah beberapa buku-buku Mel Silberman lainnya yang telah dipublikasi:
  • Active Training: A Handbook of Techniques, Designs, Case Examples, and Tips (third edition)
  • Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject
  • 101 Ways to Make Meetings Active
  • People Smart: Developing Your Interpersonal Intelligence
  • Teaching Actively
  • The Consultant's Big Book of Reproducible Surveys and  Questionnaires
  • The Consultant's Big Book of Organization Development Tools
  • The Active Manager's Toolkit
  • The Best of Active Training I & II
  • Training the Active Training Way
  • The 60 Minute Active Training Series
  • Working People Smart: 6 Strategies for Success
  • The Handbook of Experiential Learning
Dengan demikian, keempat langkah konkret yang terdapat di dalam buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif ini merupakan kunci keberhasilan pembelajaran aktif bagi peserta didik. Buku ini sudah mencakup keseluruhan proses, beserta cara-cara yang dibutuhkan oleh pendidik untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.

Sumber Referensi:
·         Buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif karangan Mel Silberman
·         http://www.gramedia.com

3 komentar:

Yayah Athoriyah mengatakan...

Pada paragraf pertama sudah diawali dengan cukup baik karena memaparkan pendapat dari ahli sehingga menarik perhatian pembaca. Pada paragraf ketiga dengan baik Irma menyajikan data untuk memperkuat argumennya. Hal ini merupakan nilai plus untuk Irma sendiri. Tetapi apabila kita lihat pada paragraf keempat, Irma memaparkan tentang pendapat Mel Silberman yang memodifikasi pendapat dari Confucius yang sebelumnya telah dipaparkan pada paragraf pertama. Namun, menurut saya alangkah lebih baik bila paragraf keempat ditulis setelah paragraf pertama agar koherensi antar paragraf baik dan tidak terlihat mengulang pembahasan yang sama dalam paragraf yang berbeda karena seperti yang kita lihat, Irma memutuskan untuk memaparkan argumen baru pada paragraf kedua.
Selanjutnya, Irma membandingkan teori yang dikemukakan oleh Confucius dengan seorang ekonom filsuf pemenang hadiah Nobel yakni Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom (2000). Irma hanya mengutip satu pernyataan dan menjelaskan secara singkat tentang buku tersebut. Menurut saya hal ini masih belum cukup membandingkan teori yang ada dalam buku karya Amartya Sen dengan buku karya Mel Silberman. Selain itu, Irma tidak memaparkan fenomena pendidikan yang ada di Indonesia yang mana sasaran pembaca buku ini adalah para pendidik di Indonesia. Irma hanya mengacu kepada fenomena pendidikan di Amerika seperti yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan dalam buku Active Learning karena buku ini merupakan buku terjemahan yang ditulis oleh ahli yang berasal dari Amerika.
Dalam mendeskripsikan buku, Irma sudah cukup baik dalam menjelaskan kepada pembaca dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sistematika penyampaian argumen untuk meyakinkan pembaca. Organisasi buku dipaparkan dengan detail sehingga memudahkan pembaca mengetahui keseluruhan isi buku. Irma juga telah memaparkan latar belakang penulis buku dan menyebutkan buku-buku yang telah dihasilkan oleh penulis sehingga menunjukkan bahwa Mel Silberman merupakan seorang yang ahli bidang psikologi yang mampu menghadapi berbagai macam kriteria orang lain sehingga membuat pembaca yakin bahwa buku Active Learning ditulis oleh seseorang yang ahli dalam bidangnya. Namun, yang kurang adalah Irma tidak menjelaskan mengenai kekurangan buku tersebut yang selayaknya ada dalam resensi buku. Irma juga tidak menjelaskan mengenai teknis dan bahasa dalam buku tersebut, apakah bahasa yang digunakan sudah baik atau tidak.
Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan Irma dengan baik mengungkapkan argumen disertai data untuk memperkuat argumennya. Irma juga dengan baik memilih kata-kata yang bersifat persuasif pada pembaca dengan menjelaskan kelebihan buku yang lebih dominan. Koherensi antar paragraf cukup baik, hanya ada satu paragraf yang dirasakan kurang tepat dalam penempatannya. Kesalahan pengetikan tidak ditemukan dalam jumlah banyak, ejaan maupun penulisan sudah baik. Namun Irma tidak menyampaikan kelemahan buku.

Yayah Athoriyah mengatakan...

Pada paragraf pertama sudah diawali dengan cukup baik karena memaparkan pendapat dari ahli sehingga menarik perhatian pembaca. Pada paragraf ketiga dengan baik Irma menyajikan data untuk memperkuat argumennya. Hal ini merupakan nilai plus untuk Irma sendiri. Tetapi apabila kita lihat pada paragraf keempat, Irma memaparkan tentang pendapat Mel Silberman yang memodifikasi pendapat dari Confucius yang sebelumnya telah dipaparkan pada paragraf pertama. Namun, menurut saya alangkah lebih baik bila paragraf keempat ditulis setelah paragraf pertama agar koherensi antar paragraf baik dan tidak terlihat mengulang pembahasan yang sama dalam paragraf yang berbeda karena seperti yang kita lihat, Irma memutuskan untuk memaparkan argumen baru pada paragraf kedua.
Selanjutnya, Irma membandingkan teori yang dikemukakan oleh Confucius dengan seorang ekonom filsuf pemenang hadiah Nobel yakni Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom (2000). Irma hanya mengutip satu pernyataan dan menjelaskan secara singkat tentang buku tersebut. Menurut saya hal ini masih belum cukup membandingkan teori yang ada dalam buku karya Amartya Sen dengan buku karya Mel Silberman. Selain itu, Irma tidak memaparkan fenomena pendidikan yang ada di Indonesia yang mana sasaran pembaca buku ini adalah para pendidik di Indonesia. Irma hanya mengacu kepada fenomena pendidikan di Amerika seperti yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan dalam buku Active Learning karena buku ini merupakan buku terjemahan yang ditulis oleh ahli yang berasal dari Amerika.
Dalam mendeskripsikan buku, Irma sudah cukup baik dalam menjelaskan kepada pembaca dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sistematika penyampaian argumen untuk meyakinkan pembaca. Organisasi buku dipaparkan dengan detail sehingga memudahkan pembaca mengetahui keseluruhan isi buku. Irma juga telah memaparkan latar belakang penulis buku dan menyebutkan buku-buku yang telah dihasilkan oleh penulis sehingga menunjukkan bahwa Mel Silberman merupakan seorang yang ahli bidang psikologi yang mampu menghadapi berbagai macam kriteria orang lain sehingga membuat pembaca yakin bahwa buku Active Learning ditulis oleh seseorang yang ahli dalam bidangnya. Namun, yang kurang adalah Irma tidak menjelaskan mengenai kekurangan buku tersebut yang selayaknya ada dalam resensi buku. Irma juga tidak menjelaskan mengenai teknis dan bahasa dalam buku tersebut, apakah bahasa yang digunakan sudah baik atau tidak.
Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan Irma dengan baik mengungkapkan argumen disertai data untuk memperkuat argumennya. Irma juga dengan baik memilih kata-kata yang bersifat persuasif pada pembaca dengan menjelaskan kelebihan buku yang lebih dominan. Koherensi antar paragraf cukup baik, hanya ada satu paragraf yang dirasakan kurang tepat dalam penempatannya. Kesalahan pengetikan tidak ditemukan dalam jumlah banyak, ejaan maupun penulisan sudah baik. Namun Irma tidak menyampaikan kelemahan buku.

Dwi Ratna Bunindha mengatakan...

Secara keseluruhan menurut saya resensi yang dipaparkan sudah bagus, hanya saja masih kurang lengkap, diantaranya seperti penjelasan tentang organisasi buku dan belum membandingkan dengan teori dari buku lain.

Penjelesan mengenai teknis juga belum dipaparkan, dan kebanyakan hanya mengulas kebaikan dari buku, kekurangannya belum bamyak ditulis.

Namun, dalam hal pengenalan terhadap penulis, sudah baik. Saudara Irma memaparkan dengan lengkap, siapa itu Mel Silberman dan turut melampirkan beberapa buku sebelumnya yang telah dihaslkan oleh penulis.

Semoga komentar saya bermanfaat, terima kasih.