Minggu, 05 Desember 2010

NUR'AINI - Wajah Pendidikan Indonesia

Wajah Pendidikan Indonesia

Menurut Komaruddin:
Untuk menentukan bangsa akan maju, jatuh, mundur, atau stagnasi salah satu faktor yang memengaruhi adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa, hal itu dalam cakupan besar. Cakupan terkecil tentu pendidikan sangat berperan bagi aktualisasi diri sendiri di masyarakat. Mau jadi, mau kemana, itu dapat dipengaruhi oleh pendidikan.

Oleh: NUR’AINI



Berangkat dari apa yang diamati dari fenomena pendidikan yang terjadi Komaruddin berinisiatif menyadur sebuah buku yang menurutnya dapat dijadikan solusi bagi kebobrokan yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Active Learning, adalah buku hasil karya penulis luar negeri yakni Melvin L. Silberman. Di dalam buku ini pembaca dapat menemukan berbagai macam strategi untuk proses pembelajaran yang menjujung tinggi keaktifan baik aktif untuk peserta didik maupun pendidik itu sendiri. Menurut Melvin L. Silberman belajar bukanlah hanya kegiatan menansfer ilmu melainkan membangkitkan sikap mental yang memengahruhi kegiatan belajar itu sendiri dalam arti belajar merupakan kegiatan yang mengaktifkan segalanya. Begitu pula dengan penyadur dari tanah air kita, Indonesia Komaruddin bertujuan bagaimana pendidikan di Indoensia tidak hanya bersifat pendidik sentris dengan kata lain semua informasi atau dan kegiatan berpusat pada pendidiknya saja. Tugas peserta didik hanyalah mendengarkan dan memenuhi permintaan pendidik saja. Proses pembelajaran seperti itu sudah tidak layak lagi digunakan di Indonesia, menurut.

Komaruddin karena persaingan semakin meningkat. Persaingan yang terjadi tidak hanya antarsuku saja melainkan antar bangsa atau bahkan anatarbenua. Semakin tingginya tuntutan itu juga salah satu faktor mengapa Komaruddin menyadur buku yang berisikan 101 strategi pembelajaran tersebut. Active Learning buah karya Melvin L. Silberman dapat dikatakan buku yang baik untuk dikonsumsi tidak hanya oleh para pendidik, calon pendidik, atau orang-orang yang berkutat di dunia pendidikan saja tetapi juga baik digunakan oleh para ibu yang menginginkan anak-anaknya terbentuk menjadi pribadi yang unggul dan aktif.

Bila Active Learning dibandingkan dengan buku-buku yang membahas strategi pembelajaran aktif lainnya seperti Complexities Teaching, karya Ciaran Sugrue atau Finding a Voice While Learning to Teach, karya Derek Featherstone, Hugh Munby, Tom Russell yang juga berbahasa asing. Namun perbedaannya buku-buku tersebut belum ada yang menyadur karena bila dilihat dari isi Active Learning memang lebih unggul dari segi strategi pembelajaran. Buku tersebut diperkaya dengan strategi sehingga pembaca kaya akan strategi pembeljaran. Sangat disayangkan sekali bahasa Active Learning dapat dikatakan masih sukar dipahami walau sudah disadur ke dalam bahasa satu orang Indoensia yakni bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan karena struktur kalimat bahasa asing tidak sama dengan bahasa Indonesia dan penyadur tidak menyesuaikan struktur tersebut sehingga ada kata-kata yang tidak sesuai konteks dalam penggunaannya.

Menurut Komaruddin buku ini sangat cocok bagi guru pemula yang nantinya di tangan merekalah pendidikan Indonesia akan diemban dan karena guru adalah ujung tombak dari pendidikan itu sendiri. Kepedulian Komaruddin terhadap pendidikan di Indonesia dibuktikan melalui buku yang disadurnya, karena kemirisannya terhadap krisis pendidikan di Indonesia yang membuat Indonesia semakin terpuruk. Dari hal yang kecil Komaruddin menyelamatkan tanah airnya, bermula dari pendidikan ia membangkitkan bangsa Indonesia.

NUR’AINI
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Angkatan 2008

3 komentar:

Anonim mengatakan...

qo punya ku blm ada yg komen ya?

siti nurjanah mengatakan...

Resensi ini sudah baik, namun judul yang dicantumkan Nuraini tidak mencerminkan isi resensinya. Sepertinya Nuraini salah persepsi mengenai siapa penerjenah buku Active Learning ini. Nuraini berasumsi bahwa Komarudin Hidayat lah yang menerjemahkan buku ini, padahal kenyataannya penerjemah buku ini yaitu Sarjuli, Adzfar Ammar, Sutrisno, Zainal Arifin, Ahmad dan Muqowin. Akibat kesalahan persepsi itulah maka Nuraini membuat seolah-olah Komarudin Hidayat mempunyai andil besar dalam pembuatan buku ini padahal beliau hanya menulis kata pengantar. isi resensinua juga terkesan menggunakan sudut pandang Komarudin Hidayat. Pemaparan isi resensi tidak terlalu mendalam mengenai buku ini, Nuraini hanya menjelaskan secara umum. dilihat dari teknik penulisan, masih banyak kalimat yang tidak padu dan saling tumpang tindih. Terlepas dari itu semua, tulisan Nuraini ini sudah menunjukkan penghargaannya terhadap bapak Komarudin Hidayat atas jasanya di dunia pendidikan.

Anonim mengatakan...

bagaimana