Rabu, 09 Februari 2011

CAMPUR KODE DALAM NOVEL MARRIAGABLE KARYA RIRI SARDJONO DENGAN PENDEKATAN SOSIOLINGUISTIK


oleh Nurul Assokhawati

1. Pendahuluan
     Dalam situasi pertuturan baik bersifat formal maupun yang bersifat informal, baik lisan maupun tulis sering ditemukan orang bertutur dengan menggunakan bahasa tertentu tiba-tiba mengganti bahasanya. Mengganti bahasa diartikan sebagai tindakan mengalihkan bahasa maupun mencampur antara bahasa satu dengan bahasa lainnya. Penggantian bahasa atau ragam bahasa bergantung pada keadaan atau keperluan bahasa itu (Nababan, 1986:31).
Latar belakang hidup di dalam masyarakat bilingual dan multilingual membuat orang Indonesia mampu berbicara setidaknya dalam dua bahasa. Mereka dapat menggunakan paling tidak bahasa daerahnya (yang biasanya merupakan bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena pengaruh globalisasi dan masuknya budaya asing, saat ini bahkan banyak orang yang mampu berkomunikasi lebih dari satu bahasa. Penguasaan beberapa bahasa tersebut mendorong orang-orang menggunakan berbagai bahasa dalam situasi dan tujuan yang berbeda. Karena inilah fenomena campur kode (code mixing) tidak dapat dihindari. Hampir tidak mungkin bagi seorang pemakai bahasa dalam masyarakat bilingual dan masyarakat multilingual untuk menggunakan satu bahasa saja tanpa terpengaruh bahasa lain, meskipun hanya sejumlah kosa kata saja.

2. Apa Itu Campur Kode? Kenapa Menggunakan Pendekatan Sosiolinguistik?
Campur kode merupakan akibat adanya kontak bahasa. Menurut Nababan campur kode merupakan “Penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam satu wacanan menurut pola-pola yang masih belum jelas”. Campur kode dapat terjadi jika pembicaraan penutur menyelipkan bahasa lain ketika sedang menggunakan bahasa tertentu dalam pembicaraannya. Unsur-unsur yang diambil dari bahasa lain itu sering kali berwujud kata-kata, juga berwujud frase, berwujud kelompok kata, berwujud perulangan kata, berwujud beridiom atau ungkapan maupun berwujud klausa. Campur kode dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor lingkungan, kebiasaan pemakai bahasa, menggunakan bahasa asing atau daerah beserta variasinya, terbatasnya kosa kata dalam bahasa Indonesia, serta kurangnya kesadaran pemakai bahasa dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Kajian dalam analisis ini adalah dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik, khususnya mengenai campur kode. Kecenderungan pemilihan kata dengan bahasa asing dan penggunaan variasi bahasa menjadi salah satu faktor pembentuk perilaku percampuran bahasa. Hal ini dapat diperkuat dengan banyaknya penggunaan bahasa asing beserta variasi bahasa pada surat kabar yang disajikan. Tingginya frekuensi membaca di kalangan masyarakat akan mengakibatkan sikap bercampur kode di kalangan masyarakat semakin meningkat. Nababan (1991: 02) mengungkapkan istilah sosiolinguistik jelas terdiri dari dua unsur: sosio- dan linguistik. Kita mengetahui arti linguistik, yaitu ilmu yang mempelajari atau membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa (fonem, morfem, kata, kalimat) dan hubungan antara unsurunsur itu (struktur), termasuk hakekat dan pembentukan unsur-unsur itu. Unsur sosio adalah seakar dengan sosial, yaitu yang berhubungan dengan masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan. Jadi, sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Boleh juga dikatakan sosiolinguistik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan fator-faktor kemasyarakatan (sosial).
Sebagai gejala sosial bahasa dalam pemakaiannya tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik tetapi juga oleh faktor-faktor sosial kultural. Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa meliputi usia, tingkat pendidikan, status sosial, tingkat ekonomi, mapun jenis kelamin. Budaya atau kultur disekitar penutur juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa. Suatu keadaan berbahasa lain ialah bilaman orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan kebiasannya yang dituruti, tindak bahasa yang demikian kita sebut campur kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini adalah kesantaian ataau dalam situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehigga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing, dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau menggarisbawahi kata atau ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadang-kadang terdapat juga campur kode ini bila pembicaran ingin memamerkan “keterpelajarannya” atau “kedudukannya” seperti yang dikatakan nababan.

3. Hubungan Campur Kode dan Novel Marriagable
Situasi kebahasaan, perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan serta teknologi yang semakin canggih, baik berasal dari dalam negeri maupun luar negeri mengakibatkan terjadinya campur kode dalam berbahasa. Menurut Suwito campur kode merupakan konvergensi kebahasaan yang unsur-unsurnya berasal dari beberapa bahasa yang masing-masing telah meninggalkan fungsinya dan mendukung fungsi bahasa yang disisipinya. Campur kode sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam bentuk lisan maupun tulisan, khususnya yang terdapat dalam buku bacaan karya sastra seperti novel. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (KBBI, 2003: 788).
Bahasa sebagai alat berkomunikasi antara individu dapat dikaitkan dengan karya sastra karena di dalamnya terdapat media untuk berinteraksi antara pengarang dengan pembaca. Pengarang dapat mengekspresikan perasaan, gagasan, ideologi, dan wawasannya melalui karya sastra. Ekspresi tersebut sebagai perwujudan sesuatu yang dilihat oleh pengarang baik indrawi maupun hakiki. Pembaca sebagai penikmat karya sastra dapat merasakan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui bahasa yang khas dan menarik. Saat ini perkembangan karya sastra di Indonesia khususnya novel sangat pesat dan membanggakan.
Salah satu novel yang terdapat di Indonesia adalah Marriagable karya Riri Sardjono. Novel ini menarik perhatian, hal ini terlihat dari judul novelnya yang menggunakan bahasa asing. Novel Marriagable karya Riri Sardjono setebal 356 halaman ini merupakan novel bergenre metropop yang kisahnya tak lepas dari kata ‘cinta’ dan tentunya gaya khas penulis yang berani dan lugas. Novel ini merupakan karya dari seorang pengarang Indonesia yang berprofesi sebagai arsitek. Novel ini bercerita tentang seorang wanita bernama flory berumur 30 tahun takut menghadapi pernikahan. Orang tuanya kemudian yang menjodohkannya dengan seorang pengacara bernama vadin. Sebuah pernikahan yang tidak diawali dengan cinta, memunculkan komunikasi yang kurang diantara keduanya. Teman-teman flory yang membentuk genk rumpi, membuat novel ini lebih mengasyikan. Obrolan segar khas cewek-cewek muda, mulai dari cowok, pekerjaan, sampai percintaan dan jodoh membuat novel ini ringan untuk dibaca.

4. Penggunaan Campur Kode pada Novel Marriagable Karya Riri Sardjono
Campur kode dibedakan atas campur kode ke dalam (inner-code mixing) dan campur kode keluar (outer-code mixing). Campur kode ke dalam berupa campur kode yang berasal bahasa asli dengan variasi-variasinya, sedangkan campur kode keluar berupa campur kode bahasa asli dengan bahasa asing. Dalam novel Marriagable campur kode yang digunakan adalah campur kode keluar (outer-code mixing), karena menggunakan bahasa asli yaitu bahasa indonesia dengan bahasa asing yaitu bahasa inggris. Faktor-faktor terjadinya campur kode campur kode terdapat pada tiga faktor berikut : (1) identifikasi peran, (2) keinginan menjelaskan atau menafsirkan, dan (3) kebiasaan.

a.    Terjadinya Campur Kode karena Faktor Identifikasi Peran
Jika dalam novel marriageable itu terdapat percakapan yang menunjukkan adanya indikasi mengenai status sosial, pendidikan penutur atau otoritas kekuasaan maka dapat dikategorikan bahwa campur kode itu akibat dari faktor identifikasi peran. Sebagai contoh :

1.    “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date.” (M: 3)
“Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya tanggal kadaluarsa” (M: 3)

2.    “Flory, stop it,” bisik padma memohon sambil berjalan menuju tempat Vadin dan Bimo duduk. (M: 182)
“Flory, hentikan ini semua,” bisik padma memohon sambil berjalan menuju tempat Vadin dan Bimo duduk. (M: 182)

3.    “Perempuan memang amazing, bahkan dalam niat jahatnya kita masih sangat penyayang.” (M: 172)
“Perempuan memang luar biasa, bahkan dalam niat jahatnya kita masih sangat penyayang.” (M: 172)

4.    “Apa lo nggak punya vocabulary yang lain?” Tanya Dina jengkel. (M: 163)
“Apa lo nggak punya pembendaharaan kata yang lain?” Tanya Dina jengkel. (M: 163)

5.    Lelaki selalu datang dan pergi, tapi fashion is forever.” (M:31)
Lelaki selalu datang dan pergi, tapi fashion is forever.” (M:31)

Cuplikan dialog pada Novel Marriagable di atas menunjukkan telah terjadi campur kode yang disebabkan karena faktor identifikasi peranan. Hal ini dipertimbangkan dari status sosial, pendidikan penutur atau otoritas kekuasaan. Pada kelima cuplikan dialog di atas, salah satunya Dina berbicara dengan status sosial dia sebagai wanita yang sudah menikah terlebih dahulu dan memiliki pengalaman banyak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peristiwa cuplikan dialog diatas memberikan indikasi dimana penutur memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan lawan tuturnya.

b.        Terjadinya Campur Kode karena Faktor Keinginan Menjelaskan atau Menafsirkan
Jika dalam novel marriageable itu terdapat percakapan yang menunjukkan adanya indikasi bahwa penutur mengadakan kontak langsung dengan lawan tuturnya dan berusaha menjelaskan atau menafsirkan sesuatu, maka dapat dikategorikan bahwa campur kode ini terjadi karena faktor menjelaskan dan menafsirkan. Sebagai contoh :

1)        Darling, elo akan terlihat  sangat desperate,” jawab Dina mendesah. (M: 1)
“Sayang, elo akan terlihat  sangat putus asa,” jawab Dina mendesah. (M: 1)

2)        “Tapi gue yakin deep down inside elo semua tetap aja nyari Mr. Right.”(M: 11)
“Tapi gue yakin jauh di lubuk hati elo semua tetap aja nyari Mr. Sempurna .” (M: 11)

3)        “Tapi another part of me ngerasa beruntung karena hidup gw masih bebas.” (M:47)
“Tapi bagian lain dari diri gw ngerasa beruntung karena hidup gw masih bebas.” (M: 47)

4)        Dia memang selalu kesal setiap kali topik pembicaraan tentang percintaan ala fairy tales-nya berkembang menjadi sesuatu yang down to earth, mengacu pada istilah dina. (M: 11)
Dia memang selalu kesal setiap kali topik pembicaraan tentang percintaan ala dongeng-nya berkembang menjadi sesuatu yang rendah hati, mengacu pada istilah dina. (M: 11)


5)        “Dan lagi, biasanya para lelaki malas mencari istri di kalangan early thirty and up.” (M:10)
“Dan lagi, biasanya para lelaki malas mencari istri di kalangan hampir 30 tahun ke atas.” (M:10)

Cuplikan dialog pada Novel Marriagable di atas menunjukkan telah terjadi campur kode yang disebabkan karena faktor keinginan menjelaskan atau menafsirkan. Hal ini dapat dilihat dari adanya keinginan dari penutur untuk mengekspresikan atau menjelaskan sesuatu, misalnya pada kata desperate yang menggantikan kata putus asa memberikan gambaran kemungkinan (menafsirkan) keadaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cuplikan dialog diatas menunjukkan bahwa telah terjadi campur kode bahasa yang disebabkan keinginan penutur menjelaskan dan menafsirkan sesuatu kepada pembacanya.

c.         Terjadinya Campur Kode karena Faktor Kebiasaan
Jika dalam novel marriageable itu terdapat percakapan yang memperlihatkan terjadinya campur kode akibat dari pergaulan antar penutur bahasa tanpa mempunyai maksud tertentu. Sebagai contoh :
1)        “Perempuan nggak pernah makan kalau lagi nge-date.” (M: 15)
“Perempuan nggak pernah makan kalau lagi kencan.”  (M:15)

2)        “Thank you buat sarannya.” (M: 355)
Terima kasih buat sarannya.” (M: 355)

3)        Ladies, bukan penyebabnya yang penting,” ujar Dina mencoba mencairkan suasana. (M:208)
Wanita, bukan penyebabnya yang penting,” ujar Dina mencoba mencairkan suasana. (M:208)

4)        Game, dalam komputernya tiba-tiba berhenti bergerak dan mengeluarkan suara. (M: 292)
Permainan, dalam komputernya tiba-tiba berhenti bergerak dan mengeluarkan suara. (M: 292)

5)        “Kalau para lelaki bisa dengar statement lo sekarang, mereka pasti langsung memutuskan ganti kelamin.” (M: 298)
“Kalau para lelaki bisa dengar pendapat lo sekarang, mereka pasti langsung memutuskan ganti kelamin.” (M: 298)

Cuplikan dialog pada Novel Marriagable di atas menunjukkan telah terjadi campur kode yang disebabkan karena faktor kebiasaan. Peristiwa campur kode di atas semata-mata terjadi karena pertemuan atau pergaulan yang kerap terjadi dalam suatu komunitas berbahasa, sehingga dianggap menjadi campur kode karena faktor kebiasaan.

5. Simpulan 
Bahasa itu beragam, artinya, sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu dipergunakan oleh penutur heterogen dan yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu beragam. Bahasa di dalam realisasinya selalu ada pada konteksnya. Konteks yang dimaksud dalam pengertian ini adalah konteks sosio-kulturalnya. Dalam situasi pertuturan baik bersifat formal maupun yang bersifat informal, baik lisan maupun tulis sering ditemukan orang bertutur dengan menggunakan bahasa tertentu tiba-tiba mengganti bahasanya. Mengganti bahasa diartikan sebagai tindakan mengalihkan bahasa maupun mencampur antara bahasa satu dengan bahasa lainnya.
Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa meliputi usia, tingkat pendidikan, status sosial, tingkat ekonomi, mapun jenis kelamin. Budaya atau kultur disekitar penutur juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa. Suatu keadaan berbahasa lain ialah bilaman orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan kebiasannya yang dituruti, tindak bahasa yang demikian kita sebut campur kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini adalah kesantaian atau dalam situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehigga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing, dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau menggaris bawahi kata atau ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Campur kode sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam bentuk lisan maupun tulisan, khususnya yang terdapat dalam buku bacaan karya sastra seperti novel.
Novel merupakan karangan bebas. Maka seorang pengarang bebas mengekspresikan tulisannya baik yang menyangkut penggunaan bahasa maupun penekanan-penekanan pada kata atau kalimat. Karena tidak terikat oleh suatu aturan-aturan yang harus dipakai. Maka tidak menutup kemungkinan bahasa yang digunakan sehari-hari dapat tertuang dalam karyanya. Dalam novel Marriagable karya Riri Sardjono campur kode yang digunakan adalah campur kode keluar (outer-code mixing), karena menggunakan bahasa asli yaitu bahasa indonesia dengan bahasa asing yaitu bahasa inggris. Faktor-faktor terjadinya campur kode campur terdapat pada tiga faktor berikut : (1) identifikasi peran, (2) keinginan menjelaskan atau menafsirkan, dan (3) kebiasaan. Secara keseluruhan faktor-faktor tersebut memang terdapat pada campur kode pada novel marriageable. Penggunaan campur kode pada novel ini disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Selain itu, dalam novel marriageable penggunaan campur kode juga menjadi daya tarik tersendiri, karena bahasa yang ditampilkan cenderung lugas dan berani dengan nuansa masyarakat urban yang kental.  


DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik (Perkenalan Awal). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rahardi, Kunjana. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.Nababan. 1993. Sosiolinguistik (Suatu Pengantar). Jakarta: Gagas Media.

Tidak ada komentar: