Rabu, 09 Februari 2011

MENDONGENG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS DI SEKOLAH DASAR

  Oleh Nur Rahmah Oktafiani
       I.            PENDAHULUAN
Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses kegiatan yang menyebabkan guru dan murid melakukan suatu kegiatan bersama-sama atau bekerja sama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran ini tercapai maka seorang guru harus mampu mempersiapkan komponen-komponen penunjang pembelajaran, mulai dari menjabarkan kurikulum hingga membuat skenario pembelajaran di kelas. Penjabaran tujuan ini harus sesuai dengan karakteristik siswanya, agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan dapat diserap siswa dengan optimal. Untuk mengoptimalkannya guru harus dapat memilih media yang dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajarannya. Pembelajaran dengan mengintegrasikan media dianggap lebih efektif dibandingkan dengan tanpa mengintegrasikan media, apalagi pada tingkat pendidikan dasar.
Namun, amat disayangkan pada saat ini masih banyak guru yang belum mengintegrasikan media pendidikan dalam proses belajar mengajar mereka. Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dianggap dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Dengan penyajian yang  menarik dan langsung akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkan kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan. Beberapa hasil penelitian LIPI menunjukkan bahwa pengajaran yang paling disenangi siswa jenjang pendidikan dasar adalah mendongeng. Mendongeng yang disertai dengan media akan membantu pemahaman siswa. Ketika seorang guru mendongeng biasanya siswa akan mengoptimalkan alat pendengarannya, pengelihatannya dan perasaannya agar pesan yang disampaikan guru dapat ditangkap dengan baik.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mendapatkan data empiris tentang pemanfaatan mendongeng sebagai media pembelajaran siswa di sekolah dasar.
    II.            MENDONGENG DALAM PEMBELAARAN SASTRA
2.1  DONGENG SEBAGAI KARYA SASTRA
Dongeng merupakan karya sastra yang dekat dengan dunia anak. Hal ini dikarena isi dongeng yang menarik bagi anak. Pada umumnya dongeng merupakan cerita khayalan sehingga mampu mengajak anak untuk berimajinasi. Misalnya dongeng fabel, anak akan berkhayal seolah-olah mereka ada di dunia hewan dan bercakap-cakap dengan hewan yang ada dalam cerita tersebut. Contoh lain misalnya dongeng seorang putri, dongeng jenis ini biasanya digemari oleh anak perempuan, ceritanya mampu memberikan inspirasi bagi mereka untuk memakai gaun seolah-olah mereka menjadi putri yang ada dalam dongeng tersebut.
2.1.1  MENDONGENG DAN ALIRAN MENDONGENG
Kegiatan mendongeng dapat dilakukan oleh siapa saja, misalnya di rumah, mendongeng dapat dilakukan oleh orang tua, di sekolah dilakukan oleh guru, dan di masyarakat luas kegiatan mendongeng sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap perkembangan jiwa anak dan sastra anak. Oleh karena itu para pendongeng tahu benar bahwa dongeng dapat memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai hidup dan kehidupan. Nilai-nilai tersebut yaitu nilai keindahan dan nilai moral. Kedua nilai inilah yang akan meresap dan berkembang dalam diri anak secara alami.
Selain itu, dongeng merupakan cerita yang berfungsi untuk menghibur pembaca atau pendengarnya. Oleh karena itu dongeng sebaiknya disampaikan kepada anak-anak dalam suasana yang penuh kehangatan, pada kesempatan yang tepat, dan dengan mengintegrasikan sebuah media dalam penyampaiannnya. Dengan mengintegrasikan media, seorang pendongeng dapat mengoptimalkan pesan yang terkandung dalam sebuah cerita, sekaligus dapat merangsang pikiran, perasaan, pendengaran, penglihatan, dan minat siswa selama proses belajar berlangsung. Namun sebelum menyampaikan sebuah dongeng, seorang pendongeng harus dapat memilah-memilih dongeng yang sesuai dengan usia penyimaknya.
Ada dua aliran yang dikenal dalam dunia dongeng, seni dongeng tradisional (traditional storytelling) dan seni dongeng kontemporer (contemporary strorytelling). Seni dongeng tradisional, biasanya pembawa cerita dikenal dengan sebutan dalang, ada alat yang dibunyikan sebagai pengiring cerita, dan biasanya digelar dalam setting tradisional, misalnya pada upacara-upacara ritual. Pendongeng tradisional biasanya mengintegrasikan suatu media atau teknik dalam menyampaikan pesan ritualnya, misalnya dengan menggunakan wayang atau permainan. [1](Bunanta, 2004: 121-124).
Seni dongeng kontemporer sering disebut mendongeng saja. Prinsip dasarnya sama dengan seni dongeng tradisional, yaitu menyampaikan pesan dengan bantuan media. Yang bercerita tidak disebut dalang tetapi pendongeng. Kegiatan mendongeng sekarang ini diadakan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hari anak atau hari pendidikan. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan tidak terikat pada pakem-pakem tertentu seperti, adanya musik pengiring, waktu pementasan, dan bahan yang digunakan. Jadi para pendongeng dapat memodifikasinya tergantung pada kreativitas pendongeng dan sesuai dengan bahan yang ada. Selain itu juga seni dongeng kontemporer ini berusaha untuk membangkitkan dan mendayagunakan kembali tradisi yang telah ada. Metode seni dongeng kontemporer ini dipelajari dan dipelopori oleh Dr. Anne Pellowski yang dikenal dengan julukan pendongeng revival, yaitu pendongeng yang mempelajari dan membangkitkan cerita yang bukan berasal dari kebudayaan sendiri.[2]
Dalam seni mendongeng kontemporer berbagai alat dapat digunakan, misalnya pendongeng yang ingin menggunakan wayang, mereka dapat membuat wayang dari bahan lain seperti kertas transparan, tali, saputangan, kertas, kertas origami, pasir lembut di atas projektor, dan sebagainya.
Dapat kita pahami bahwa wayang bukanlah media yang baru diperkenalkan, melainkan media yang telah lama ada dan merupakan tradisi suatu masyarakat yang kemudian dihidupkan dan dikembangkan kembali. Selain wayang, Pellowski juga menggunakan tradisi dongeng tali yang ditemukan pada kebudayan Inca, dan di beberapa daerah di Pasifik dan Afrika. Kemudian ada juga tradisi dongeng gambar yang ditemukan pada kebudayaan masyarakat Walbiri dan Ananda, Australia. Selain kedua tradisi mendongeng, ada juga tradisi dongeng dengan gambar yang dibuat dari guntingan kertas, pendongeng mendongeng sambil menggunting kertas, tradisi ini ditemukan pada kebudayan Jepang yang dikenal dengan sebutan Kamishibai.
2.2  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEGIATAN PEMBELAJARAN
Dalam poses pembelajaran di sekolah banyak faktor yang mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran yaitu faktor internal dan eksternal.  Menurut Iskandarwassid, faktor yang mempengaruhinya: siswa (raw input), faktor lingkungan (environmental input),  faktor instrument (instrumental input) dan proses belajar mengajar (learning-teaching process).
Skema Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar
        Enviromental Input
    |
    |
    |
Raw Input            ----------------->>       Learning-Teaching Proses       <<------------------      Output
    |
    |
     | 
           Instrumental Input 
Sumber: Iskandarwassid, 2004: 4
Dari skema tersebut tergambar jelas bahwa proses belajar mengajar mempengaruhi hasil belajar. Proses belajar mengajar sendiri didukung oleh faktor-faktor lain seperti, kualitas atau pengetahuan awal siswa, faktor lingkungan seperti lingkungan sosial-budaya dan alam, dan faktor instrumen seperti kurikulum, fasilitas dan banyak lagi. Selain hal tersebut di atas yang penting dalam proses belajar mengajar adalah kehadiran guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas adalah guru yang dapat memahami dan menguasai kompetensi keguruan yang telah disepakati secara umum. Menurut Tampubolon (2001: 3) mengklasifikasikan kemampuan dasar yang dijadikan acuan untuk melihat apakah seorang guru memenuhi syarat atau tidak berdasarkan Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi (PGBK), menjadi 11 Kompetensi Dasar Guru. Kesebelas kompetensi dasar digambarkan seperti berikut ini.
1.     Mampu memilih dan menggunakan media/sumber belajar.
2.     Mampu mengadakan interaksi dengan siswa.
3.     Mampu mengidentifikasi bekal awal (pengetahuan dan keterampilan) siswa.
4.     Mampu mengikuti cara berpikir siswa.
5.      Mampu mencari dan menemukan informasi yang bermakna bagi siswa.
6.      Mampu mengadministrasikan bahan ajar dan kemajuan belajar siswa.
7.      Mampu menilai hasil belajar siswa.
8.      Mampu memotivasi siswa untuk belajar bahan ajar.
9.         Mampu menguasai, dapat mengerjakan dan menerapkan dalam kehidupan siswa sehari-hari.
10.     Mampu meningkatkan kemampuan dirinya.
2.2.1  MODEL PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajaran di kelas dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya (Dahlan,1990:21). Untuk menentukan model yang dianggap tepat sangatlah sulit. Model mengajar itu banyak macamnya dan kebaikan dari model mengajar sangat tergantung pada tujuan pengajaran itu sendiri. Pada hakikatnya, mengajar adalah suatu proses tempat pengajar menciptakan lingkungan yang baik, agar terjadi kegiatan belajar yang berdaya guna. Model mengajar tidak hanya memilki makna deskriptif dan kekinian, akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorientasi ke masa depan.
Ada beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Metode-metode belajar yang dipilih sesuai dengan kondisi siswa, guru, fasilitas dan lain-lain. Berikut ini adalah model-model pembelajaran yang diterapkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar.
a. Model Pembelajaran Klasikal
Model pembelajaran klasikal adalah penyampaian materi pelajaran kepada sejumlah siswa dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta metode tugas belajar. Penerapan model dengan menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab ini biasanya digunakan hampir di semua kegiatan belajar mengajar dan  di setiap mata pelajaran.
b.Model Tugas Belajar
Metode tugas belajar, metode ini juga dapat diterapkan untuk pelajaran menulis. Ketika siswa diminta menulis karangan narasi di sekolah, seorang guru biasanya mengintegrasikan sebuah media misalnya gambar, sedangkan untuk menulis karangan yang dibawa ke rumah, biasanya guru hanya memberikan judul karangan.
c. Model Bermain Peran
Model ini dapat diterapkan oleh guru pada materi dramatisasi puisi atau bermain drama. Kelebihan dari model ini adalah, siswa dapat melatih kemampuan berbicara dan membacanya. Selain itu  model bermain peran ini dapat melatih daya ingat siswa. Kekurangan dari model ini adalah waktu yang diperlukan sangat banyak, sehingga kadangkala guru  mendapat kesulitan dalam mempraktekkannya.
d.            Model Pembelajaran Karya Wisata
Model ini dilakukan hampir di setiap sekolah. Namun pada pelaksanaannya, yang menjadi kendala terbesar dari model ini adalah  biaya dan anggapan dari orang tua siswa. Orang tua siswa banyak yang beranggapan bahwa model pembelajaran dengan model  karyawisata hanya untuk bersenang-senang, padahal dalam model pembelajaran ini siswa memperoleh tugas belajar dan memiliki tujuan untuk memperoleh data-data yang mereka perlukan dalam melengkapi materi pelajaran yang dirasakan kurang dan tidak mereka dapatkan  di sekolah.
2.3  PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Setiap anak akan mengalami proses perkembangan dan pemerolehan bahasa sejak lahir. Oleh karena itu, perkembangan dan pemerolehan bahasa berlaku pada siapa saja dimuka bumi ini atau bersifat universal. Labov dan Fishman menyatakan bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin banyak kata yang dikuasainya, baik pemahamannya dalam struktur bahasa, maupun dalam pelajarannya. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang dimiliki oleh setiap manusia akan berkembang sepanjang hidupnya, mulai dari lahir hingga akhir hayatnya, seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan jiwanya.
2.3.1  HAKIKAT PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa dapat dikomunikasikan secara lisan maupun secara tulisan. Kemampuan berbahasa lisan meliputi kemampuan berbicara dan menyimak. Kemampuan berbahasa tulisan meliputi kemampuan membaca dan menulis. Di saat manusia berkomunikasi lisan, ide-ide, pikiran, gagasan dan perasaan dituangkan dalam bentuk kata dengan tujuan untuk dipahami oleh lawan bicaranya.  Demikian pula pada saat anak memasuki usia taman kanak-kanak, mereka dapat berkomunikasi dengan sesamanya melalui bentuk kalimat berita, kalimat tanya, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat lainnya. 
Pada usia ini, anak dianggap telah memiliki kosakata yang cukup untuk mengungkapkan hal yang dipikirkan dan dirasakannya. Mereka lebih mudah mengungkapkannya dalam bentuk  lisan dibandingkan tulisan. Pola bahasa yang digunakanpun masih merupakan tiruan pola bahasa orang dewasa. Ketika anak memasuki usia sekolah dasar, anak-anak akan terkondisikan untuk mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi. Kemampuan berbahasa anakpun mengalami perkembangan. Perkembangan bahasa anak berkembang seiring dengan perkembangan intelektual anak. Suatu kegiatan berpikir tidak dapat terjadi tanpa menggunakan bahasa. Vigatsky (Zuchdi dan Budiasih, 1996:5) menyatakan bahwa  bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Bahasa memiliki korelasi yang kuat dengan kegiatan berpikir. Oleh karena itu perkembangan bahasa memiliki keterkaitan dengan perkembangan intelektual anak. Piaget (Semiawan, 2002:50-51) menyatakan bahwa perkembangan intelektual anak  yang ditandai dengan perkembangan kognitif  ditandai dengan:
a) masa sensorimotorik (0 s/d kurang lebih 2 tahun),
b) masa pra-operasional  (kurang lebih 2  – 7 tahun) masa operasional konkrit (kurang lebih 7 sampai dengan 12 tahun),
c) masa abstrak (kurang lebih 17 tahun ke atas),
Berkaitan    dengan    perkembangan    bahasa,   pada   masa    sensorimotor, fase perkembangan bahasa yang dimasuki anak adalah fase fonologis. Pada masa ini anak-anak dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dan mulai mengoceh  hingga dapat mengucapkan kata-kata sederhana.
Pada periode pra-operasional, fase kebahasaan yang dimasuki anak adalah fase sintaktik. Anak memiliki kemampuan gramatik berupa berbicara dalam bentuk kalimat. Pada fase operasional, fase kebahasaan anak yang dimasuki adalah fase semantik. Dalam fase ini anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata.
2.3.2  PERKEMBANGAN PRAGMATIK
Perkembangan pragmatik merupakan fase paling penting dalam perkembangan bahasa anak pada usia sekolah. Pragmatik tidak lain adalah penggunaan bahasa. Pada masa usia sekolah, perkrmbangan pragmatik sangat memungkinkan bagi anak untuk menjadi komunikator yang lebih efektif karena kemampuan kognitifnya mengalami peningkatan. Anak-anak pada usia lima sampai dengan enam tahun memiliki kemampuan dalam menghasilkan cerita. Pada usia ini sebaiknya kemampuan bercerita anak diasah agar mereka dapat dengan leluasa mengungkapkan pikiran dan perasaannya yang terungkap dalam bentuk cerita. Cerita yang diungkapkan  masih kurang jelas karena plotnya yang tidak runtut. Pada umumnya cerita yang mereka hasilkan adalah cerita yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya lingkungan tempat mereka tinggal.
Pada saat anak-anak memasuki kelas dua sekolah dasar  diharapkan anak-anak dapat bercerita dengan menggunakan kalimat yang lebih panjang dengan menggunakan konjungsi:  dan, dan lalu, dan kata depan: di, ke, dan dari. Umumnya plot yang terdapat dalam cerita masih belum jelas. Pelatihan perlu dilakukan agar anak dapat mengungkapkan kejadian secara kronologis.
Pada saat anak memasuki usia tujuh tahun, anak dapat membuat cerita yang lebih teratur. Mereka dapat menyusun cerita dengan cara mengemukakan masalah, rencana pemecahan masalah, dan menyelesaikan masalah. Pada usia delapan tahun, mereka dapat menggunakan kalimat pembuka dan penutup cerita, misalnya dengan menggunakan “Pada suatu ….” dan di akhir cerita menggunakan “Akhirnya ….”. Selain itu anak sudah dapat menemukan tokoh yang dapat mengatasi masalah yang ada dalam cerita yang dibaca atau didengarnya.
2.3.3  PERKEMBANGAN MENULIS
Dalam perkembangan keterampilan menulis, biasanya akan dari melenturkan tangan dengan cara mengasah motorik halusnya bisa dengan menggambar bentuk lingkaran atau garis. Dilanjutkan dengan membentuk huruf-huruf.  Dalam tahapan pembelajaran menulis di sekolah, anak-anak mulai  menulis huruf yang dirangkaikan dengan huruf lainnya. Untuk memudahkan pengajaran menulis hendaknya, kata-kata yang dijadikan bahan tulisan merupakan kata-kata yang dikenal dan dipahami anak. Pengenalan huruf pada kata-kata yang dikenal anak akan memudahkan anak dalam mengenal huruf yang berbeda dalam melambangkan bunyi.
Anak-anak belajar menulis berkaitan dengan kebutuhan  membaca. Pada saat anak berusia enam tahun, anak kurang memperhatikan ejaan dan tanda baca. Hal ini merupakan suatu yang lazim terjadi. Anak-anak pada usia ini kurang memperhatikan pembaca. Pada saat mereka berusia delapan sampai sembilan tahun, mulai terjadi peubahan di mana mereka mulai memperhatikan reaksi pembaca. Karya tulisnya lebih baik dari pada usia sebelumnya. Pemilihan kata atau diksi, ejaan, gaya bahasa, alur cerita, keterkaitan setiap paragraf mulai diperhatikan.    
2.3.4  PERKEMBANGAN KOSAKATA ANAK
Perkembangan kosakata anak erat hubungannya dengan kegiatan membaca. Anak yang senang membaca akan memiliki jumlah kosakata yang banyak. Hal ini dapat dilihat dari cara anak tersebut mengungkapkan sesuatu secara lisan maupun tulisan. Membaca sebuah karya sastra dapat membangun dan meningkatkan jumlah kosakata pada setiap pembacanya.[3] Karya sastra dianggap potensial untuk menambah kosakata dibandingkan bacaan lainnya. Setiap orang yang membaca karya sastra harus memiliki kosakata yang memadai untuk memahami dan menikmati karya sastra tersebut. Hal ini diperkuat dengan manfaat dari karya sastra itu sendiri. Manfaat karya sastra adalah untuk memahami arti hidup dan kehidupan serta manusia dan kemanusiaan.
Penguasaan kosakata yang banyak dapat dilihat juga dari cara anak mengungkapkan pengalaman hidupnya. Segala hal yang diungkapkannya tersebut merupakan refleksi dari apa yang dia dapatkan oleh penginderaannya, misalnya saja ungkapan yang terkait dengan yang dilihat, didengar, dirasakan atau yang dibacanya.Kosakata yang digunakan dalam karya sastra anak biasanya berupa kata-kata imajinatif yang dapat merangsang daya imaji anak sehingga anak dapat menyerap kata tersebut dengan optimal.
       III.      SIMPULAN
Setelah menganalisis data-data yang mendukung artikel ini dan mendapatkan temuan-temuan empiris, maka  dapat ditarik beberapa simpulan. Simpulan yang diambil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut ini.
           Kemampuan guru dalam menggunakan media mendongeng ditunjang oleh kemampuan mendongeng guru. Guru mampu menggunakan media mendongeng dan juga mampu menyampaikan pesan dengan menarik. Materi yang disampaikan dapat terserap dengan optimal.
           Adanya pencerahan tentang media pendidikan bagi guru, khususnya bagi guru sekolah dasar, agar dapat memperbaharui atau memvariasikan model-model pembelajaran di dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Karena, pendidikan pada sekolah dasar merupakan hal yang paling penting, dari sekolah dasarlah dibentuk dasar-dasar berpikir siswa untuk kedepannya.
Perlu adanya sosialisasi pemanfaatan media mendongeng dalam pengajaran bahasa di sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Bunanta, M. 2004. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta: Pustaka Tangga.
Bunanta, M. 2006. “Anak dan Minat Budaya: Di Manakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita?”. Tersedia: hppt// www. Kongres.budpar.go.id/makalah//
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lembaga Pengembangan Insani. 2006. “Mendongeng, Membangun Karakter Anak Tercinta”. Tersedia: http://www.lpi-dd.net/artikel/dongeng/.
Rivai, A. 1978.  Apa dan Mengapa Media Pendidikan. Bandung: LPP BPP IKIP Bandung.
Rofi’uddin, A. Dkk. 1999. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdiknas.
Rusyana, Y. 1984.  Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV. Dipenogoro.
Tarigan, H. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.

[1] M. Buntana, Mendongeng dan Minat Membaca (Jakarta: Pustaka Tangga, 2004). hlm. 121-124.
[2] Ibid, hlm 123.
[3] H.Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra (Bandung: Penerbit Angkasa, 1984) hlm. 214.

Tidak ada komentar: